Agar Diskon Menjadi Efektif

0
878

bipolar-bear-219x300 Sudah pasti setiap menjelang hari perayaan tertentu seperti Lebaran, Natal, Tahun Baru Imlek atau pada momen tertentu seperti Jakarta Great Sale toko-toko di Mal akan memampangkan diskon besar-besaran sampai 70% untuk artikel tertentu.

Buat para individu yang doyan belanja tentu hal ini merupakan hal yang sangat ditunggu-tungggu. Namun memberikan diskon apalagi dalam kondisi tidak tepat sebenarnya malahan bisa membuat nilai dari barang atau jasa yang kita tawarkan itu bisa menurun “harganya” di mata konsumen. Alih-alih ingin meningkatkan pendapatan, malah akhirnya harus kehilangan nama dan pendapatan selanjutnya di masa depan.

Saya sendiri sering melihat ada beberapa hal yang sering membuat orang tergoda untuk mendapatkan barang yang sudah didiskon daripada harus membeli barang yang belum didiskon. Teman saya sendiri seringkali harus menunggu keinginanannya membeli suatu barang sampai diskon diberlakukan. Dari obrolan dengan beberapa teman ini saya sedikit mendapatkan ide menuliskan beberapa point penting untuk menerapkan diskon pada produk dan jasa yang kita tawarkan.

1. Diskon berlaku pada waktu tertentu

Diskon ada baiknya diberlakukan pada waktu tertentu saja. Memberikan label diskon pada barang yang anda jual setiap waktu malahan akan membuat harga nilai barang anda sendiri menurun. Orang akan berpikir tidak ada bedanya barang tersebut saat di musim diskon dengan biasa. Hal ini tidak mampu menggerakan calon konsumen untuk mengambil barang tersebut atau menyediakan sedikit dana untuk membeli barang tersebut. Lihat saja contoh ketika di pameran berlangsung jual beli produk dengan diskon. Orang cenderung tertarik karena ketika pameran usai harganya akan kembali ke semula. Saya pernah membeli barang yang sebenarnya masih bisa ditunda karena tergiur diskon pameran. Jadi diskon itu memang perlu ada batasan waktunya agar barang anda tetap bernilai.

2. Besar Diskon Rasional

Semua orang memang suka mendapatkan barang yang murah tetapi memberikan diskon terlalu besar pada produk anda akan membuat orang berpikir ada masalah dengan produk yang anda jual. Ataupun kalau memang demikian adanya, maka kebanyakan orang tidak akan terlalu tergerak untuk segera membeli. Misalnya anda menjual barang sisa ekspor dengan diskon 70% tetapi ada cacat di beberapa tempat yang cukup nyata. Jualan anda mungkin bisa laku juga tetapi mungkin peminatnya kurang banyak. Beberapa orang banyak yang memahami bahwa harga barang yang dijual diskon sebenarnya memang lah harga yang sebenarnya berkaitan dengan barang itu. Kondisi ini sering kali tidak mampu menggerakan orang untuk membeli barang tersebut karena ada perasaan “ditipu” oleh diskon dan tentunya oleh penjualnya yaitu anda.

3. Semua Kalangan Suka Diskon

Jangan dipikir kalau hanya orang berkantong tipis saja atau pas-pasan yang suka diskon. Banyak penelitian kualitatif mengatakan pada dasarnya seseorang memang menginginkan suatu barang yang bagus tetapi murah. Hal ini sering saya lihat contohnya pada usaha makanan. Banyak usaha makanan yang bangkrut karena menerapkan barang yang bagus tapi mahal. Ternyata tidak semua orang mau mengeluarkan uang yang lebih untuk sesuatu yang bagus dan mahal kalau dia masih bisa mendapatkan sesuatu yang bagus dan murah (bukan murahan). Jadi dengan diskon yang rasional dan tepat sasaran maka sebenarnya makin banyak orang akan tertarik membeli barang dan jasa yang kita tawarkan.

Sudah siapkah anda mendiskon barang dan jasa anda ?

Tulisan dr.Andri,SpKJ
(psikiater dengan kekhususan di bidang psikosomatik medis, staf pengajar di FK UKRIDA dan Kepala Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.