Portal Lengkap Dunia Marketing

                                                                                                               
Dunia UKM

Tinggalkan Dunia Konsultan, Banting Setir ke Bisnis Katering

William Susilo urung menemukan passion pada tampuk posisi penting di perusahaan properti skala nasional. Passion tersebut justru ditemukan di ranah makanan sehat. Seperti apa kisahnya?

gorry gourmet

Motivasi untuk memicu diri melakukan perubahan dapat kita temukan dari mana saja. Tidak jarang dari hal-hal atau peristiwa yang tidak menyenangkan. Namun, justru kesusahan tersebutlah yang menjadi titik balik, memutar arah kehidupan dari kegagalan menjadi keberhasilan. Sama halnya dengan yang dialami William Susilo. Pria berusia 28 tahun ini menemui beberapa momen penting dalam hidup yang memotivasinya beralih profesi dari head of strategic planning salah satu perusahaan properti terbesar di Tanah Air menjadi pemilik katering.

Momen tersebut adalah saat sang ayah jatuh sakit dan diharuskan mengonsumsi makanan sehat. Kala itu ia sempat kesulitan mencari makanan yang terjamin kesehatannya dan sesuai dengan diet sang ayah. Di sisi lain, kondisi kesehatan William saat itu pun cukup memprihatinkan. Kesibukan kerja membuatnya terjebak pada pola makan yang salah sehingga ia mengalami obesitas. Momen lain yang juga memicunya adalah kejenuhan dalam diri William sebagai karyawan.

Meski sudah mencapai posisi yang menggiurkan di usia yang masih sangat muda, lulusan terbaik Universitas Indonesia jurusan ilmu akuntansi ini masih saja merasa ada yang kurang dalam dirinya. “Setinggi apa pun posisinya (karyawan), tetap saja yang dikerjakan adalah visi orang lain. Jelas belum tentu sesuai dengan ukuran ideal menurut kita. Lain halnya dengan wirausaha. Mau itu sekecil apa pun, kita bekerja untuk tujuan dan nilai yang kita percaya,” terang William.

Akhirnya pada September 2014, ia pun menjajal kemampuan wirausahanya di bidang kuliner yakni katering. William secara spesifik memilih katering makanan sehat. Positioning ini menurutnya lebih potensial melihat tingginya demand serta belum maraknya pemain katering sehat kala itu. Platform online—yakni melalui website www.gorrygourmet.com―ia pilih karena lebih mudah menjangkau konsumennya dan tentu saja low cost. Secara garis besar William menjelaskan target konsumen Gorry Gourmet adalah umum; pria-wanita, dewasa-anak yang membutuhkan makanan sehat atau makanan dengan kandungan nutrisi tertentu.

“Kondisi makanan sehat tiap-tiap orang itu berbeda. Makanan sehat untuk pasien kolesterol beda dengan jantung, makanan sehat untuk pasien diet juga beda dengan olahragawan. Nah, kami di sini ada untuk mengelompokkan makanan sehat tersebut dalam pilihan menu yang ada di sistem kami. Intinya saya ingin membagi akses informasi dan kemudahan mendapatkan makanan sehat mulai dari web sampai akhirnya makanan tiba di depan pintu rumah konsumen,” papar William.gorry gourmet

Sebagai diferensiasi dari kompetitor, ia memberikan layanan konsultasi kebutuhan makanan sehat dari ahli gizi dan nutrisionis secara gratis kepada konsumennya. Konsultasi tersebut menurutnya terkait kebutuhan katering untuk menurunkan berat badan (diet), pembentukan tubuh (muscle building), pantangan tertentu misalnya gluten, gula atau garam, dan sebagainya.

Satu hal yang digarisbawahi William, ia ingin menunjukkan kepada khalayak ramai bahwa makanan sehat harus lebih mudah diakses dalam wujud menu yang variatif, menyenangkan, serta enak. Untuk itu ia mempekerjakan Chef Muzab sebagai executive chef. Muzab merupakan chef profesional yang memiliki sejumlah pengalaman di dunia kuliner internasional lebih dari 23 tahun.

Terkait harga, ia mematok mulai dari Rp25.000 hingga Rp55.000 untuk hidangan a la carte. Sementara menu diet dipatok dengan harga Rp2,5 juta untuk paket program selama 14 hari. Meski matang dalam perencanaan, bukan berarti upaya William mulus tanpa kendala. Di awal, ia sempat kesulitan soal awareness dan jumlah SDM. “Salah satu cara kami mengenalkan produk adalah dengan banyak mengikuti pop up market atau bazar. Itu pun dilakukan sendiri, karena tim masih sedikit. Hanya ada saya, rekan saya, chef, dan supervisor logistik,” ujarnya bercerita.

Beruntung di tahun pertama, growth yang dialami Gorry Gourmet cukup membanggakan. Sebanyak 3.000 pelanggan terjaring di tahun pertama dan hingga kini jumlahnya terus bertambah mencapai 5.000 pelanggan. Sebanyak 90% pelanggan tersebut berasal dari Jabodetabek, 10% sisanya tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam waktu dekat, Gorry Gourmet juga tengah berencana menggarap aplikasi mobile untuk Android dan iOS. Menurut William, nantinya aplikasi tersebut akan menyediakan fitur yang mempermudah subscriber berinteraksi dengan pihaknya. “Untuk konsultasi misalnya, nanti akan dihadirkan dalam bentuk aplikasi chatting dan juga interactive exercise yang diharapkan bisa menarik calon konsumen baru,” tutupnya.

Angelina Merlyana Ladjar

MM.02.2017

“Sebanyak 3.000 pelanggan terjaring di tahun pertama dan hingga kini jumlahnya terus bertambah mencapai 5.000 pelanggan.”

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top