Portal Lengkap Dunia Marketing

                                                                                                               
Dunia UKM

Kolaborasikan Hijab Store dan Studio foto

Ishanaz Hijab Store berinovasi dengan menangkap dua kebutuhan konsumennya secara langsung, yakni fashion hijab dan foto. Bagaimana strateginya?

ishanaz hijab store

Budaya narsis sudah lekat dengan masyarakat Indonesia saat ini. Bukan hanya generasi langgas, seluruh lapisan masyarakat dari berbagai latar belakang gender, usia, pendidikan, dan sebagainya, sudah akrab dengan narsis. Kemajuan teknologi adalah salah satu pendorong mewabahnya budaya narsis ini. Dari sisi bisnis, budaya narsis ternyata juga merasuk dalam karakteristik konsumen.

Menurut Handi Irawan, penulis buku 10 Karakter Khas Konsumen Indonesia, salah satu karakter khas konsumen Indonesia adalah suka pamer. Suka pamer di sini terkait dengan kegiatan menonjolkan diri sendiri, mulai dari berfoto, update status, sampai memamerkannya di media sosial. Lambat laun aktivitas narsis pun menjadi kebutuhan konsumen yang tidak bisa diabaikan.

Pun halnya dengan bisnis fashion. Penampilan dan narsisme sangat erat kaitannya. Seseorang yang berpenampilan baik, banyak juga didorong oleh keinginan narsis. Berdasar kebutuhan inilah, Ishanaz—sebuah butik fahion hijab sekaligus studio foto—didirikan. Isanda Lirian, Owner sekaligus Co-Founder Ishanaz, mengungkapkan konsep gerai fashion hijab yang dia miliki adalah experience baru bagi para konsumennya. Ia pun mengklaim konsep ini merupakan satu-satunya dan pertama di Indonesia.

“Kebanyakan perempuan dan ibu-ibu sangat suka difoto. Apalagi bila menggunakan baju baru yang dibelinya, ditambah lagi difoto oleh fotografer profesional. Saya melihat tren tersebut saat ini tinggi sekali. Di sinilah kami coba tingkatkan penjualan sekaligus memberikan pelayanan yang lebih lewat foto,” papar Isanda saat dijumpai di gerai Ishanaz.

Ishanaz mengambil positioning sebagai ritel fashion hijab. Sasaran marketnya tentu saja para perempuan yang mengenakan hijab dari semua segmen. Di dalamnya terdapat tujuh brand hijab yang ambil bagian di etalase Ishanaz, yakni House of Namanda, S.0.L.3.1.L, dWs, MeeMaa, Nouma, Cut Nyak, dan dhy’s. Varian desainnya meliputi busana hijab kasual, elegan, formil, serta syar’i. Banderol harga yang dipatok pada busana hijab di Ishanaz berkisar Rp200.000 hingga Rp1 jutaan. Brandbrand tersebut merupakan brand lokal yang berdomisili di Jakarta dan Bandung. Lebih lanjut Isanda menjelaskan, adanya studio foto tematik ini pun memungkinkan para mitra bisnisnya untuk memfoto tiap produk yang akan di-display dengan standar foto profesional.

“Saya pernah menjadi tenant dan tahu betul apa saja kebutuhan tenant. Salah satunya adalah foto yang baik dan layak, karena untuk bisa memvisualisasikan fashion yang baik harus didukung foto yang baik pula. Kami pun menawarkan jasa tersebut kepada para tenant yang bekerja sama lengkap dengan modelnya,” ujar Isanda.

Sejauh ini gerai perdana Ishanaz terletak di Mall Bassura City, Jakarta Timur. Lokasi ini dinilai Isanda cukup strategis, pasalnya satu kompleks dengan apartemen dan perkantoran sehingga Ishanaz bisa menjadi one stop hijab store bagi para konsumennya. Gerai seluas 120 meter persegi ini dibagi menjadi dua bagian, yakni butik dan studio foto tematik.

Khusus untuk foto, Isanda berpartner dengan fotografer profesional, Maxmun Hidayat, dari www.maxmunphotography.com. Setiap pembelanjaan minimal Rp500.000, konsumen berhak mendapatkan jasa foto gratis mengenakan fashion hijab yang ishanaz hijab storedibeli di Ishanaz. Di awal tahun 2017, Isanda menerangkan, tema studio foto yang disuguhkan adalah “Garden with White Flower”. Studio tersebut disediakan secara khusus dengan tatanan yang indah dan eye catching untuk pengunjung difoto ataupun berswa foto (selfie).

Tidak hanya sebatas penjualan offline, kanal online pun tetap digencarkan Ishanaz Hijab Store melalui Facebook, Instagram, dan web. Konsumen bisa berbelanja online atau offline dengan added value yang sama, yakni free photo. Jadi, baik offline maupun online bersinergi untuk saling mendukung peningkatan sales. Campaign yang dilakukan pun sifatnya integratif antara online dan offline.

Ke depannya, Isanda mengagendakan beberapa peningkatan bagi hijab store-nya antara lain penambahan jumlah tenant, penambahan jumlah gerai, serta menggiatkan campaign interaktif dengan para konsumennya melalui media sosial.

“Kami akan terus berinovasi membuat hal yang berbeda. Tidak menutup kemungkinan kami membuat kompetisi foto. Konsepnya nanti akan disesuaikan dengan keinginan konsumen,” pungkas Isanda.

 

Angelina Merlyana Ladjar

 MM.03.2017/W

“Kebanyakan perempuan dan ibu-ibu sangat suka difoto. Apalagi bila menggunakan baju baru yang dibelinya. Tren ini yang ditangkap Ishanaz sebagai peluang pasar.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top