Portal Lengkap Dunia Marketing

Lifestyle

Industri Komik: Dominasi Barat dan Timur

Industri komik dipenuhi persaingan yang semakin red ocean. Publisher menuntut para kreator untuk semakin kreatif dalam menciptakan karakter, alur cerita, maupun plot twist yang mampu menyedot pembaca. Apa saja dan bagaimana pergolakan industri komik dunia pada umumnya?

industri komikDulu orang-orang kita sering memandang komik dengan sebelah mata. Tapi, kini buku atau serial komik begitu membanjiri pasar. Begitu banyak variasi cerita dan karakter membuat industri komik semakin jenuh jika tidak dibarengi dengan munculnya judul-judul hits yang baru.

Para pembeli punya motif tersendiri dalam membeli komik. Ada kolektor serius yang sangat menghargai komiknya, ada juga orang yang tahu bahwa komik-komik tertentu bisa berpotensi meledak harganya dan mereka bisa mendapatkan keuntungan darinya. Ini semua tergantung tren budaya pop yang sedang terjadi, apa saja yang mendorong demand dari komik yang diburu, dan apakah demand tersebut bisa bertahan lama.

Dominasi Superhero dari Barat

Seorang kolektor di Amerika kaget karena salah satu koleksi komik Marvel Avengers Vol 1 yang rilis sekitar tahun 1963 miliknya ditawar hingga mencapai harga US$250 ribu. Penawarnya pun bisa berasal dari seluruh dunia yang kebanyakan terpengaruh hype dan tren dari berbagai serial TV dan film-film akbar superhero yang sedang booming saat ini.

Sebuah kopi dari komik Batman Vol 1 bisa jadi mempunyai nilai pasar mencapai US$634 ribu. Sementara komik Dark Knight tampilan pertama Detective Comics No. 27 yang dijual hanya seharga 10 sen di tahun 1939, kini terjual dengan harga yang tak masuk akal—mencapai US$3,2 juta. Semakin banyak orang semakin menggilai komik, tapi komik sendiri memang bukan untuk semua orang. Maka wajar saja ketika fenomena ini dianggap tidak wajar atau tak masuk akal bagi kalangan lain.

Tahun 2015 lalu bisa jadi adalah tahun yang bagus untuk pasar industri komik Amerika. Angka penjualan secara keseluruhan naik. Penjualan bertumbuh sekitar 7,17% dari selama tahun 2014. Tapi, di tahun 2016 ternyata tidak terlalu baik, angka penjualan per toko mengalami penurunan. Walau demikian, kondisi ini tertolong oleh berbagai momen suksesnya film-film lepas atau serial TV.

Melejitnya serial televisi The Walking Dead misalnya, mampu membantu Image Comics mendorong penjualan komik-komiknya ke toko-toko buku, bahkan pasar internasional. Pertumbuhan baik dari sisi cetak maupun digital, kebanyakan didapat melalui strategi membuka pasar baru daripada menumbuhkan pasar yang sudah ada.

Selama 10 tahun terakhir, Dynamite Entertainment, IDW Publishing, dan BOOM! Studios adalah salah satu penerbit komik yang mampu bertahan. Trio penerbit tersebut menyebarkan banyak seri komik. Tapi, kunci sukses mereka terletak pada lisensi properti-properti media atau karakter terkenal, mulai dari Transformers, Game of Thrones, sampai Sons of Anarchy. Pasar komik Amerika Utara diperkirakan mencapai angka setidaknya US$800 juta.

Secara teknis, Anda tidak bisa berbicara tentang industri komik di barat tanpa menyebutkan Marvel dan DC. Kedua merek besar ini masih menguasai lebih dari setengah pasar industri komik. Mereka dengan mudah bisa menyebarkan gelombang hype besar yang mampu menggairahkan sekaligus menggerakkan pasar komik.

Dominasi Manga dari Timur

Industri komik manga mempunyai segmen pasar fanatiknya sendiri. Ini terutama berpusat di Jepang yang sangat fanatik terhadap beberapa seri manga tertentu. Bahkan banyak orang yang dikenal mempunyai mental “Otaku”, yang sangat menggilai budaya manga dan anime sampai mengorbankan kehidupan sosial mereka.

Fans manga kebanyakan terdiri dari kalangan muda. Ini bisa terlihat dari berbagai event yang menyangkut anime atau komik manga, cenderung dipenuhi oleh para remaja yang usianya masih di bawah 20 tahun. Coba bandingkan dengan berbagai event jenis komik lain yang pada umumnya lebih didominasi oleh pengunjung berusia antara 30 hingga 40 tahun, bahkan lebih.

Kini judul-judul baru banyak bermunculan. Contoh Attack on Titan telah menjadi hits besar bagi Kodansha Comics, penerbit yang berbagai properti lainnya juga mengalami pertumbuhan cukup stabil dan kuat. Pasar manga menunjukkan pertumbuhan cukup baik karena bermunculannya berbagai judul yang cukup fenomenal seperti One-Punch Man, Tokyo Ghoul, dan Attack on Titan.

Seperti komik pada umumnya, keterkaitan atau adaptasi komik dengan film anime adalah salah satu faktor yang bisa melejitkan penjualan komik manga. Penjualan Attack on Titan meledak di tahun 2013, ketika film animenya mulai diputar di Inggris. Penjualan Tokyo Ghoul juga ikut terbantu karena film animenya sukses.

Selain itu, penciptaan, pembangunan, dan pendalaman karakter juga sangat berpengaruh. Ken Kaneki, sebagai karakter utama di Tokyo Ghoul adalah karakter yang sangat bisa berhubungan dan memengaruhi berbagai kalangan pembacanya. One-Punch Man bahkan bisa menandingi pamor dari berbagai karakter superhero versi Amerika. One-Punch Man dinilai cukup sukses di berbagai toko komik, terutama bagi kalangan yang menyukai genre superhero selain cerita-cerita typical manga.

Tentu kita juga sudah mengenal berbagai judul manga yang sangat legendaris dan cakupan segmen pasarnya lebih luas. Ada berbagai judul manga yang rasanya tak akan luntur walaupun termakan waktu, seperti One Piece, Dragon Ball, Sailormoon, Doraemon, Astro Boy.

Bagaimana dengan Komik Indonesia?

Industri komik lokal di Indonesia mengalami gempuran yang sangat berat dari berbagai komik impor, komik terjemahan, dan lain-lain. Setelah berjaya di era tahun 1960 hingga 1970-an, komik Indonesia sudah lama seakan mati suri. Toko-toko buku besar lebih didominasi oleh koleksi komik luar negeri, terutama manga.

Penerbit besar komik di Indonesia seperti Elex Media dan M&C! sendiri menerbitkan sekitar 200 judul buku komik impor dalam sebulannya. Coba saja bayangkan seberapa banjir buku komik impor setiap tahunnya. Pada tahun 2015 lalu di jaringan toko buku Gramedia saja, dua penerbit besar Indonesia tersebut sudah menjual hampir 4 juta eksemplar komik impor.

Berbagai tantangan pun dihadapi oleh para komikus Indonesia, mulai dari royalti yang kecil, aturan pajak yang memberatkan, penerbit yang tak mengalokasikan anggaran untuk mempromosikan buku komik, sampai hasil karya yang tidak dihargai sepatutnya secara finansial. Semua ini menuntut semua pemain dalam industri komik lokal harus lebih kreatif memutar otak dan strategi mereka.

Meski demikian, semua itu tak menyurutkan berbagai pemain lokal seperti Studio Caravan yang kemudian meluncurkan Reon (majalah komik), Curhat Anak Bangsa (CAB) yang bermitra dengan penerbit Mizan, plus komikus-komikus yang bergerak secara independen. Komikus di Indonesia terkadang juga sampai mengambil alih tugas penerbit untuk memasarkan produk.

Indonesia terbukti menjadi pasar komik yang sangat menjanjikan. Tapi, mengusung produk komik di pasar yang sudah semakin jenuh dan red ocean tentu tidaklah mudah. Struktur industri dan kondisi pasar yang tidak cukup mendukung pun bisa menjadi penghalang. Namun, semua ini tidak menyurutkan semangat para pencinta komik di Indonesia.

Ivan Mulyadi

MM.11.2016/W

 

“Mengusung produk komik di pasar yang sudah red ocean/jenuh tentu tidaklah mudah.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top