Artikel Riset

Perilaku Konsumen Mancanegara terhadap LCC Rela Nggak Makan demi Tiket Murah

Saat ini tren penerbangan murah atau LCC (low cost carrier) sudah merambah ke seluruh dunia. Terakhir tren itu menggoyang kawasan Asia dengan Air Asia sebagai pendobraknya. Demam penerbangan murah sendiri sangat “menggairahkan” industri penerbangan di dalam negeri, dipicu oleh kelonggaran regulasi yang mendorong tumbuhnya berbagai maskapai penerbangan murah. Di Tanah Air, fenomena LCC itu dipelopori oleh Lion Air.

Berkaitan dengan ini, Synovate, biro riset internasional yang berpusat di Hongkong, pada pertengahan tahun 2004 melakukan survei global tentang persepsi konsumen terhadap penerbangan murah—sekaligus meneliti perilaku konsumennya. Survei ini melibatkan sekitar 5.000 responden yang berdomisili di Amerika Serikat (AS), Kanada, Perancis, Jerman, Hongkong, Malaysia, Singapura dan Thailand.

Informasi pertama yang ditemukan dari penelitian tersebut adalah negara mana yang warga negaranya lebih menyukai terbang dan mana yang lebih suka berada di daratan. Dari semua responden yang diwawancarai, sebanyak 59% menyatakan mereka sebelumnya pernah melakukan perjalanan udara. Insiden tertinggi adalah di Hongkong (80%) dan Singapura (82%), hal yang tidak begitu mengherankan karena keduanya adalah negara kepulauan. Sementara itu, negara yang paling segan menggunakan penerbangan adalah Perancis, di mana cuma 35% responden yang menjawab ya. Sedangkan yang paling kerap melakukan perjalanan udara adalah responden Malaysia, karena 2,2% di antaranya menggunakan pesawat dengan frekuensi terbang 2 kali atau lebih dalam sebulan.

Ketika ditanyakan apakah tujuan mereka menggunakan penerbangan untuk bersenang-senang atau kepentingan bisnis, maka jawaban yang terbanyak muncul adalah bersenang-senang. Penelitian ini memperlihatkan, penduduk Eropa lebih berorientasi untuk kesenangan ketika mereka melakukan perjalanan udara, di mana hanya 6% penduduk Jerman dan 7% penduduk Perancis yang menyebutkan keperluan bisnis adalah alasan utama mereka melakukan perjalanan udara. Akan tetapi, lebih dari 20% penduduk Malaysia dan Thailand mengatakan bisnis adalah alasan utama mereka melakukan perjalanan udara.

Asia Lebih Doyan

Hasil riset juga memperlihatkan jenis maskapai yang mereka pergunakan. Dengan fenomena LCC yang baru melanda Asia, warga Malaysia dan Singapura—tidak mengejutkan—lebih doyan dengan kategori ini, di mana 56% dan 83% dari penumpangnya pernah menggunakan penerbangan jenis ini. Di AS dan Kanada, sekitar 50% responden menerima untuk menggunakan penerbangan murah pada suatu waktu. Warga Eropa terlihat paling rendah minatnya, di mana lebih dari 32% penumpang dari Jerman dan Perancis yang memilih LCC dari sekian kali penerbangan yang mereka lakukan.

Sebanyak 75% responden setuju dengan pernyataan “perjalanan dengan pesawat serupa dengan perjalanan dengan bus”. Mereka juga berkeinginan untuk “mencapai suatu tempat secara cepat dan murah”. Sekitar 64% responden menyatakan bahwa kemungkinan untuk memilih LCC akan semakin besar jika harga tiketnya semakin murah (yang menarik warga Jerman paling sedikit setuju dengan hal ini). Selain itu, ada sebanyak 73% yang bersedia menolak makanan jika hal tersebut dapat menjadikan harga tiket lebih murah. Meski begitu, kenyataannya, ada 32% responden merasa bahwa LCC “memperlakukan penumpang seperti komoditi, sama sekali tidak ada pelayananan personal”.

Pada semua negara yang disurvei, responden Malaysia adalah yang paling menyukai kegembiraan dan keramahan. Ini terlihat dari 50% di antaranya yang akan menolak LCC pada semua tarif yang ditawarkan, jika itu menghilangkan semua kenyamanan yang dapat diberikan oleh penerbangan nasional lainnya.

Does Sex Sell in The Skies?

Diluar keluhan-keluhan yang dikemukakan tentang LCC, ditanyakan juga apa alasan utama mereka dalam memilih sebuah maskapai penerbangan. Responden USA (34%), Canada (36%), French (32%) dan German (27%) yakin bahwa tarif tiket yang paling utama. Di Hongkong, reputasi maskapailah yang paling diperhitungkan (30%) dibanding faktor-faktor lainnya (seperti: tarif murah yang diharapkan oleh 15% responden). Di Singapore dan Thailand, lebih dari 23% responden menyatakan tempat duduk dan penyanggah kaki yang nyaman sebagai alasan utama memilih maskapai penerbangan. Responden Thailand juga menyatakan bahwa kegembiraan dan keramahan merupakan hal penting yang dinyatakan oleh 22% responden sebagai alasan terbanyak kedua  dalam memilih maskapai. Sebaliknya, hanya sekitar 1.9% responden Canada, 1% Singapore, dan hanya satu responden Amerika menganggap kegembiraan dan keramahan sebagai faktor utama pendorong pemilihan sebuah maskapai.

Lalu bagaimana dengan penampilan dari para awak kabin? Penelitian ini menunjukkan bahwa melihat awak kabin yang menarik lebih penting dari makanan lezat atau film bagus dalam sebuah penerbangan.

Dilihat dari keseluruhan responden, sebanyak 25% responden laki-laki—yang merupakan dua kali jumlah responden wanita—merasa bahwa faktor ini lebih penting. Responden Jerman dan Perancis  (65% dan 60%) adalah yang paling tidak tertarik dengan ide ini dibandingkan negara-negara lainnya. Pada responden pria Hongkong, lebih dari 30% menyukai awak kabin yang cantik dibandingkan makanan dan film.

Responden wanita Perancis, seperti kaum prianya, lebih menyukai makanan dan minuman dibandingkan dengan awak kabin yang menarik, tapi secara signifikan minoritas di antaranya (19%) lebih menyukai pelayan daripada sekadar penyegar. Ini berlawanan dengan wanita di Hong Kong (11%) dan Singapore (6%). Secara keseluruhan, wanita lebih banyak yang nyaman dengan film bagus dan makanan enak ketimbang bersenang-senang dengan cowok menarik. Nah, bagaimana dengan Anda? (Lisa Noviani)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top