Portal Lengkap Dunia Marketing

                                                                                                               
Artikel Riset

Siapakah Decision Maker dalam Keluarga?

Bagi seorang marketer, informasi tentang siapa yang menjadi pengambil keputusan dalam pembelian sebuah produk sangatlah penting. Karena dari sanalah mereka bisa membuat segmentasi, siapa sebenarnya target market produk mereka. Selanjutnya, mereka akan membuat promosi dan komunikasi yang pas terhadap “sasaran tembak” tersebut. Misalnya, untuk produk-produk kebutuhan rumah tangga, perlu ditegaskan siapa yang akan lebih banyak didekati, istri atau suami.

Survei berikut memperlihatkan bagaimana peranan masing-masing (istri dan suami)—pada keluarga yang istrinya juga bekerja—dalam memutuskan bagaimana penghasilan bakal digunakan. Data ini merupakan hasil survei BPS dan Departemen Kesehatan—yang disponsori oleh ORC Macro, USA—pada tahun 2003. Survei dilakukan terhadap 29.483 wanita yang pernah dan sedang dalam pernikahan. Umur responden berkisar dari 15-49 tahun, dengan domisili yang tersebar di pulau-pulau utama di Tanah Air, yakni Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi.

Dari seluruh responden, sebanyak 68% wanita berkeluarga yang bekerja menyatakan bahwa yang memutuskan bagaimana penghasilan yang diperoleh digunakan adalah ia sendiri. Sementara, sebesar 29,1% mengaku keputusan tersebut didiskusikan bersama (dengan suami); dan hanya 1,7% yang menyatakan bahwa keputusan pengelolaan keuangan dilakukan oleh orang lain (sebagian besar adalah suaminya).

Berdasarkan usia responden, ditemukan adanya kecenderungan semakin dewasa, semakin banyak wanita yang berperan sebagai pengambil keputusan dalam berbelanja. Sebaliknya, semakin muda, semakin tinggi peranan suami dalam memutuskan penggunaan penghasilan. Sedang wanita yang sudah bercerai nyaris memutuskan sendiri segala sesuatunya, walaupun dalam persentase yang relatif kecil (1,2%) masih diputuskan bersama mantan, dan dalam persentase yang sangat kecil masih diputuskan orang lain (mantan atau keluarga).

Jumlah anak yang dimiliki tidak punya kaitan dengan besarnya peran memutuskan pembelian. Sedangkan dari segi tingkat pendidikan, semakin tinggi pendidikan wanita yang bekerja memperlihatkan makin turunnya kecenderungan peranan diri sendiri sebagai pengambil keputusan, serta makin tingginya kecenderungan untuk memutuskan bersama pasangan.

Pada survei ini didapatkan temuan menarik bahwa lebih dari 80% wanita bekerja menanggung setengah atau lebih belanja rumah tangga, bahkan 43,3% di antaranya menanggung semua belanja rumah tangganya. Ada sebanyak 10,7% wanita berkeluarga dan bekerja yang menanggung kurang dari setengah belanja rumah tangganya dan hanya 2,8% yang sama sekali tidak menanggung biaya keluarganya.

Semakin tinggi usia sang istri, semakin banyak pula yang harus menanggung belanja rumah tangga sendirian. Pada mahligai perkawinan yang retak, semakin besar peranan sang istri dalam menghidupi keluarganya. Peranan wanita bekerja dalam menanggung belanja keluarga ini semakin terlihat di wilayah pedesaan dan juga ketika tingkat pendidikannya makin rendah. (Lisa Noviani)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top