Bisnis kesehatan seksual kaum pria memiliki potensi besar di negara ini. Tapi, terhambat oleh karakter konsumen kita yang masih belum terbuka. Bagaimana On Clinic bisa mengakalinya?
Seberapa penting keharmonisan keluarga bagi Anda? Tentu saja, sebagian besar orang akan menempatkannya di urutan paling atas. Bahkan, untuk mencapai suasana keluarga yang harmonis, pasangan suami istri akan rela mengusahakannya dengan berbagai cara.
Tak heran bila kemudian muncul banyak klinik-klinik jasa konsultasi yang menawarkan solusi problematik dalam keluarga. Walaupun menggunakan nama konsultasi keluarga, pada praktiknya sebagian besar jasa konsultasi itu fokus ke permasalahan yang dialami oleh pria saja. Sebagai misal adalah disfungsi ereksi serta ejakulasi dini.
Menurut survei di berbagai negara, disfungsi seksual banyak dialami oleh para pria dewasa. Sekitar 10 persen pria dewasa terserang disfungsi ereksi oleh berbagai sebab, sedangkan khusus ejakulasi dini dialami oleh 35 persen pria dewasa. Artinya, kalau mengacu pada jumlah penduduk pria dewasa di negara ini, tentulah menjadi sebuah peluang bisnis yang berpotensi besar.
“Masalahnya, karakter orang yang memiliki gangguan seksual cenderung malu mengakuinya dan lebih parah lagi, malu untuk berobat. Beda dengan bisnis kecantikan, bisnis yang kami jalani ini banyak manfaatnya, tapi tidak bisa dinikmati secara visual dan malu kalau berobat. Takutnya, pas berobat ketahuan sama orang lain,” kata Rahmat Simbolon, Operation Manager On Clinic Indonesia.
Bisnis yang lebih nyaman menggunakan kata penghalus ‘keharmonisan keluarga’ sudah tumbuh sejak dua–tiga dekade yang lalu. Tapi, baru mulai tampak menggeliat sejak tahun 1990-an. Pemain-pemain di bisnis ini datang dan pergi, sedikit yang bertahan lama atau berkembang. Bahkan, yang mengusung nama-nama terkenal sebagai ahli seksologi sekalipun bukan jaminan akan laris. Sebab utamanya, kembali lagi ke karakter konsumen dan kemampuan modal. Selain On Clinic, beberapa yang pernah terdengar di bisnis ini adalah Harmoni Keluarga, Klinik Pasutri Dr. Boyke, Klinik Grasia, dan lainnya.
Boleh dibilang di antara para pemain, On Clinic yang paling lama bertahan dan tumbuh bisnisnya. Dibuka pertama kali di Indonesia pada 26 Mei 1996, sekarang On Clinic sudah menjadi leader dengan 17 cabang di berbagai kota di Indonesia, yang 4 di antaranya terdapat di Jakarta.
On Clinic merupakan jaringan bisnis kesehatan pria internasional yang berpusat di Australia. Perusahaannya adalah Advance Medical Institute, tapi berada di bawah payung On Clinic International. On Clinic International memiliki cabang di 54 negara. Indonesia merupakan negara ke-15 yang dimasuki pada saat itu.
Pilihan masuk ke Indonesia dilakukan sebagai langkah untuk mendekatkan diri dengan pasar. Menurut catatan On Clinic di Australia, setelah warga negeri Kangguru, urutan kedua terbanyak pasien yang berobat adalah Indonesia. “Jadi, orang kita menyembuhkan gangguan seksualnya harus pergi ke Australia. Biar tidak ketahuan, tapi dengan begitu biaya semakin besar,” jelas Rahmat.
Call Center dan Privacy
Ketika baru dibuka, pengunjung masih belum terlalu banyak. Kendati demikian, pada dasarnya sambutan masyarakat cukup bagus karena banyak pula yang senang sebab tak perlu ke Australia. Namun, On Clinic Indonesia belum sempat tumbuh akibat terjadinya krisis ekonomi 1997.
Baru setelah tahun 2000-an, On Clinic mulai bertumbuh dan mengembangkan cabang di mana-mana, dengan menyasar segmen menengah ke atas—walaupun tetap melayani siapa pun yang datang. Mereka menyasar segmen ini karena melihat harga obat yang memang relatif mahal. Di sisi lain, segmen menengah ke atas paling tebal jumlahnya di antara yang lain.
Supaya pasien dapat sembuh total, rata-rata biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 5 juta. Bisa juga kurang atau lebih, tergantung kondisi saat datang, umur pasien, dan penyakit lain yang diidap pasien. “Kalau umur sudah di atas 50 tahun dan mengidap diabetes jelas lebih mahal bila dibanding yang masih 30 tahun dan tidak ada gejala diabetes,” terang Rahmat.
Namun begitu, meski sudah beroperasi di negara ini selama 13 tahun, On Clinic baru meraih sekitar 120 ribu pasien. Jelas, sangat kecil bila dibandingkan dengan potensi pasar di Indonesia. Sebenarnya, sistem yang diterapkan oleh On Clinic membuat pasien yang datang tidak bisa melihat pasien lainnya.
Di sinilah letak penting call center yang digunakan sebagai sarana berhubungan dengan pasien. Setiap pasien yang akan datang harus menghubungi call center terlebih dahulu. Oleh petugas operator, pasien akan diberi jadwal kunjungan. “Semua diatur lewat telepon, tidak ada pasien yang datang untuk mendaftar, karena di semua brosur hanya dicantumkan nomor telepon. Tidak ada alamat,” katanya.
Sejak awal On Clinic call center ini sudah ada karena merupakan satu-satunya jalan menuju tempat pengobatan. On Clinic melayani semua pasien di seluruh Indonesia dengan pulsa lokal, sehingga tidak memberatkan pasien. Mereka menginvestasikan sekitar Rp 1 miliar untuk call center ini. Total operator yang menjaga sekitar 25 orang.
Setelah menghubungi call center On Clinic dan menyetujui jadwal pengobatan, pasien akan diberi alamat klinik terdekat dengan lokasi pasien. Setelah sampai di klinik, setiap pasien diberi ruang tunggu tersendiri. On Clinic tidak membuat ruang tunggu massal atau untuk beramai-ramai. Dengan begitu, pasien yang selesai pengobatan dan yang baru akan mulai tidak bisa saling berpapasan atau melihat satu sama lain.
Meski sudah melakukan semua usaha untuk menjaga privacy pasien, Rahmat mengaku bahwa jumlah pasien masih kecil bila dibanding perkiraan potensi pasar. Bahkan, kalau pasien masih belum yakin pada kerahasiaan, On Clinic juga menyediakan dokter yang datang ke rumah.
Selain menekankan pada terjaganya kerahasiaan pasien, tentu saja On Clinic juga memiliki kekuatan lain, yaitu dalam pengobatan itu sendiri. Sekarang ini, On Clinic telah memiliki metode penyembuhan terbaru yang belum banyak diterapkan oleh pemain lainnya, yaitu dengan Nasal Spray yang disemprotkan melalui hidung.
Bisa dibilang pasien sudah tidak perlu ragu kalau ingin berobat. Tapi, kenapa angkanya masih sedikit? Tingkat kunjungan On Clinic gabungan dari seluruh cabang, antara 500-700 orang per bulan. Apakah On Clinic kurang berpromosi? Rahmat menjawab bahwa upaya promosi yang lebih mengedukasi sudah dilakukan semaksimal mungkin. Alokasi biaya untuk kebutuhan ini setiap bulannya antara Rp 400-700 juta.
Upaya promosi dilakukan lewat berbagai media, antara lain dengan soft promo lewat artikel-arlikel kesehatan di media cetak, iklan televisi, dan juga seminar-seminar. Kegiatan promo On Clinic lebih kental nuasa edukasinya dibanding jualannya. “Karena ya, itu tadi, tidak ada yang mengakui bila mengalami disfungsi seksual. Sehingga, perlu edukasi yang mencegah disfungsi seksual, serta mendorong supaya tidak malu berobat bila mengalaminya,” kata Rahmat. (Majalah MARKETING/Ign. Eko Adiwaluyo)


pak bagaimana cara kerja PROCOMIL SPRAY? efek sampingnya?dan obat aslinya ada dimana?
pak, apabila saya semprotkan on spray kehidung saya,hidung saya jadi tersumbat susah nafas melalui hidung , apakah ada cara lain seperti disuntik atau lainnya, dan berapa hargam
nya , mohon info , Terima Kasih