Portal Lengkap Dunia Marketing

Dunia Digital

Membayar Lebih Pintar dengan Uang Elektronik

Perkembangan teknologi tidak bisa dibendung oleh siapa pun. Suka atau tidak, teknologi mengubah hampir semua cara dan kebiasaan kita dalam beraktivitas maupun bertransaksi. Teknologi pun mengubah cara kita menggunakan uang. Kini segala industri yang berkaitan dengan uang elektronik menjadi semakin seksi.

uang elektronik

Sebelumnya kita tentu sudah terbiasa melakukan pembayaran dengan menggunakan kartu kredit maupun kartu debit. Jika berbelanja, kita sudah melakukan pembayaran lewat internet atau mobile banking. Tapi untuk urusan-urusan kecil seperti berbelanja sehari-hari, naik kendaraan umum, membayar parkir, dan lain-lain, kita masih terbiasa menggunakan uang tunai (cash).

Pembayaran dan transfer uang sudah lama mengalami perkembangan melalui media uang elektronik baik yang berbasis chip (kartu) maupun server. Ditilik dari faktor keunggulannya, uang hilang pada sistem uang elektronik berbasis server masih bisa ditelusuri. Sementara kalau menggunakan kartu (card-based), jika kartunya hilang, maka uang juga akan hilang tak terlacak.

uang elektronik

Kebutuhan akan uang elektronik turut dipicu oleh kemunculan perusahaan-perusahaan startup modern yang sistem operasionalnya sangat digital-minded dan berdasarkan aplikasi, terutama di sektor transportasi seperti Gojek, Grab, Uber, dan lain-lain. Teknologi semakin bisa dinikmati oleh lapisan masyarakat menengah bawah.

Coba saja tengok ojek sekarang setiap harinya sudah akrab dengan teknologi smartphone dalam segala urusan operasionalnya. Bahkan perusahaan taksi tradisional seperti Blue Bird pun sudah mulai menggunakan sistem digital lewat aplikasi mobile-nya. Belum lagi didukung oleh banyaknya perusahaan fintech. Potensi transaksi dilihat dari semua ini saja bisa mencapai Rp500 triliun.

Uang elektronik adalah industri yang berhubungan erat dengan industri telekomunikasi dan perbankan. Perkembangan transaksi dan teknologi di kedua industri tersebut bisa sangat memengaruhi perkembangan uang elektronik.

Industri perbankan di Indonesia sendiri adalah salah satu industri yang paling seksi. Bagaimana tidak? Coba amati ROI perbankan di Indonesia yang bisa mencapai 25% hingga 30%. Sementara di luar negeri, ROI perbankan hanya di bawah 10% alias satu digit saja. uang elektronik

Para pemain di industri telekomunikasi juga sedang berada pada masa-masa subur. Bahkan perusahaan telekomunikasi bisa saja menjelma menjadi seperti bank jika regulasinya diizinkan. Ini karena basis pelanggan mereka sudah sangat besar (mencapai puluhan hingga ratusan juta pelanggan). Bayangkan jika fitur e-money-nya meledak, tak mustahil perusahaan telekomunikasi akan menjadi pesaing bagi bank.

Penerapan Uang Elektronik

Handi Irawan, CEO Frontier Capital, mengatakan uang elektronik diprediksi menjadi alat pembayaran terbaik, terutama untuk industri e-commerce yang kini sedang mengalami pertumbuhan besar. Penggunaan uang elektronik diperkirakan akan mengalahkan kartu kredit dan kartu debit pada tahun 2020 nanti. “Sudah pasti karena uang elektronik selain praktis berupa kartu, juga bisa nyaman dan aman dengan teknologi server-based. Tak heran perusahaan seperti Gojek berusaha keras membesarkan fitur GoPay,” imbuh Handi.

Sementara itu, menurut Andri Yansyah, Kepala Dinas Perhubungan Dishubtrans DKI Jakarta, penerapan uang elektronik di Indonesia secara masif dimulai dari sektor transportasi. “Ini karena sektor transportasi walaupun hanya menyangkut uang receh, jumlah transaksinya sangat luar biasa. Jumlah transaksi yang semakin meningkat ini pun bisa mendongkrak nilai nominal dan value dari uang elektronik yang digunakan,” jelasnya.

Sistem uang elektronik adalah solusi bagus untuk mengatasi kemacetan. Ini karena mengatasi kemacetan harus dimulai dari bagaimana cara memindahkan orang; yang sebelumnya menggunakan kendaraan pribadi, jadi lebih memilih naik transportasi umum. Oleh karena itu, segala permasalahan transportasi umum harus diatasi terlebih dahulu supaya bisa lebih nyaman dan jadwal keberangkatan serta kedatangan pun lebih akurat. Kini kita sudah biasa naik bus Transjakarta dengan menggunakan kartu sebagai sarana pembayarannya.

Sistem pembayaran uang elektronik yang mencakup micro payment (uang kecil/receh), khususnya untuk transportasi dan parkir, sangat bagus untuk menghindari adanya pungutan liat—pungli. Sistem pembayaran pun bisa dilakukan lebih cepat dan uang langsung masuk ke pemerintah.

Perkembangan uang elektronik turut didukung pula oleh perkembangan industri fintech. Hal ini dikatakan oleh Niki Luhur, Presiden Asosiasi Fintech Indonesia. Menurutnya, perusahaan fintech berperan sebagai perusahaan teknologi yang memberikan value add terhadap ekosistem untuk mengatasi kendala di tiap-tiap industri. Potensi fintech sendiri di Indonesia masih sangat besar, dan mayoritas peluang masih terdapat di sektor payment. Untuk itu diperlukan kerja sama antara perusahaan teknologi dan lembaga keuangan dalam hal keamanan data, sistem pembayaran, jaringan, dan lain-lain.

Tantangan dan Solusi

Transaksi pembayaran nontunai berbasis chip dan server memang sudah mulai banyak, tetapi nominalnya masih sangat sedikit dibandingkan kartu debit atau kartu kredit. Handi Irawan mengungkapkan, “Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mengubah habit konsumen supaya bisa beralih ke uang elektronik. Ini karena kompetitor e-money yang sebenarnya adalah uang cash itu sendiri.”

uang elektronik

Masih sangat banyak orang ternyata belum menggunakan uang elektronik karena berbagai macam alasan. Di antaranya, mereka masih merasa nyaman menggunakan cash, merasa ribet jika harus menggunakan uang elektronik, atau belum menyadari value dan benefit yang didapat dengan menggunakan uang elektronik.

Semua pihak yang terlibat harus memutar otak bagaimana agar sistem pembayaran dengan uang elektronik bisa menjadi habit, sekaligus nyaman dan menguntungkan digunakan secara rutin sehari-hari. Transaksi uang elektronik harus bisa meng-engage masyarakat Indonesia. Ini karena segala sesuatu yang bersifat transaksional—apalagi jika sudah mampu menciptakan engagement, value-nya pasti akan tinggi.

Pembelajaran dari negara-negara lain yang sudah sukses harus dilakukan dan jika perlu ditiru. Teknologi pun harus terus dikembangkan, seperti biometric untuk menciptakan kemampuan big data yang luar biasa. Faktor jangkauan juga harus terus diperluas, seperti halnya uang cash yang dapat diterima di mana-mana dengan mudah.

Ricky Satria, Deputy Direktur Program Elektronifikasi dan Inklusi Keuangan Bank Indonesia, menerangkan, “Supaya penerapan transaksi pembayaran dengan uang elektronik bisa semakin berkembang di Indonesia, perlu diperhatikan beberapa kunci sukses. Faktor kunci sukses yang penting adalah ekosistem yang sehat, akseptasi luas, skala ekonomi, profit, serta investasi dan standarisasi.

Ekosistem sehat berarti menciptakan ekosistem yang saling terintegrasi antar komponen yang ada, aman, inovatif, dan efisien, sehingga bisa mendorong perluasan akseptasi pengguna (merchant dan konsumen).

Akseptasi luas berarti berbagai elemen dalam penerapannya—seperti teknologi dan media—bisa dijangkau dan diserap oleh seluas mungkin cakupan masyarakat, sehingga dapat meningkatkan jumlah transaksi, dan meningkatkan efektivitas pencapaian skala ekonomi.

Skala ekonomi penting untuk membentuk ekspektasi profit bagi provider atau penyelenggara. Ekspektasi profit bisa mendorong willingness dari berbagai pihak untuk berinvestasi, yang akan menentukan tingkat ketersediaan infrastruktur dan tingkat efisiensi.

Lalu terkait faktor investasi dan standarisasi, perlu diciptakan infrastruktur yang tersebar secara luas, merata, dan efisien. Ini merupakan prasyarat bagi terwujudnya ekosistem yang sehat. Demikian kelima faktor kunci sukses ini sangat ditekankan oleh Program Elektronifikasi dan Inklusi Keuangan Bank Indonesia.

Contoh sederhananya menurut Rahmat Broto Triaji, Senior Vice President Bank Mandiri, “Transaksi uang elektronik belum terstandarisasi. Contohnya mesin reader untuk parkir yang tersedia masih menggunakan standar yang berbeda-beda. Jumlah dan jenis kartu elektronik pun banyak dan tidak ada satu kartu yang bisa digunakan untuk semua (belum ada one card for all).” Tidak adanya standar dan setiap pemain membuat standar/aplikasi masing-masing, mengakibatkan kerumitan tersendiri dalam penerapannya.

Masih Kecil Tapi Terus Bertumbuh

Angka statistik perkembangan uang elektronik di Indonesia memang masih sangat kecil. Dibanding Thailand yang pertumbuhan ekonominya masih di bawah Indonesia saja, pertumbuhan uang elektronik Indonesia masih lebih rendah. Transaksi e-money Malaysia—negara yang total GDP-nya jauh lebih kecil dari Indonesia—sudah mencapai 1,3 miliar, dan value-nya sudah mencapai Rp18 triliun. Sementara Indonesia, value uang elektroniknya baru mencapai Rp5 triliun.

Thailand dengan grup TrueMoney-nya yang besar dan ada di mana-mana, total value-nya sampai tahun 2015 sudah mencapai Rp25 triliun. Ini karena mereka sudah tidak menangani uang receh lagi, tetapi melayani transaksi e-commerce dengan sistem pembayaran yang server-based. Jadi selain volume transaksi yang tinggi, nominal transaksinya pun tinggi.

Dimulai dari transportasi, kini kita lihat aplikasi uang elektronik sudah merambah sampai ke tol, parkir, dan vending machine untuk minuman. Kebanyakan masih menggunakan media kartu, yang berarti metode pembayaran tidak memerlukan registrasi. Salah satu kelemahan kartu tanpa registrasi ini adalah bank besar seperti BCA pun tidak bisa mengetahui persis pangsa pasar pengguna kartu BCA pada transportasi bus TransJakarta misalnya. Padahal jika ditanya soal market share mesin ATM, BCA tahu persis berapa pangsa pasar mereka.

Handi Irawan mengungkapkan bahwa dengan menggunakan metode tanpa registrasi (kartu), berarti bank-bank besar pun sudah mulai melakukan power sharing, yaitu melepas sebagian besar kontrol atau kendalinya. “Jika ada sebagian kendali yang dilepas oleh pemain besar di suatu industri, ini berarti ada peluang besar bagi pemain lain yang tertarik untuk ikut berperan di dalamnya,” jelas dia. Siapkah Anda memanfaatkan peluang besar ini?

Ivan Mulyadi

MM.12.2017/W

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top