Portal Lengkap Dunia Marketing

Dunia Digital

Cara Bijak Optimalkan Campaign

Beriklan di media digital menjadi pilihan cermat saat ini. Namun, memilih media dan menyasar audiens yang pas tetap bukan hal mudah. Karena itulah advertiser harus cermat dalam memilih platform.

 solusi iklan digital

Tidak mudah menentukan media untuk beriklan di era multimedia (banyak media) dan multiplatform, karena setiap media atau platform memiliki karakteristik masing-masing. Di sisi lain, kita menghadapi audiens yang perhatiannya terpecah. Telinga mereka mungkin saja mendengarkan musik, tapi mata mereka terpaku pada informasi yang disajikan portal berita atau media sosial.

Beriklan di media konvensional seperti TV atau media cetak juga belum tentu menjadi pilihan bijak. Selain berbiaya mahal, hasil yang diperoleh belum tentu maksimal. Beriklan di media konvensional, merek mungkin saja akan meraih awareness, namun bukan jaminan akan memperoleh penjualan yang diinginkan.

Berbagai permasalahan di atas sebenarnya bisa dijawab dengan iklan yang serba tepat sasaran; yakni tepat medianya, tepat audiensnya, dan tepat harganya. Platform iklan digital yang ditawarkan Adxscope bisa menjadi solusi akan berbagai permasalahan tersebut. Mengapa harus Adxscope? Karena platform ini memberikan fleksibilitas kepada advertiser (pengiklan) dan publisher (pemilik media).

Denma R. Willyando, CEO Adxscope, mengatakan sebagai platform, Adxscope punya misi membantu advertiser dan publisher. Untuk advertiser, Adxscope akan membantu mengoptimalkan campaign mereka. Target audiensnya sangat detail seperti gender, hobinya apa, lokasi, dan website yang sering diakses. “Lebih spesifik medianya, lebih tepat sasaran, open dashboard, dan lebih measurable, sehari sudah berapa display yang tayang dan berapa display yang sudah diklik,” paparnya.

Untuk publisher, Adxscope akan membantu melakukan monetisasi. Bukan pekerjaan mudah bagi publisher (website, blog, mobile apps) untuk mendapatkan uang dari iklan. Dengan Adxscope, publisher bisa mendapatkan iklan dari produk-produk yang spesifik sesuai tema atau  konten dari website atau blog yang bersangkutan.

Willyando menegaskan, solusi iklan digital yang ditawarkan Adxscope berbeda dengan solusi sejenis dari Google AdSense. Di Google AdSense, publisher hanya diberi kebebasan pada ukuran dan script iklan. Adxscope lebih dari itu; selain ukuran dan script iklan, mereka diberi keleluasaan untuk menentukan tarif iklan.

Skema Bidding

Tarif iklan memang menjadi isu penting dalam dunia periklanan. Di satu sisi advertiser sering merasa tarif iklan yang ditentukan publisher terlalu mahal, di sisi lain publisher merasa advertiser menawar terlalu rendah atau minta diskon terlalu besar. Untuk mengatasi ini, Adxscope memiliki fitur RTB di situs Adxscope yang memungkinkan advertiser melakukan bidding dengan harga terendah US$0,01.

Sementara publisher dapat melakukan monetisasi slot iklan pada website, blog, mobile apps dengan menggunakan fitur floor price. “Dengan fitur ini publisher dapat membatasi minimum pendapatan yang masuk dari iklan Adxscope,” jelas Willyando yang diwawancarai di kantor redaksi MARKETING, beberapa waktu lalu.

Platform Adxscope dapat diakses di laman Adxscope.com. Di laman tersebut pengguna bisa mendaftar secara gratis. Willyando mengungkapkan, hingga saat ini Adxscope berhasil meraih 100 juta impresi, menggaet 300 publisher, dan menangani lebih dari 1.000 campaign. Adxscope memberlakukan syarat yang cukup mudah bagi publisher. Publisher (website, blog, mobile apps) dengan rata-rata kunjungan 500-1.000 bisa bergabung ke Adxscope.

Publisher di Adxscope sangat segmented sehingga cocok untuk iklan yang menyasar segmen niche market. Beriklan di media segmented, kata Willyando, cocok untuk konsep iklan CPC (cost per click), dimana tarif ditentukan berdasarkan jumlah klik. “Publisher besar seperti Kompas.com dan Detik impresi dan trafiknya tinggi, sehingga kalau bujet advertiser terbatas, misal 100 juta untuk sekian juta impresi hanya dalam hitungan sehari, bujet bisa habis,” katanya. Dia pun menambahkan bahwa publisher besar cocok untuk konsep CPA (cost per acquisition).

Agar lebih optimal menggarap pasar, Adxscope menjalin kerja sama dengan platform sejenis berskala global, seperti Dobleclick, Criteo, OpenX, Geniee, Hike, Adcash, dan Smaato. Kerja sama dengan pemain global memungkinkan Adxscope melakukan ad-exchange atau sharing iklan. “Jika sale kita kosong bisa diisi oleh mereka atau sebaliknya,” tandas Willyando.

Selain menawarkan solusi iklan digital berbasis platform, Adxscope pun berperan sebagai digital agency. Adxscope siap membantu advertiser yang ingin beriklan di media digital global seperti Facebook, YouTube, atau Google. Adxscope juga memberikan layanan B2B kepada penyedia media smart TV atau Videotron. “Mereka bisa menggunakan platform kami untuk real-time advertising dan bisa di-bidding,” jelas dia.

Adxscope yang hadir sejak tahun 2015, merupakan salah satu finalis kompetisi 1.000 startup tahun 2005 yang digagas pemerintah. Selain Willyando, figur lain yang ikut melahirkan Adxscope, Yogya Yasin Akbar (COO Adxscope), Andi Adri Antasari (CMO Adxscope), dan Dzaky Rafi Syahputra (CTO Adxscope). Pendapatan Adxscope bersumber dari bagi hasil. Dari setiap transaksi yang tercipta, 70% menjadi milik publisher dan 30% menjadi hak Adxscope. Beberapa waktu lalu Adxscope diakuisisi oleh Frontier Capital. Willyando berharap akuisisi ini dapat meningkatkan valuasi Adxscope dari sisi publisher, trafik, dan revenue.

Tony Burhanudin

MM.07.2017/W

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top