Portal Lengkap Dunia Marketing

Artikel Riset

Wanita dan Rokok: Penetrasi Rokok pada Wanita Menikah

Rokok mulai dikonsumsi pertama kali di Amerika pada awal abad masehi. Selang enam abad kemudian (600 M), filsuf Cina bernama Fang Yizhi telah mendeteksi bahwa kebiasaan merokok dalam waktu lama dapat merusak paru-paru. Tetapi, baru pada tahun 1761, seorang Amerika yaitu John Hill, melakukan studi pertama tentang dampak merokok pada kesehatan. Sampai saat ini, sudah sangat banyak penelitian yang memperlihatkan efek negatif dari kegiatan merokok tersebut, tetapi nyatanya pertumbuhan jumlah perokok dari tahun ke tahun selalu meningkat.

Negara Indonesia yang saat ini berpenduduk sekitar 219 juta jiwa dikenal sebagai konsumen rokok kelima terbesar di dunia—setelah Cina, AS, Jepang dan Rusia— sekaligus juga memiliki industri rokok yang cukup besar. Bayangkan, pada tahun ini saja anggaran negara yang diperoleh dari cukai rokok mencapai Rp29 triliun! Indonesia memang merupakan “surga” bagi industri rokok dan para perokok (apalagi sebelum Perda larangan merokok di tempat umum diberlakukan), karena masih mempunyai undang-undang anti rokok yang ringan (kutipan dari pernyataan Louis Camilleri, Chief Executive dari Altria Group yang baru-baru ini mengakuisisi Sampoerna).

Berkaitan dengan rokok, pada 2003 yang lalu Badan Pusat Statistik bekerjasama dengan Departemen Kesehatan melakukan survei terhadap 29.483 wanita yang pernah dan sedang dalam pernikahan tentang kebiasaan merokok mereka. Umur responden berkisar dari 15-49 tahun, dengan domisili yang tersebar di seluruh pulau utama Indonesia, yakni Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, serta  Sulawesi.

Dari survei tersebut, ditemukan bahwa jumlah perokok di kalangan wanita menikah tersebut relatif rendah, penetrasinya hanya 1,9% atau hanya sekitar 564 orang yang merokok. Potret wanita perokok itu sendiri dapat digambarkan sebagai berikut: penetrasi rokok semakin rendah pada wanita menikah yang berusia makin dewasa, lebih tinggi pada wanita urban (2,4%) dibanding rural (1,5%); tidak memiliki kecenderungan berdasarkan tingkat pendidikan; lebih tinggi pada wanita yang sedang tidak hamil atau menyusui, tetapi cukup tinggi pada wanita yang sedang hamil.

Pada wanita yang berusia lebih dewasa, jumlah rokok yang diisap dalam sehari relatif lebih banyak dari yang berusia lebih muda. Wanita di perkotaan (urban) juga merokok lebih banyak dibanding wanita pedesaan (rural), dan wanita yang lebih berpendidikan relatif mengkonsumsi rokok lebih sedikit dari yang tidak. Sebaliknya, wanita menyusui mengisap lebih banyak rokok ketimbang wanita yang tidak sedang hamil/menyusui. (Lisa Noviani)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top