Portal Lengkap Dunia Marketing

Dunia UKM

Adi Pramudya, Sukses Dengan Bisnis yang Tak Dilirik Anak Muda

User comments

Adi Pramudia bersama para petani

Kegagalan demi kegagalan dalam berwirausaha tak membuat Adi Pramudya patah semangat. Sampai akhirnya anak muda ini membangun kesuksesan lewat bidang bisnis yang tak banyak dilirik anak muda.

Berbisnis sudah menjadi dunianya sejak berusia 17 tahun. Meskipun Adi mendapatkan beasiswa dari salah satu kampus ternama di Bandung, namun ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta ikut sang abang memulai usaha dan kuliah.

“Saat itu abang saya melihat peluang menjadi pegawai tuh sulit karena ada sistem outsourcing. Nah abang saya melihat peluangnya tuh berwirausaha. Jadi, saya mulai tertarik usaha saat itu,” kata Adi yang ditemui Marketingcoid di salah satu mal di Jakarta.

Adi mengakui bahwa latar belakang kedua orang tuanya sebagai pedagang memberikannya pengaruh dan bekal mental seorang pengusaha. “Dari SD saya sudah bantuin mereka. Dari nimbang beras, nimbang kemiri. Jadi, basic itu ada di saya, makanya saya bersyukur banget,” ujarnya

Meski begitu, keputusannya menjadi seorang pengusaha kala itu bukan tanpa penolakan dari keluarga. Sang ibu pada awalnya tak setuju anaknya menjadi pengusaha. Hal tersebut dianggap wajar oleh Adi. Namun, Adi tetap pada pendiriannya dan membuktikan bahwa menjadi pengusaha memiliki masa depan cerah.

Pada tahun 2010 Adi mulai berbisnis. Bisnis pertamanya adalah pisang coklat yang cukup sukses memiliki empat gerai. Kuliah dan bisnis dilakoninya saat itu. Dari bisnisnya tersebut pria asal Pati, Jawa Tengah ini mampu membayar uang kuliahnya.

Namun, seiring waktu terjadi masalah internal dalam bisnisnya. Adi harus menelan pil pahit bisnis pisang coklatnya gulung tikar. Tak menyerah, Adi mencoba bisnis kuliner lainnya dan harus kecewa dengan kegagalannya lagi.

Merasa terpukul dengan kegagalan-kegagalannya, Adi berhenti berwirausaha selama tiga bulan. Sampai akhirnya ia menemukan peluang bisnis di bidang pertanian.

Dulang sukses dengan bisnis pertanian

User comments

Bagi sebagian besar anak muda, pertanian bukan bisnis seksi yang layak dilirik. Fakta tersebut justru dilihat Adi sebagai sebuah peluang besar. Apa lagi Indonesia pada dasarnya adalah negara agraris yang tanahnya subur dengan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.

Terjun ke bisnis pertanian untuk pertama kalinya, Adi memilih berbisnis komoditas singkong. Sarjana teknik industri ini memang tak tahu menahu tentang pertanian pada awalnya. Dengan tekad dan niat, ia belajar langsung budidaya singkong kepada petaninya selama tujuh bulan.

“Bisnis pertanian tuh kalau bisa belajar sama gurunya pertanian, yaitu ya petaninya. Jangan belajar dari buku karena buku dibikin kan supaya laku. Kalau buku nyeritain rugi siapa yang mau beli,” ujarnya sambil berkelakar.

Diakuinya rasa takut gagal kerap muncul saat itu. Tapi, lantaran sudah mengalami beberapa kegagalan besar sebelumnya, Adi merasa tak mengapa apabila mengalaminya lagi. Baginya kegagalan adalah ketika ia berhenti mencoba. Kegagalan-kegagalan sebelumnya dijadikannya sebuah pelajaran berharga. “Jangan menyerah sebelum mencoba karena semua indah pada waktunya,” katanya lagi.

Usahanya tak sia-sia, ia mendulang untung besar pada panen pertama dan seterusnya. Pada tahun kedua bisnisnya berjalan, ia memperluas lahan budidaya singkongnya dari setengah hektare menjadi dua hektare. Sayangnya, pada panen kedua harga singkong mengalami anjlok meskipun Adi tak sampai mengalami kerugian.

Singkat cerita, saat itu ia melihat peluang yang lebih menggiurkan dengan berbisnis rempah. “Waktu itu lihat petani nanem lengkuas. Dia cuma nanem 1.000 meter, tapi bisa menghasilkan uang Rp 5 juta sekali panen. Modal sejuta, berarti untung Rp 4 juta. Untungnya 400%. Akhirnya saya belajar dari dia,” ceritanya.

Awal tahun 2013 Adi pun memutuskan untuk beralih ke komoditas lengkuas. Uang dari bisnis singkong, ia alihkan untuk modal berbisnis komoditas bumbu dapur tersebut. Dengan modal 40 juta untuk satu hektare lahan lengkuas, Adi bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 90 juta tiap kali panen.

Sejak saat itu perusahaannya, C.V. Anugrah Adi Jaya terus berkembang. Kini, tak hanya lengkuas saja, beberapa komoditas rempah lainnya sudah ditanamnya.

Jatuh bangun yang membuahkan hasil

Menjadi pengusaha muda yang sukses bukanlah jalan yang mudah bagi Adi Pramudya. Pada akhirnya, jatuh bangun dan usahanya membuahkan hasil. Ia pun berpesan kepada anak-anak muda yang ingin berbisnis bahwa penting untuk bermimpi, berkomitmen, fokus dan tak menyerah.

“Bagi anak-anak muda hal yang penting tuh komitmen. Banyak anak muda yang ingin usaha tapi ga punya komitmen. Contohnya aja banyak yang berpindah-pindah usaha. Kalau kita pindah-pindah nih, kita belajar dari nol lagi,” ujarnya.

“Hal yang sangat penting lagi… orang kan bilangnya kerja keras, kalau menurut saya kita harus kerja cerdas. Kalau kita kerja cerdas, kita ga harus kerja keras terus. Hal penting berikutnya adalah fokus. Memang kalau kuliah sambil berusaha, pasti ada yang nggak maksimal. Itu sudah hukum alam karena itu harus ada yang dikorbankan,” lanjutnya.

Bagi Adi bisnis yang digelutinya ini tak hanya memberikan profit finansial bagi dirinya, tapi juga memberikan kontribusi bagi lingkungan sosialnya karena itulah ia mencintai bisnis ini. “Ada buruh tani yang udah berumur 60 tahun bekerja di tempat saya bilang ‘kami sangat berterima kasih Bapak sudah datang ke sini’. Hal yang membuat saya terharu adalah dia setiap malam berdoa untuk saya. Dari situ saya benar-benar mencintai bisnis ini”, ujarnya.

Kini komoditas rempah-rempahnya sudah mencapai benua Eropa. Ke depannya, Adi berencana untuk memperluas pasar ekspornya. Selain bisnisnya yang kini beromzet ratusan juta rupiah, ia juga mendapatkan penghargaan Wirausaha Muda Berprestasi pada tahun 2014 dari Kemenpora. (Putri Sekar/CS)

2 Comments

2 Comments

  1. METI YULIANI

    December 2, 2015 at 16:21

    Selamat sore pak Adi. Saya sangat tertarik untuk berbisnis lengkuas ini, tapi saya masih bingung mengenai cara pemasarannya nanti.terimaksih pak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top