Saat banyak perusahaan masih berdebat mengenai kemampuan ponsel sebagai media promosi, Admob tampil sebagai pionir dalam pasar WAP off deck. Kesuksesan besar pun dicapai. Hanya dalam tempo dua tahun perusahaan ini berhasil meraih keuntungan jutaan dolar.
Usia perusahaan ini masih terbilang muda. Mengikuti jejak kesuksesan Google, AdMob pun berdiri pada April 2006 dan langsung menjadi marketplace mobile advertising terbesar di dunia. Perusahaan ini memfokuskan diri pada optimalisasi pasar WAP off-deck.
Apakah model off deck yang mampu menempatkan AdMob sebagai pemain nomor satu dalam industri ini? Model off deck merupakan sebuah model dimana layanan tidak diberikan maupun diakses melalui operator. Dengan model ini, para pengiklan tidak perlu berhubungan langsung dengan operator selular, cukup melalui “agensi” seperti halnya AdMob. Agensi inilah yang nantinya akan mengatur pemasangan iklan dengan para pemilik situs maupun content provider.
Ketika para operator selular masih berusaha melakukan ini, AdMob mampu melakukannya dalam hitungan bulan dengan meraih berbagai momentum yang cukup mengejutkan. Setahun setelah resmi berdiri mereka telah berhasil berhasil meraih billing iklan sebesar 1 miliar dolar AS. Ketika industri periklanan masih sibuk berdebat, AdMob yang saat itu terbilang masih sangat baru berhasil membuktikan keampuhan mobile advertising.
Apa yang sebenarnya dilakukan oleh AdMob? Perusahaan ini memungkinkan para pengiklan menjangkau calon konsumen mereka melalui mobile web. Pada saat yang bersamaan, AdMob juga membuat para pemilik situs dan content provider dapat meningkatkan nilai situs mereka. AdMob menawarkan, baik kepada pengiklan maupun pemilik situs sebuah promosi personal yang menyasar langsung calon konsumen di 165 negara. Sebuah penawaran yang sangat menggiurkan.
AdMob sebagai agensi mobile advertising mempertemukan pembeli dan penjual dalam iklan mobile. Para pemilik situs akan menyediakan beberapa kode di halaman web page mereka. Sementara AdMob akan menyajikan iklan pay-per-click langsung pada para penggunanya.
AdMob memberlakukan sistem bagi hasil untuk ini. Bagi pemilik situs, Perusahaan yang dipimpin menawarkan pembagian keuntungan dengan persentase 75:25, sementara bagi partner ad source (undedicated partner) – persentase yang berlaku 60:40. Sistem bagi hasil ini tentunya sangat menguntungkan baik bagi pemilik situs maupun partner ad source. Apalagi AdMob juga menawarkan iklan pay-per-click yang berkualitas pada mobile web yang memiliki traffic sangat tinggi.
Mesin personalisasi yang dimiliki juga memungkinkan iklan yang ditampilkan cukup personal bagi calon konsumen, setidaknya sesuai dengan device yang dimiliki. Dengan begitu kemungkinan mereka meng-klik iklan yang ditampilkan akan lebih besar. Iklan yang ditampilkan tersambung pada link yang akan membawa pengunjung ke kanal tertentu. Bisa ke kanal khusus dalam situs itu berisi informasi tentang produk yang diiklankan atau membawa mereka ke situs AdMob yang berisi keterangan produk dan layanan yang diiklankan.
Kunci kesuksesan AdMob sebenarnya adalah model off deck yang mereka tawarkan. Perusahaan-perusahaan besar seperti Coca Cola dan Adidas menginginkan promosi berskala global. Hal ini dapat dengan mudah tercapai dengan model off deck ketimbang on deck meski model on deck dapat menampilkan iklan yang lebih personal.
Salah satu perusahaan yang mencicipi manisnya mobile advertising model off deck yang dipersembahkan AdMob adalah Coca Cola. Saat itu Coca Cola ingin memperluas jangkauan web video-nya melalui iklan mobile global. Tujuannya untuk meraih konsumen dengan menawarkan entertainment melalui ponsel mereka.
Kampanye ini juga memiliki komponen viral yang sangat kuat. Konsumen dapat dengan mudah berbagi video ini dengan teman-temannya. Kampanye inipun menggunakan platform AdMob dengan menyasar target ponsel yang mampu memutar video. Iklan teks dan banner juga ditempatkan pada ponsel-ponsel tersebut. Konsumen yang merespon dengan meng-klik iklan tersebut akan dibawa menuju landing page Coca Cola.
Di sana mereka dapat melihat salah satu dari video pendek Bottle Film. Sebenarnya video-video ini sudah pernah digunakan pada iklan online Coca Cola sebelumnya. Namun, ini adalah kali pertama video tersebut dapat diakses melalui ponsel.
Para konsumen dapat mengunduh video tersebut dan menyimpannya dalam ponsel untuk diputar kembali tanpa terkena tambahan biaya. Hal yang membuat kampanye ini lebih dasyat lagi, video tersebut juga dapat dikirimkan melalui MMS, sehingga penyebarannya akan semakin luas.
Menurut catatan AdMob, Coca Cola berhasil menarik pengunjung dari 125 negara dengan CTR (Click Through Rate) sebesar 1,3 persen dan 130 persen untuk rasio plays to clicks. CTR sendiri merupakan metode pengukuran standar yang digunakan dalam iklan online. CTR dihitung berdasarkan jumlah pengguna yang meng-klik dibandingkan dengan jumlah pengiriman banner. Hasil yang diperoleh dari kampanye Coca Cola bisa dibilang cukup sukses. Suatu hal yang nyaris tidak mungkin diperoleh bila menggunakan model on deck.
Kesuksesan demi kesuksesan diraih oleh AdMob. Saat ini perusahaan yang berkedudukan di San Mateo, California ini menjadi pemain nomor satu dalam off deck mobile advertising dengan menangani lebih dari empat miliar iklan banner dan teks setiap bulannya. Diperkirakan, setiap bulannya AdMob memperoleh revenue sebenar 2,2 juta dolar AS hanya dari market Amerika Serikat saja. Pada tahun 2007 diperkirakan AdMob memperoleh penghasilan sebesar 42 juta dolar.
Tak mengherankan bila AdMob dinobatkan sebagai Technology Pioneer tahun 2008 oleh World Economic Forum, salah satu dari Companies to Watch tahun 2008 versi Wired.Com, dan Best Mobile Infrastucture Company versi VentureBeat. Kesuksesan AdMob menginspirasi banyak perusahaan untuk menjajal ceruk pasar ini. Sebut saja Medio Systems dan Millenial Media.(Sekar Ayu)
