Portal Lengkap Dunia Marketing

Artikel Riset

Berapa Pasang Mata Bakal Meliriknya?

Meski kerap dianggap sebagai pelengkap (bukan yang utama), media luar ruang merupakan bentuk periklanan tertua—yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Nah, satu di antara berbagai media luar ruang tersebut adalah papan reklame atau billboard. Biasanya, papan-papan besar itu mudah dijumpai di sepanjang jalan raya atau tempat-lokasi yang sering dilalui orang. Walaupun biaya pemasangannya tergolong mahal, keunggulannya dalam jangkauan yang luas dan tingkat frekuensi yang tinggi, membuat iklan jenis ini tetap diminati. Exposure yang diperoleh akan sangat tinggi bila papan reklame tersebut diletakkan di tempat strategis yang lalu lintasnya ramai.

Tentunya, informasi tentang seberapa padat/ramai sebuah lokasi atau jalan raya merupakan poin penting bagi marketer yang ingin mengiklankan produknya lewat media luar ruang. Salah satu lokasi yang banyak diminati marketer untuk mensosialisasikan produknya adalah ruas di sepanjang jalan tol. Bila pihak Jasa Marga mengartikan jalan tol sebagai jalan alternatif yang untuk penggunaannya dipungut biaya; kami mendefinisikan jalan tol sebagai jalan bebas hambatan. Yang dimaksud dengan hambatan di sini tentunya adalah segala jenis hambatan seperti lampu merah, kemacetan, genangan air/banjir dan pedagang asongan yang sering mengganggu di jalanan.

Namun, kenyataan di lapangan seringkali menunjukkan bahwa jalan tol  sebenarnya adalah “jalan yang terhambat” (macet). Kondisi ini kerap terjadi saat jam berangkat dan pulang kerja. Sebagian jalan tol bahkan tampak selalu macet, baik saat berangkat/pulang kerja maupun di luar waktu-waktu tersebut. Tapi agaknya hal tersebut bukan masalah bagi pemasang billboard. Pasalnya, makin padat tolnya,  berarti jumlah mata yang terekspose oleh iklan lebih banyak dan durasinya pun makin lama.

Berkaitan dengan itulah, Marketing Insight kali ini menampilkan volume lalu lintas jalan tol di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Berdasarkan data Jasa Marga, jika dihitung rata-rata per hari jumlah kendaraan yang melewati satu ruas cabang jalan tol tertentu, maka sampai saat ini (data September 2004) tol Dalam Kota Jakarta adalah yang paling tinggi frekuensinya. Rata-rata seharinya dilalui oleh 505.741 kendaraan.

Posisi terpadat kedua dipegang oleh jalan tol yang pertama kali ada di Indonesia, yakni Jagorawi, dengan 313.290 kendaraan per hari. Menyusul berikutnya adalah tol Jakarta-Cikampek dengan 286.402 per hari. Namun, jika dilihat dari pertumbuhan rata-rata pengguna tol tersebut setiap tahunnya, maka tol Jakarta-Serpong dan Prof Dr Sedyatmo adalah yang paling menjanjikan karena memperlihatkan pertumbuhan jumlah kendaraan di atas rata-rata lainnya. (Lisa Noviani)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top