Portal Lengkap Dunia Marketing

                                                                                                               
Lifestyle

Subtitles Posisikan Diri sebagai Pustaka Film

Di tengah gemuruh online streaming dalam menonton film, Subtitles tetap mampu bertahan merangkul viewer dengan keeksklusifannya.

subtitles

Bagi kebanyakan orang, menonton film memang menjadi hobi yang menarik. Selain mengisi waktu luang, aktivitas ini juga menghibur dan menambah wawasan si penonton. Namun, lain halnya bila hobi tersebut sudah merasuk menjadi passion, menonton film pun tak sekadar menjadi aktivitas membunuh waktu. Tenggelam dalam alur cerita menjadi candu bagi mereka. Tidak jarang pilihan film yang dinikmati oleh pencinta berat film ini tidak seperti orang kebanyakan, pun halnya dengan tempat pilihan mereka untuk menonton.

Segmen ini memang sangat kecil, namun tetap ada. Segmen ini pulalah yang disasar oleh Subtitles. Subtitles merupakan bioskop privat berupa ruang-ruang menonton berukuran mini. Awalnya lahir dengan nama “DVD Club” di Latuharhari sebagai tempat rental (penyewaan) DVD film—akhir tahun 1999. Lantas bertransformasi menjadi mini bioskop privat pada tahun 2004, berbarengan dengan kepindahan lokasi ke basement Dharmawangsa Square.

“Berbarengan dengan Jiffest pertama (tahun 1999), ada tren baru di pencinta film yaitu ‘berburu film di luar Holywood movie’. Karena tidak ditayangkan di bioskop maka kami bukalah ruang menonton khusus untuk film-film indie ini. Ternyata minatnya cukup besar dan konsisten. Fluktuatif jumlahnya, tapi tetap konsisten hingga saat ini,” ujar Irna Rasad, Direktur Subtitles, saat disambangi di kantornya.

subtitles

Hingga kini pengunjung terbanyak Subtitles berasal dari beragam kalangan, antara lain pekerja, sineas film, mahasiswa jurusan filmatografi, mahasiswa psikologi, mahasiswa advertising, serta awam pencinta film pada umumnya. Kaum akademisi kerap menjadikan koleksi film di Subtitles—koleksi film lawas—sebagai dasar acuan penelitian mereka.

Namun, Irna menyadari bertahan di pasar yang ia geluti saat ini bukan perkara mudah. Ia harus mencari cara bagaimana terus mempertahankan bisnisnya. Kebutuhan akan layar tontonan tetap tinggi, tapi jumlah pemain di bisnis komidi gambar pun semakin banyak. Apalagi di antaranya adalah pemain-pemain raksasa. Belum lagi ditambah makin hype-nya pasar streaming film melalui internet.

Sebagai diferensiasi, Irna pun memprioritaskan daftar film yang jarang diputar di bioskop untuk tayang di Subtitles. Film berkelas yang menang di festival film internasional, film klasik, dan film independen menjadi andalan Subtitles. Strategi ini dinilai cukup berhasil membuat Subtitles bertahan dari tahun 2004 hingga kini. Irna pun tidak pernah merasa khawatir ditinggalkan penontonnya karena dia sudah memiliki segmentasi penonton yang berbeda dari bioskop besar.

subtitles

“Film itu beragam, tidak hanya yang di bioskop mainstream, dan penonton kami tahu Subtitles berbeda dari bioskop. Kami lebih sebagai library untuk judul film-film indie. Keeksklusifan inilah yang juga dicari oleh penonton kami,” ujarnya.

Bicara fasilitas, Subtitles menawarkan 10 ribu lebih judul film berbagai genre yang berasal dari berbagai penjuru dunia seperti Perancis, India, Iran, Kazakhstan, dan lain-lain. Rentang tahunnya pun tidak tanggung-tanggung, mulai dari film klasik versi hitam-putih hingga film box office. Semua judul film langka tersebut ia buru mulai dari Subtitles berdiri hingga sekarang. Kelengkapan koleksi film itulah menurut Irna yang menjadi nilai lebih sekaligus keunggulan Subtitles ketimbang alternatif bioskop sejenis.

Semua film yang ditonton di Subtitles tidak boleh dibawa pulang. Pengunjung pun bisa membawa film pribadi melalui flash disk atau CD. Film-film tersebut bisa ditonton pada enam studio mini (viewing room) yang diberi nama Kiarostami, Fellini, Almadovar, Kubric, Kurosawa, dan Wong Kar Wai. Tiap viewing room berukuran sekitar 4 X 4 meter persegi dan 4 x 6 meter persegi dengan kapasitas 4─11 orang. Soal audio visual, selain layar lebar ada juga home theater untuk memutar film. Karena mengusung konsep “nyaman”, sofa empuk dan ruangan ber-AC juga menjadi fasilitas viewing room privat ini.

Selain itu, makanan dan minuman tidak ketinggalan ditawarkan di Subtitles bagi para pengunjung. Subtitles memiliki kafe tersendiri dengan suguhan hidangan seperti french fries, lasagna, toast, dan tuna sandwich. Selain itu ada pula minuman berupa variasi softdrink. Harga makanan dan minuman yang ditawarkan berkisar Rp25.00─Rp80.000 per porsi.

Untuk bisa menonton di Subtitles, pengunjung harus melakukan reservasi terlebih dahulu. Pasalnya pada akhir pekan, jumlah viewing room yang ada hampir selalu penuh dipesan. Tarif yang dibebankan untuk menonton di viewing room selama 1 season (2 jam) yaitu Rp175.000 (weekday) dan Rp230.000 (weekend).

Angelina Merlyana Ladjar

MM.03.2017/W

“Subtitles menawarkan 10 ribu lebih judul film berbagai genre yang berasal dari berbagai penjuru dunia seperti Perancis, India, Iran, Kazakhstan, dan lain-lain.”

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top