Portal Lengkap Dunia Marketing

                                                                                                               
Dunia Digital

Usung Konsep Supermarket Asuransi Online

Marketing.co.id – Start-up ini menggarap ceruk pasar yang selama ini diabaikan saluran distribusi yang ada. Target pasarnya adalah mereka yang malas bertemu agen dan sensitif terhadap harga. Seperti apa strateginya?

FUTUREADY

Selama ini kita hanya mengenal tiga saluran distribusi (distribution channel) untuk produk asuransi. Ketiga saluran distribusi tersebut mencakup agen, broker, dan bancassurance. Agen asuransi mewakili perusahaan asuransi untuk melayani dan menjual produk mereka. Namun, agen hanya bekerja untuk satu perusahaan dan biasanya fokus pada produk dengan marjin tinggi.

Broker adalah perusahaan jasa konsultasi yang memediasi perusahaan asuransi dengan nasabah. Broker tidak bisa menjual produk kepada nasabah individu, melainkan menjual ke korporat. Sementara bancassurance berada dalam posisi menjual, dimana bank menjadi perantara perusahaan asuransi dengan nasabah.

Tiga saluran distribusi di atas bersifat konvensional, karena masih butuh kantor fisik dan SDM yang bertindak sebagai agen asuransi. Wajar saja jika kemudian tarif premi asuransi menjadi mahal. Kehadiran broker asuransi online seperti Futuready.com diharapkan bisa membuat tarif premi asuransi menjadi terjangkau, karena perusahaan tidak perlu mengeluarkan investasi untuk membuka kantor fisik serta merekrut dan menggaji para agen.

Sendy, CEO dan President Director Futuready, menuturkan laman Futuready bukan hanya menawarkan premi yang terjangkau, namun juga membebaskan calon nasabah dari “gangguan” agen asuransi. “Saat ini mulai tumbuh kesadaran untuk membeli asuransi, cuma banyak yang malas bertemu agen atau takut dikejar-kejar agen. Kami menyediakan channel alternatif buat orang-orang seperti ini. Ingin beli tapi tetap mereka yang pegang kontrol,” jelas Sendy yang diwawancarai di Hotel Shangrila, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sesuai dengan hasil survei Futuready mengenai kebutuhan pembelian asuransi online, ada empat aspek yang menjadi tuntutan nasabah. Keempat aspek tersebut mencakup fitur komparasi produk, kontrol penuh terhadap produk asuransi yang dibeli, transparansi, dan low effort.

Jawab Tuntutan Nasabah

Sendy menegaskan, Futuready berupaya untuk menjawab empat tuntutan di atas. Adapun konsep yang ditawarkan yaitu supermarket asuransi dengan menyasar segmen ritel. Produk yang ditawarkan bersifat instant underwriting, atau produk-produk yang tidak butuh penjelasan panjang lebar. “Untuk produk-produk yang rumit jangan beli pada kami. Kami menjual yang sudah jelas parameternya. Seperti beli di supermarket, produk ada di rak dan konsumen tinggal pilih dan beli,” jelas Sendy.futuready

Karena hanya menyasar segmen ritel dan mengadopsi supermarket asuransi, maka Futuready tidak bersaing head to head dengan broker asuransi yang menggarap segmen korporat dan agen asuransi yang menjual produk-produk asuransi bernilai tinggi. Dari sisi tarif premi, Futuready bermain di kisaran Rp500 ribu–Rp5 juta. “Ini masih affordable buat banyak orang, ketimbang beli unit link yang preminya Rp1 juta sebulan, agak berat,” imbuh dia.

Futuready memperoleh izin operasi pada Juni 2015 lalu dengan mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. KEP-518/NB-1/2015. Namun, e-commerce ini baru aktif menjual pada April 2016 lalu.

Sendy mengklaim, pengunjung Futuready rata-rata mencapai 200 ribu per bulan sampai Juli 2016 lalu, dan yang akhirnya membeli produk asuransi rata-rata 50 nasabah per bulan. Menilik dari angka ini, berarti persentase rasio kunjungan dengan transaksi baru mencapai 0,025% per bulan. Jelas, Futuready harus bekerja keras untuk meningkatkan angka konversi kunjungan menjadi transaksi (real transaction).

Rata-rata premi yang terjual berada di kisaran Rp400 dengan asuransi perjalanan (travel) sebagai best seller. Selain menjual asuransi perjalanan, Futuready—start-up di bawah naungan AEGON (perusahaan asuransi Belanda)—juga menjual asuransi kesehatan dan kecelakaan. “Perilaku membeli terjadi setelah beberapa kali berkunjung, dan pembelian sebagian besar melalui dekstop, karena mungkin ribet kalau transaksi pakai kartu kredit melalui ponsel,” pungkas dia.

Tony Burhanudin

MM092016/W

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top