Ad Madness

Beriklan di Media Digital

Baru 5%─20% dana marketing dikucurkan untuk aktivitas di media digital. Sementara Facebook masih favorit sebagai media untuk beriklan.

grafis-surveyone-1

Dulu, media beriklan yang digunakan oleh semua penyedia produk atau jasa hanyalah berkisar antara televisi, radio, koran, majalah, billboard, spanduk, atau sejenisnya. Kesemua itu menuntut penyedia produk atau jasa membayar media tersebut untuk beriklan. Sekarang, dengan tersedianya media digital, penyedia produk atau jasa dapat beriklan di dunia maya sebanyak mungkin yang mereka mau, bahkan tanpa perlu membayar sepeser pun. Hal ini tentu dipandang lebih menarik dan low cost.

Dari hasil riset yang dilakukan oleh SurveyOne terhadap lebih dari 100 responden yang pernah beriklan di media digital, ditemukan bahwa 60% responden mengalokasikan sekitar 5%─20% dana marketing mereka untuk beriklan di media digital. Sementara itu, dana yang sebagian besar responden alokasikan untuk beriklan di media konvensional sekitar 50%.grafis-surveyone-2

Hasil riset ini juga menunjukkan bahwa dari berbagai media digital yang tersedia, Facebook merupakan media yang paling banyak digunakan oleh responden untuk beriklan (82,7%). Selain Facebook, aplikasi messenger—seperti WhatsApp dan BBM (50%), serta Instagram (49%) juga banyak digunakan oleh responden untuk beriklan. Selain banyak digunakan, ketiganya juga dipandang sebagai media yang paling efektif dalam memasarkan produk barang atau jasa.

Beriklan di Youtube

Dari berbagai media digital yang digunakan untuk beriklan, terdapat 27,9% responden yang pernah menggunakan Youtube sebagai media iklan digital mereka. Penggunaan Youtube ini tentu saja tergantung dari alokasi dana marketing yang dikeluarkan oleh penyedia produk atau jasa, bisa secara gratis ataupun berbayar. Sebanyak 53,8% responden memasang iklan di Youtube secara gratis dengan cara meng-upload sendiri video iklan grafis-surveyone-4mereka. Cara ini tentu saja dapat sangat menekan ongkos belanja iklan suatu perusahaan. Namun risikonya, ada kemungkinan video tersebut tidak ditonton oleh banyak orang jika subscriber di channel Youtube perusahaan tidak terlalu besar.

Sementara itu, 26,9% responden lainnya memilih menggunakan jasa endorser. Beberapa endorser yang marak di Youtube adalah para pembuat Vlog atau video blog yang sedang naik daun, seperti Chandra Liow, Bena Kribo, dan Raditya Dika. Menggunakan jasa endorser tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit, namun kemungkinan iklan ditonton oleh banyak orang pun sangat besar.

Cara ketiga, yang dilakukan oleh 19,2% responden, adalah membayar ke pihak Youtube agar iklan yang telah dibuat oleh penyedia produk atau jasa dapat dimunculkan di sela-sela video tertentu. Iklan seperti ini biasa dilihat muncul grafis-surveyone-5grafis-surveyone-6secara otomatis di awal atau pertengahan video, biasanya pada video dengan jumlah viewer yang besar.

Mengenai konten iklan di Youtube, sebagian besar responden pilih menggunakan jasa content creator untuk membuat konten iklan mereka. Sisanya memilih membuat konten iklan sendiri. Content creator ini bisa juga “sepaket” dengan jasa endorser yang digunakan untuk iklan di Youtube. Mereka dapat membuat sendiri materi iklan berdasar produk atau jasa yang mau diiklankan dan disesuaikan dengan materi videonya.

Dewi Maya Pratiwi

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top