Di kalangan insan penerbangan dikenal sebuah anekdot yang berbunyi: “How to make a millionaire? It’s easy, just find a billionaire and get him/her run an airline!”. Anekdot ini adalah parodi tentang ambivalensi bisnis airline yang berlaku universal. Di satu pihak, bidang usaha ini begitu menggiurkan bagaikan manisnya madu, tapi resiko kerugiannya begitu menakutkan bagaikan racun yang mematikan.
Dinamika pasar angkutan udara komersial memang selalu ditandai oleh kasus-kasus kebangkrutan maskapai penerbangan, munculnya pemain-pemain baru, serta bertahannya legacy airlines. Di Indonesia, Megantara Air dan Linus Airways baru saja ‘’tutup-buku’. Sebagian besar dari airline domestik adalah pemain-pemain baru yang berusia kurang dari 10 tahun. Di dunia kita mengenal banyak legacy airlines yang bertahan hampir seabad lamanya, sejak pasca Perang Dunia I, seperti Air France-KLM, Lufthansa, Qantas dan lain-lain. Dalam hal kinerja bisnis, ada dua ikon kelas dunia yaitu Singapore Airlines (SQ) dan South West Airlines (WN) dari Amerika Serikat yang berjaya sejak dekade 1970-an. Dengan karakter bisnis yang padat modal, padat teknologi, padat informasi dan padat karya, hampir tidak mungkin bagi sebuah airline untuk mencapai sukses hanya bermodal ‘hokie’.
SQ dan WN adalah lambang keberhasilan dua maskapai penerbangan kelas dunia yang membidik pasarnya pada dua kutub yang berlawanan. SQ menawarkan brand product dalam bentuk layanan penuh kepada prime customer, sedangkan WN menjual komoditi no frill kepada pelanggan umum. SQ mematok harga mahal untuk mendapatkan yield (revenue per unit produksi) yang tinggi, sedangkan WN memasang harga rendah untuk mengejar volume yang besar. SQ menjual high class product tanpa melalui proses yang high cost, sementara WN menawarkan harga low fares untuk produk yang tidak low class. Kunci sukses ke dua maskapai ini adalah penggabungan dari tiga strategi pokok yang sama yaitu, pola operasi yang efisien, pendaya-gunaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, dan kebijakan pemasaran yang efektif.
Secara a contrario dapat dikatakan bahwa banyak airline yang bangkrut karena gagal menerapkan ke tiga strategi pokok ini. Dari segi marketing, banyak airline yang hanya menjalankan strategi harga dan promosi. Untuk menekan biaya, mereka gagal untuk menekan unit cost secara efektif. Mereka banyak “terjebak” dalam usaha-usaha penekanan biaya yang tidak komprehensif. Sebagian ada yang mengurangi biaya promosi, gaji pegawai, bahkan ada yang nekat memotong biaya perawatan pesawat, yang beresiko terhadap keselamatan penerbangan. Untuk memulai bisnis, airline bisa saja beroperasi dengan hanya sebuah pesawat terbang. Harga beli atau sewa pesawat bekas memang relatif murah. Tapi biaya operasi/variabel sebuah pesawat bekas seperti biaya perawatan dan fuel lebih besar daripada pesawat baru. Pesawat jenis Boeing B737 atau Airbus A320 dengan kapasitas sekitar 150 tempat duduk, baik baru maupun bekas bisa memberi dampak economies of scale bila dimiliki paling sedikit tujuh buah pesawat dari jenis yang sama. Biaya-biaya operasi/tetap seperti stok suku-cadang, peralatan pendukung di darat, gaji dan biaya pelatihan para teknisi dan awak pesawat akan sama besarnya bila kita memiliki satu atau tujuh buah pesawat sejenis. Artinya, maskapai yang beroperasi dengan hanya satu buah pesawat menanggung beban unit cost yang lebih besar daripada airline yang memiliki tujuh, atau lebih pesawat yang sejenis. Unit cost hanya bisa ditekan bila economies of scale didapat secara efektif melalui komposisi armada, pola operasi pesawat dan pengembangan rute yang efisien.
Di luar awak pesawat dan teknisi, banyak maskapai yang abai terhadap faktor SDM. Mereka lupa bahwa industri airline adalah people based service industry. Pesawat yang paling mutakhir atau sistem yang paling canggih sekalipun bisa dibeli dengan mudah bila kita punya uang. Tapi kompetensi SDM harus dibina secara profesional. Pelayanan yang memuaskan pelanggan serta ketepatan waktu atas jadwal penerbangan adalah manifestasi dari pembinaan kompetensi SDM yang efektif. Di bandara Cengkareng dulu ada petugas check-in dari sebuah maskapai domestik yang mengeroyok penumpangnya. Di Palembang, staf kargo sebuah maskapai yang lain memukuli anggota group band terkenal dari ibukota. Di dalam bukunya Momen of Truth, Jan Carlzon sebagai CEO Scandinavian Airlines System (SAS) menulis bahwa karyawan cenderung memperlakukan para pelanggan, sebagaimana mereka diperlakukan oleh perusahaan di tempat mereka bekerja. Apa benar ada maskapai domestik yang membina karyawannya dengan cara kekerasan fisik?
Apapun masalahnya, sampai kapanpun bisnis airline akan tetap selalu menarik bagaikan madu, namun juga menakutkan bagaikan racun. Disini pelaku bisnis ditantang untuk pandai-pandai melakukan efisiensi operasional, membina kompetensi SDM dan menjalankan kebijakan pemasaran yang efektif.
Bachrul Hakim


Satu hal yang paling menjengkelkan dari perusahaan penerbangan adalah brutaknya penetapan harga. Harga dapat berubah-ubah setiap saat. Katanya tergantung hight or low season. Cobalah anda tetapkan harga standar, konsumen anda akan setia setiap saat untuk memilih maskapai anda dengan setia. Karena, mereka percaya bahwa anda berlaku fair setiap saat.
setuju banget , tapi sepertinya itu tidak pernah terwujud karena permainan dalam bisnis airline sangatlah kompetitif sehingga mau tidak mau semuanya ikut menerapkan aturan main yang sama, terkecuali kalo ada aturan yang mengikat dan tidak memperbolehkan harga berubah-ubah.hmm