
Furnimart sukses menggarap pasar furnitur. Selain lantaran punya pabrik sendiri, dan pendeknya jalur distribusi menjadikan Furnimart semakin ekspansif. Apa saja upaya dibalik suksesannya?
Sepertinya outlet Furnimart—toko mebel milik Olympic semakin ekspansif saja. Buktinya, pada tahun ini, Furnimart sudah mampu membangun gerainya yang ke-104. Edukasinya pun semakin gencar, baik dengan beriklan di media massa, maupun membuat kegiatan below the line yang menyedot perhatian masyarakat.
“Konsep Furnimart adalah toko furnitur terlengkap untuk memenuhi kebutuhan rumah dari halaman depan, sampai bagian belakang. Dari perkakas ruang tamu, sampai kitchen set. Sesuai dengan tagline-nya, yakni home furniture chain store,” ujar Tri Liestiyono, Chief Marketing Officer PT Furnimart Mebelindo Sakti.
Di tahun 2008, Furnimart belum mengadakan heavy campaign. Furnimart masih sibuk melakukan pembangunan internal. Salah satunya dengan terus menambah jumlah outlet. Gerai pertama Furnimart berdiri di Bogor tahun 2005. Tapi, secara resmi Furnimart beroperasi pada tahun 2007.
“Lokasi selalu menjadi pertimbangan nomer satu. Strateginya mirip dengan minimart. Memperbanyak outlet menjadi bagian dari strategi toko yang tak jauh dari konsep fast moving consumer. Intinya, Furnimart memenuhi kebutuhan pelanggan di tempat mereka tinggal.
Target sampai semester II tahun ini, kita menambah 30 outlet baru,” tukasnya.
Selain itu, Furnimart juga melakukan kemitraan B to B untuk mendongkrak brand awareness di kalangan korporat. Termasuk dengan cara cobranding. Misalnya, dengan operator selular yang mempunyai database customer.
Sementara itu, aktivitas below the line dilakukan dengan menggelar acara-acara yang bersifat massal. Contohnya, Furnimart Expo. “Kita melibatkan pula komunitas anak muda dengan kontes dan parade anak band. Kita menggarap pasar teenager, sampai pasar dewasa. Sambutannya pun cukup antusias,” katanya.
Sampai sekarang, jaringan Furnimart belum masuk ke pusat perbelanjaan, seperti mal atau hypermart. Ini disesuaikan dengan target market dari Furnimart sendiri, yakni masyarakat kelas menengah.
Menurut Tri, Furnimart sebagai outlet mempunyai beberapa kekuatan. Salah satunya, Furnimart beroperasi di bawah payung grup Olympic—produsen furnitur yang sudah dikenal kalangan luas. Olympic Group menjadi pemimpin pasar furnitur knock down yang menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar furnitur knock down di Indonesia. Kekuatan ini terpancar pada harga yang lebih murah, dan kualitas terjamin lantaran rantai distribusinya yang pendek—langsung dari pabriknya.
“Kita langsung di-support dari pabrik, dan langsung bisa memasarkannya kepada end user. Inilah kekuatan Furnimart,” tandasnya.
Bagi Tri, sebuah gerai bukanlah sekadar tempat jualan. Baginya, gerai itu harus mempunyai roh. “Kita mendesain sedemikian rupa Furnimart agar identitas store-nya jelas. Demikian juga sisi interiornya. Tidak asal pasang. Di setiap gerai, kita usahakan ada visual display. Ini dimaksudkan untuk membantu pelanggan mencari produk yang tepat sesuai dengan kondisi ruangan di rumah mereka,” katanya.
Selain itu, pelanggan yang bertandang ke Furnimart juga mendapatkan konsultasi gratis. Tak jarang, pelanggan bingung memilih produk yang sesuai dengan kondisi rumah mereka. Para pramuniaga Furnimart siap mendampingi. “Di sini, kita tidak hanya jualan produk. Tapi, juga solusi,” imbuhnya.
Furnimart menyediakan benefit lain. Misalnya, free delivery khusus untuk jarak tertentu, gratis perakitan, dan kemudahan pembayaran seperti pembayaran dengan kartu kredit tanpa bunga. “Layanan kredit ini penting, karena segmen menengah dan sedikit ke bawah membutuhkan pola pembayaran macam ini. Kami pun menyediakan layanan purnajual buat mereka. Misalnya, produk spring bed mendapat garansi 10 tahun untuk per-nya. Bahkan, pembayaran bisa dilakukan di rumah saat barang tiba,” lanjutnya.
Kenyamanan gerai menjadi penting. Ini didukung dengan penataan produk yang tidak terlalu padat. Memberi ruang gerak bagi pelanggan untuk leluasa bergerak. Luasnya sekitar 400 meter persegi. Di setiap gerai, ada minimal 150 tipe produk yang dipajang. Selain itu, Furnimart juga mengadakan refreshing produk setiap 2-3 bulan sekali.
“Produk yang cukup berkontribusi akan tetap kita pajang. Sebaliknya, yang kurang kontribusinya akan kita ganti dengan produk baru. Stok produk kami cukup banyak. Furnimart merangkul para pelaku UKM untuk memasarkan produk-produknya ke gerai kami. Tentu saja dengan merek kami,” tegasnya.
Pada dasarnya, Furnimart tidak mau pelanggannya merasa dibohongi. Ada garansi harga dan kualitas terbaik di kelasnya. Selain itu, Furnimart juga memberikan gimmick, seperti voucher belanja, diskon, maupun bonus pembelian. Termasuk program-program khusus di hari raya, seperti Ramadhan Sale, Natal, dan sebagainya.
“Semua ini demi kenyamanan pelanggan kami. Jenis produk bisa customized, kalau konteks B to B—pesanan korporat. Tentu harus ada jumlah minimumnya,” katanya.
Setiap ada produk baru, Furnimart wajib melakukan launching produk. Produk baru harus segera dikomunikasikan kepada pelanggan. “Produk kita terkait dengan gaya hidup orang sekarang. Didukung dengan desain yang mengusung permainan warna dan teknologi mutakhir. Ini juga menjadi bagian strategi menyikapi plagiat. Belakangan ini, sudah ada sekitar 100 produk baru yang sudah kita launching. Minimal ada 5o produk dalam sekali launching,” katanya.
Dari total jumlah gerai Furnimart, ada 50 gerai yang dikelola dengan sistem waralaba. Biaya waralaba (franchise fee) sekitar Rp 100 juta. “Untuk bisnis furnitur, mungkin ini yang paling terjangkau,” katanya.
Tri optimistis Furnimart akan terus maju. Apalagi kompetitor langsung boleh dibilang belum ada. “Target pada semester dua tahun ini, kita akan menggenjot sales dua kali lipat dari semester I. Termasuk pembukaan toko-toko baru. Furnimart optimistis meraihnya,” tandasnya.
Menurut pengamat pemasaran Yadhi Budi Setiawan, strategi Furnimart dalam memilih lokasi sudah tepat. Termasuk dalam membidik segmen pasar menengah bawah dengan mengusung kualitas dan harga terjangkau. “Selain kualitas, desain tetap menjadi kunci. Akan lebih baik lagi bila Furnimart juga menyediakan produk komplemen perabot rumah tangga lainnya. Furnimart akan menjadi toko untuk one stop shopping,” katanya.
Selain itu, Yadhi mengingatkan agar edukasi soal pentingnya perabot terus dilakukan. Pasalnya, menurut Yadhi, sekitar 60 persen keluarga menengah kurang peduli dengan perabot rumah mereka. “Mereka lebih menonjolkan hal-hal di luar rumah mereka. Ini menjadi peluang edukasi bagi Furnimart,” tandasnya.
Sigit Kurniawan

