Portal Lengkap Dunia Marketing

News & Event

Bali Beach Clean Up dan Isu Sampah di Bisnis Pariwisata

Ketika bicara pariwisata, kita umumnya akan membahas dampak ekonomi yang ditimbulkan seperti  berapa uang atau devisa yang akan diraup atau berapa tenaga kerja yang akan terserap. Namun belum banyak yang memikirkan dampak negatif yang ditimbulkannya, salah satunya sampah yang dihasilkan.

Bali Beach Clean Up

Kadir Gunduz Presiden Direktur Coca-Cola Amatil Indonesia (keempat dari kiri) melepas penyu laut ke pantai Seminyak, Bali pada perayaan 10 tahun Bali Beach Clean Up.

Seperti kita tahu wisatawan datang ke destinasi wisata bukan hanya membawa uang, namun juga membawa sampah. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah bisa menimbulkan dampak negatif buat kawasan pariwasata. Tumpukan sampah akan mengotori kawasan wisata, sehingga turis enggan untuk datang berwisata lagi.

Berangkat dari keprihatinan tersebut Coca Cola menggelar program Bali Beach Clean Up (BBCU) pada tahun 2007 Amatil Indonesia (CCAI) dan Quiksilver Indonesia (QS). Tahun ini program bersih-bersih pantai di Bali sudah memasuki tahun ke-10. Tujuan program ini untuk menjaga keindahan dan kebersihan Bali, khususnya kawasan Pantai.

Ada lima pantai di Bali yang menjadi sasaran program tersebut yakni Pantai Kuta, Pantai Legian, Pantai Seminyak, Pantai Jimbaran, dan Pantai Kedonganan. Setiap hari CCAI dan QS membersihkan 9,7 km garis pantai di sepanjang lima pantai ikonik tersebut. Terhitung hingga Juli 2017, tim Bali Beach Clean Up berhasil menyingkirkan lebih dari 34 juta kg sampah dari pesisir pantai Bali.

Program ini didukung dengan 150 tempat sampah baru setiap tahunnya, 4 traktor pantai, 2 barber surf rakes, 3 truk sampah, dan yang terutama 78 kru dari komunitas lokal di sekitar pantai. Selain menjalankan program, kru BBCU turut berperan aktif sebagai ambassador untuk mempromosikan program BBCU: pentingnya menjaga lingkungan.

Perayaan 10 tahun BBCU digelar di Seminyak, 29 Juli 2017. Hadir dalam kesempatan tersebut Kadir Gunduz Presiden Direktur Coca-Cola Amatil Indonesia, Safri Burhanuddin perwakilan dari Kementerian Kemaritiman, Imam Prasodjo Staf Khusus Kementerian Lingkungan dan Kehutanan,  Louisa Andrea Miss Earth Indonesia 2016, dan organisasi lingkungan seperti Greeneration, Bye Bye Plastic Bag, Yayasan Geombang Udara Sehat, Bali Animal Welfare Association, Earth Hour Denpasar, Yayasan Jegeg Bagus, Bengkel Energi, Rebelines, Malu Dong Buang Sampah Sembarangan, ROLE Foundation, Bali Sea Turtle Conservation.

“Sejak sepuluh tahun lalu, kami senantiasa bangga terhadap Bali Beach Clean Up dan kontribusinya terhadap lingkungan dan komunitas. Meski demikian, kami percaya bahwa akan selalu ada upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah sampah dan kami percaya bawa program kami akan mendorong lebih banyak orang dan organisasi meraih tujuan yang sama untuk lingkungan kita; lingkungan yang lebih baik,” tutur Kadir Gunduz Presiden Direktur Coca-Cola Amatil Indonesia.

Bali Beach Clean Up

Anak kecil membersihkan foodhall yang terbuat dari botol minuman CCAI, di Pantai Seminyak, Bali, 29 Juli 2017 lalu

Perayaan 10 tahun (BBCU) ditandai dengan pelepasan Penyu laut ke pantai Seminyak. Untuk meningkatkan populasi penyu laut, CCAI dan QS mendirikan Kuta Beach Sea Turtle Conservation (KBSTC) sebagai bagian dari program BBCU. Lebih dari 140,000 bayi penyu telah dikembalikan ke laut semenjak dibentuknya KBSTC di tahun 2010.

Sampah dan Pariwisata

Sehari sebelum seremoni 10 tahun BBCU digelar FGD (Forum Discusssion Group) bertema “New Generation of Tourism: For The Love Our Environmet. Salah satu yang dibahas dalam seminar tersebut pengelolaah sampah di kawasan wisata.

Bijaksana Junerosano, Pendiri Greeneration Indonenesia, mengatakan, permasalahan sampah di Indonesia tidak pernah selesai, karena pemangku kepentingan masih bersikap parsial. Menurut dia, ada lima aspek yang perlu ditangani ketika membaha sampah, yaitu aspek teknis, pelibatan berbagai pihak, regulasi, kelembagaan, dan pembiayaan. “Aspek teknis dan pentingnya keterlibatan semua pihak sering dibahas. Sementara peraturan, kelembagaan, dan pembiayaan jarang dibahas,” jelas pria yang akrab disapa Sano.

Sano menambahkan, dampak negatif dari manajemen pengelolaan sampah yang buruk. Dia mengatakan di 10 destinasi wisata yang ditetapkan pemerintah ekonominya memang membaik, namun lingkungan juga rusak. “Indonesia penghasil sampah nomor 2 di dunia untuk sampah di lautan,” tandas Sano. Untuk mengatasi sampah di destinasi wisata Greeneration memberdayakan 15 Ranger Bijak Sampah di beberapa obyek wisata yang sudah menjalin kerja sama dengan Greeneration.

Ancaman menurunnya kualitas lingkungan, harusnya mendorong pemangku kepentingan berpikir bijak mengenai pengelolaan wisata. Imam Musthofa, Program Leader Fisheries & Sunda Banda Seascape Coral Triangle WWF-Indonesia, berpendapat tidak semua destinasi wisata mengembangkan “mass tourism”. Kawasan wisata konservasi bisa memilih konsep “premium/exclusive tourism” yang lebih mengejar kualitas dibandingkan kuantitas.

“Berdasarkan riset sebanyak 58,5 juta turis AS bersedia membayar lebih kepada perusahaan jasa wisata yang menjaga dan melestarikan lingkungan,” tutur Imam.

Pendapat senada disampaikan Misool Baseftin Foundation-Raja Ampat, Heri Yusamandra. Dia menilai exclusive tourism cocok untuk dikembangkan di kawasan konservasi, karena dampaknya akan merugikan kawasan konservasi jika mengembangkan mass tourism, yakni menurunya kualitas lingkungan.

Selain mengelola bank sampah di kawasan Raja Ampat, pihaknya juga memiliki resort di sana. Jumlah wisatawan yang datang ke resortnya setahun hanya sekitar 700. “Resort kita menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dan energi matahari. Setiap wisatawan yang berkunjung kita edukasi tentang sampah dan kita beri tahu apa yang boleh dan tidak boleh ketika menyelam,” tuturnya.

Tony Burhanudin

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top