Produsen elektronik bersiap menyambut datangnya era digitalisasi televisi. Ada dua opsi yang bisa dipilih oleh para produsen: menjual TV digital atau set up box-nya.
Angin perubahan menuju teknologi digital semakin kuat di dunia pertelevisian. Meski dalam penerapan kelihatannya mundur dari rencana awal, namun sepertinya tidak membuat pemain-pemain elektronik kendor dalam meluncurkan televisi digital.
Sebelum masuk pada bisnis televisi digital, ada baiknya kita melihat dulu proses digitalisasi ini. Pergantian dari sistem analog ke digital dimulai di Amerika. Namun, di negara itu, penerapannya melenceng dari waktu yang ditetapkan. Hal ini juga berpengaruh ke Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Targetnya, di negara kita pada tahun 2014 semua sudah terdigitalisasi. Tapi, ketika dilakukan uji coba di wilayah Jabodetabek, hanya wilayah Jakarta saja yang bisa menangkap. Empat wilayah lainnya belum bisa menangkap siaran TV digital.
Meski mundur, program ini akan jalan terus. Mengingat kualitas gambar yang diterima TV digital jauh lebih baik daripada televisi analog, dan melihat dari efisiensi frekuensi juga semakin tinggi. Satu kanal frekuensi yang sekarang ini hanya bisa digunakan satu program. Nantinya dengan digital satu kanal frekuensi bisa dipakai untuk banyak program.
Artinya, akan bisa menampung banyak perusahaan baru yang bergerak di bidang penyelenggaraan televisi digital. Atau, akan banyak bisnis baru yang berbasis digital, termasuk televisi digital dan set up box–sebuah alat yang disambungkan pada TV analog untuk menerima siaran digital.
Beberapa produsen elektronik terkemuka mulai menyiapkan produk andalan. Salah satunya adalah PT Hartono Istana Teknologi–produsen elektronik dengan merek Polytron–yang meluncurkan Dignity, televisi dengan sistem penerimaan digital. Peluncurannya dilakukan sekitar bulan Juni lalu.
“Kami tetap optimis bahwa digitalisasi ini akan berjalan meski terjadi kemunduran. Seperti kita tahu, pemerintah menetapkan sampai bulan Desember proses uji cobanya. Hingga sekarang, memang belum semua stasiun televisi telah melakukan siaran digital. Tapi, itu hanya masalah waktu. Kami sudah menyiapkan produk yang bisa menangkap siaran digital,” kata H. Santo Kadarusman, Public Relations & Marketing Event Manager Polytron.
Santo menjelaskan bahwa Dignity merupakan televisi jenis 2 in 1. Artinya, dapat menerima siaran analog maupun digital. Teknologi televisi seperti ini diklaim Polytron sebagai yang pertama di Indonesia. Bahkan, Polytron mengaku bahwa produk ini merupakan televisi digital pertama di Indonesia yang disiapkan untuk menerima siaran televisi digital, yang resmi diuji coba di kawasan Jabotabek 20 Mei silam.
Pernyataan Santo memang ada benarnya. Untuk televisi digital tabung, Polytron adalah produsen pertama di negara ini yang meluncurkan produknya. Sedangkan untuk jenis LCD, merek LG merupakan yang pertama kali memasarkan model digital.
Baik televisi tabung ataupun LCD, keduanya memiliki pasar yang potensial. Sehingga, bila nantinya terjadi migrasi ke TV digital, semua ceruk ini akan menangguk keuntungan. “Kalau mengacu pada pertumbuhan televisi yang sekitar 20 persen per tahun, sedangkan khusus LCD TV pertumbuhannya di atas 30 persen per tahun, bisa digambarkan pasar TV digital nantinya,” jelas Santo.
Santo juga sudah memprediksi bahwa nantinya pemain lain mau tidak mau pasti akan masuk ke TV digital. Namun, berbekal pengalaman sebagai pemain pertama yang masuk ke ranah digital, Polytron yakin akan tetap memenangi pertarungan. Terlebih lagi, selain memiliki produk TV digital, produsen elektronik asli Indonesia ini juga memiliki produk set up box sebagai penerima siaran digital. Bisa dipastkan bahwa Polytron barulah satu-satunya pabrik yang memproduksi set up box ini. Namun, ke depan akan ada beberapa merek yang segera masuk ke pasar set up box, salah satunya merek Akari. Selain itu, set up box impor juga akan berdatangan ke Indonesia.
Set up box ini juga merupakan potensi bisnis yang sangat besar nantinya, karena masyarakat yang belum berganti ke TV digital bisa membeli set up box. Diperkirakan jumlahnya akan besar, mengingat harga TV digital lebih mahal antara Rp 150–200 ribu dibanding TV analog. Sedangkan harga set up box keluaran Polytron di pasaran sekitar Rp 400-an ribu. Sekarang ini, set up box baru dijual di wilayah Jabodetabek saja, karena baru wilayah ini yang dijadikan uji coba.
Beda dengan set up box , penjualan Dignity sudah merambah ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Produk ini tersedia dalam ukuran 29 inch dengan harga Rp 2,8 juta dan 21 inch dengan harga sekitar Rp 1,7 juta. Dignity dilengkapi dua tuner berbeda, yakni untuk siaran analog dan digital. Ukuran yang beredar di masyarakat sekarang ini adalah 21 inch dan 29 inch. “Respon masyarakat terhadap TV digital cukup bagus. Rata-rata penjualan per bulan tercatat 1000 unit,” tambah Santo.
Sekalipun pasar televisi tabung masih besar, LG memilih meluncurkan produk digital jenis LCD TV. Produk yang dirilis pada bulan Juni ini berseri LG LH70YD. Peluncuran produk tersebut diklaim LG sebagai produk TV digital pertama di Indonesia. LG LHY70YD hadir dengan dua ukuran, yaitu 47 inch dan 55 inch. Untuk soal harga, LG telah mematok Rp 25 juta untuk ukuran 47 inch dan Rp 45 juta untuk ukuran 55 inch.
Meski masih menunggu kepastian dari pemerintah, Polytron dan LG tidak menunggu lagi untuk mempromosikan produk digital masing-masing. Karena, tren digitalisasi pertelevisian sudah di depan mata. Prinsipnya adalah, siapa cepat dia dapat. (Majalah MARKETING/Ign. Eko Adiwaluyo)


jadi semakin seru kalo liat sinetron neh