Portal Lengkap Dunia Marketing

Artikel Riset

Naik Harga atau Tidak?

Gonjang-ganjing tentang rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM sudah mulai terdengar di Triwulan keempat tahun 2004. Bahkan sebelum kenaikan harga BBM disahkan oleh pemerintah, beberapa produk sudah menaikkan harganya terlebih dahulu. Keinginan untuk “menyesuaikan” harga BBM di awal tahun 2005 kandas karena pada saat itu bencana maha dahsyat—gempa bumi dan hantaman Tsunami—melanda Aceh   dan  Sumatera Utara. Setelah tertunda sekitar dua bulan, awal Maret 2005, harga BBM secara resmi dinaikkan pemerintah, dengan rata-rata kenaikan sekitar 30%. Dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, akibat kenaikan harga BBM tersebut, inflasi nasional di bulan itu mencapai 1,91% (nyaris sepertiga dari perkiraan angka inflasi pada tahun 2005 yang diprediksi akan mencapai 5,9%).

Menyikapi hal tersebut, Synovate Research Reinvented, melakukan penelitian tentang imbas kenaikan harga produk terhadap sikap konsumen dalam menentukan pilihannya. Apakah dia akan memilih merek yang berbeda, atau tetap membeli produk yang lama walaupun harganya naik.

Hasil riset terbaru tersebut diuraikan oleh Robby Susatyo, Direktur Utama Synovate Research Reinvented, pada sebuah seminar di Jakarta pada bulan Maret 2005. Menurut survei tersebut, konsumen dapat menafsirkan perubahan harga bermacam-macam. Kenaikan harga misalnya dapat ditafsirkan sebagai “keserakahan perusahaan” ataupun “isyarat bahwa permintaan melebihi penawaran”. Sebaliknya, penurunan harga dapat ditafsirkan sebagai “perusahaan sedang kesulitan dan bersiap-siap untuk hengkang”, “produk yang ditawarkan di bawah standar”, “ada model baru yang akan di-launch” atau “harga tersebut akan terus turun” (sehingga calon pembeli justru menunda pembelian).

Dari survei tersebut ditemukan pula bahwa dari 62% responden yang menyadari telah terjadi kenaikan harga, ternyata hanya 4% di antaranya beralih ke merek lain, dengan catatan kenaikan harga tersebut tidak terlalu besar.

Iyan Muhsinin, Wakil Direktur Synovate, menambahkan bahwa pada saat daya beli konsumen menurun, riset membuktikan bahwa loyalitas konsumen terhadap merek juga cenderung menurun. Hal ini disebabkan konsumen harus mengalokasikan pendapatannya yang terbatas untuk bermacam-macam pos pengeluaran. Lebih jauh lagi dia menyatakan, “Kenaikan harga jual 1% (dengan asumsi biaya tetap dan biaya variabel tidak berubah), akan meningkatkan keuntungan hingga 8,6%. Sebaliknya, penurunan harga jual sebesar 5% harus diimbangi dengan peningkatan volume sebesar 18,6% untuk mencapai titik impas.” (Lisa Noviani)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top