Portal Lengkap Dunia Marketing

                                                                                                               
Marketing

Yang Alami dari Shanghai

Meningkatnya pencinta hewan peliharaan di Indonesia menciptakan peluang bisnis makanan hewan peliharaan. Masuknya Nature Bridge membuat persaingan di kategori ini semakin ketat.

nature bridge

Memenuhi kebutuhan kelas menengah seolah tak pernah ada habisnya. Dari segi asupan makanan dan nutrisi misalnya, segmen ini bukan hanya sangat memerhatikan asupan yang masuk ke dalam tubuhnya, namun juga asupan yang masuk ke dalam tubuh hewan peliharaan mereka. Mereka telaten memerhatikan asupan untuk hewan peliharaan agar hewan  tumbuh sehat.

Seperti kita tahu, di pasaran ada beberapa merek makanan hewan peliharaan, terutama untuk anjing dan kucing. Merek-merek tersebut antara lain Whiskas, Maxi, Pro Plan, Royal Canin, Me-O, Frieskies, dan Alpo. Dua dari merek yang disebut belakangan diproduksi oleh Nestle Purina; Friskies untuk makanan kucing, dan Alpo untuk makanan anjing.

Thomas Aquinas Nugroho, Country Business Manager Nestle Purina PetCare, seperti dikutip Liputan6.com, mengatakan Friskies dan Alpo menjadi market leader untuk produk makanan hewan di Indonesia. Pertumbuhan produk ini setiap tahun mencapai double digit, sekitar 15%–20%. Salah satu faktor pendorongnya yaitu peningkatan jumlah penduduk Indonesia yang memelihara dan membeli makanan anjing dan kucing, yang meningkat 15%–20%.

Thomas mengklaim, kualitas dan nutrisi produk makanan Nestle Purina seperti Friskies dan Alpo sudah sangat lengkap untuk memenuhi kebutuhan gizi dan asupan makanan bagi kucing dan anjing.

“Dengan mengonsumsi Friskies untuk kucing dan Alpo untuk Anjing, tanpa dicampur jenis makanan lain, kebutuhan nutrisi baik kucing maupun anjing sudah terpenuhi dan tidak kekurangan apa pun sehingga tubuhnya sudah pasti sehat,” kata Thomas kepada Liputan6.com.

Ke depan, persaingan di produk makanan hewan peliharaan akan kian ketat dengan masuknya merek “Nature Bridge”. Merek asal Tiongkok ini diboyong oleh PT SUHS (Sumber Satwa Hidup). PT SUHS bukanlah perusahaan baru. Perusahaan yang berafiliasi dengan PT Central Proteina Prima Tbk ini sudah berdiri sejak tahun 1977. Perusahaan ini memiliki empat lini produk, yaitu vaksin, vitamin dan obat-obatan, imbuhan pakan, serta disinfektan dan produk kesehatan lingkungan.

pet care 02

Nature Bridge diproduksi oleh Bridge PetCare yang berkantor pusat di Shanghai, Tiongkok. Bridge PetCare memiliki pabrik di Jinshan dan Shandong. Perusahaan yang berdiri pada Maret 2002 ini dalam waktu singkat menjadi pemain penting di pasar pakan anjing dan kucing di Tiongkok. Jerry Xu, Pendiri Bridge PetCare, mengatakan Nature Bridge bisa sukses di Tiongkok karena menggabungkan konsep alami kawasan Eropa Utara dan keunggulan herbal Tiongkok.

“Eropa Utara memiliki reputasi sebagai ‘lembah surga’ bumi, dengan air laut yang jernih dan udara yang bersih. Binatang di kawasan ini tumbuh sehat alami dalam kemurnian nutrisi yang disediakan alam,” kata Jerry dalam jumpa pers, di Kemayoran, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Konsep alami Bridge PetCare diterjemahkan dengan membuat pakan hewan peliharaan yang mengandung herbal alami, tanpa pewarna, tanpa pengawet, tanpa pemanis buatan, dan hormon pemicu pertumbuhan. “Nature Bridge dikenal sebagai low sensitivity pet food yang tidak mengandung jagung, gandum, dan bahan lain yang menyebabkan alergi bagi anjing dan kucing,” tambah Jerry.

Dia mengatakan, pihaknya tertarik masuk ke Indonesia karena negara ini merupakan emerging market yang pertumbuhan ekonominya cukup stabil. Indonesia menjadi pasar potensial bagi Bridge PetCare dengan besarnya jumlah kelas menengah di perkotaan. Dia meyakini bisa sukses di sini karena kondisi pasar Indonesia mirip dengan Tiongkok. “Kami berasal dari Shanghai. Seperti Jakarta, Shanghai juga kota besar,” jelas Jerry.

Segmen Premium

Sementara itu, Ahmad Fachrur Rivai, GM Marketing PT SUHS, mengatakan dengan memasarkan Nature Bridge, pihaknya ingin masuk ke pasar premium di kategori makanan hewan peliharaan. Dalam waktu dekat dia belum menargetkan menjadi pemimpin pasar, namun cukup menjadi pemain yang diperhitungkan di pasar makanan hewan.

“Strateginya antara lain masuk ke specialties channel seperti pet shop. Tapi, yang paling penting menciptakan customer experiences, jadi kita harus menjangkau konsumen secepatnya agar mau mencoba produk kami,” jelas dia.

Untuk end user, salah satu yang dibidik adalah komunitas pencinta hewan di Indonesia. Hal ini sesuai dengan strategi bisnis perusahaan yakni “3C” (customer, consumer, community). Fachrur mengatakan, dari total 300 lebih item produk yang dikembangkan Bridge PetCare, sebanyak 32 item produk akan dipasarkan di Indonesia. “Dari 32 item produk itu, semuanya sudah kami pelajari dalam setahun terakhir. Kami optimistis menjadi pemain besar di pet food,” tegasnya.

Varian produk Nature Bridge cukup lengkap. Produk yang ditawarkan mencakup obat untuk menangani penyakit anjing dan kucing seperti ginjal, saluran kencing, pencernaan, dan jantung. Termasuk pengobatan untuk meningkatkan daya tubuh dan kesehatan kulit hewan.

Sebuah langkah tepat PT SUHS menggarap pasar makanan hewan peliharaan. Menurut Didit Siswodwiatmoko, Direktur Temali, Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah hewan peliharaan yang cukup tinggi. Pangsa pasar hewan peliharaan di Indonesia mencapai 15,6% di Asia Tenggara (Tribunnews).

Sementara pertumbuhan sektor hewan peliharaan di Indonesia diperkirakan akan mencapai 7,1% hingga tahun 2020. Data Temali menunjukkan pangsa makanan hewan peliharaan anjing (dog food) 51,8%; makanan kucing (cat food) 20,2%; produk terkait hewan peliharaan (pet products) 16,9%; dan produk lainnya (others) 11,1%.

Tony Burhanudin

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top