AHRS: Tak Henti Berinovasi

0
3692

Brand AHRS dibangun dengan kesabaran dan kerja keras, serta sikap pantang menyerah menghadapi kegagalan. Kini, nama AHRS telah berkibar bukan saja di produk spare parts dan aksesori motor, namun juga di arena balap motor.

Picture 184webAHRS adalah merek yang sudah tidak asing di dunia otomotif, khusunya sepeda motor. Bagi pecinta asesoris sepeda motor, seperti knalpot, jaket, warepack balap, racing part, dan lainnya, tentu sangat mengenal dengan merek satu ini. Selain harganya terjangkau, kualitas produknya pun tidak kalah dengan produk luar. Banyak orang menyebut AHRS, namun merek ini sebenarnya merupakan kepanjangan dari Asep Hendro Racing Sport. Asep Hendro adalah pendiri sekaligus pemimpin perusahaan AHRS Racing Product.

Menggunakan balap sebagai bahasa komunikasinya, AHRS sukses di dua dunia, bisnis dan balap. Dari pedagang keliling, Asep Hendro berevolusi menjadi pengusaha beromset milyaran dari industri racing part, spare part, variasi sampai apparel sepeda motor.
Berawal dari hobi balap motor, H. Asep Hendro, merintis usaha penjualan jaket motor sejak tahun 1997. Usaha ini dilakukan dengan berkeliling Jakarta, sambil tetap menjalankan hobi balap motornya. Dari modal awal yang hanya sekitar Rp 3,5 juta dari hasil balap motor, usaha yang ia tekuni ini berkembang seiring dengan meningkatnya permintaan jaket. Tahu usahanya mulai berkembang, kemudian Asep pun mengembangkannya dengan memproduksi knalpot. Saat itu, knalpot yang dia produksi belum ada mereknya.

Tak disangka, usaha penjualan jaket yang pertama kali dirintis berkembang pesat, sampai kemudian seorang tukang jahitnya mengusulkan nama AHRS (Asep Hendro Racing Sport) untuk produk jaket yang mereka dijual. Sejak saat itulah nama AHRS menjadi merek semua produk yang dipasarkan, seperti knalpot, baju balap, apparel, aksesori, merchandise, dan masih banyak lagi. “Lebih kurang 200 item diproduksi AHRS,” kata Asep.

Lewat AHRS, lelaki asli Garut ini memiliki visi untuk menciptakan barang-barang part racing yang betul-betul bagus dan bisa bersaing dengan produk luar. Selain itu, mantan pembalap dari tim Suzuki ini menginginkan produk-produk AHRS menjadi yang terbaik dan terdepan di pasar.

Sejak berdiri  tahun 1997 hingga sekarang, Asep mendayagunakan keluarganya untuk mengelola bagian-bagian pekerjaan di AHRS, seperti di bagian baju, spare parts, yang sampai kini semakin berkembang dengan produk-produk lain. “Alhamdullilah. Saya bersyukur bisa membantu keluarga dan teman-teman. Saat ini, AHRS telah berkembang dengan jumlah karyawan mencapai sekitar 500 orang,” kata Asep bangga.

Umumnya, produk AHRS diarahkan untuk kalangan pencinta sepeda motor. Pasarnya pun tidak hanya berkembang di dalam negeri, namun juga telah merambah ke berbagai negara, terutama negara tetangga. Untuk baju balap, AHRS sudah dipasarkan hingga ke Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura, sejak tiga tahun yang lalu. Saat ini, AHRS ingin melebarkan sayap dengan memasarkan baju balap apparel ke Eropa. Di Indonesia sendiri, Asep mengklaim hampir 90 persen menguasai pasar. Sementara di Malaysia, khusus untuk baju balap, pangsa pasarnya hampir 80 persen.

“Itu merupakan suatu kebanggaan buat saya, produk lokal bisa bersaing dengan produk luar di pasar internasional. Produk AHRS sudah berstandar internasional, dan kini sedang mengembangkan lagi dua produk baru yang kualitasnya lebih bagus,” terang Asep.

Kalau soal harga, tentu saja produk AHRS lebih murah dibanding produk luar. Baju balap produk dari luar misalnya, harga yang ditawarkan bisa mencapai Rp 20 juta. Sedangkan produk AHRS cuma seharga Rp 6 juta, namun kualitasnya mampu bersaing.

Mengenai strategi pemasaran dari produk-produk AHRS, Asep mengungkapkan bahwa AHRS mempunyai tips-tips tersendiri dalam menggarap pasar—melalui riset. Asep mengakui, kondisi sekarang, dengan sudah berlakunya pasar bebas ASEAN, kompetitor—terutama di bidang part racing—semakin banyak. Selain itu, AHRS juga punya tim balap, baik di MotoCross maupun di Road Race, yang bisa menjadi media promosi buat AHRS. “Karena, apabila produk kita betul-betul teruji di medan balap, otomatis brand image AHRS semakin meningkat,” kata ayah dari Farhan Hendro—juara nasional Grade B MotoCross, sejak empat tahun terakhir.

Sepak terjang Asep yang masih aktif di dunia balap menyebabkan dirinya tahu apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan konsumen, sehingga AHRS bisa lebih meningkatkan pelayanannya. Ditambahkan Asep, AHRS mempunyai tim research and development (R&D) serta tim desain yang bisa terus melakukan eksplorasi dan inovasi produk.

“Karena, kalau tidak melakukan eksplorasi dan inovasi produk, kita bisa ketinggalan. Maklum saja, saat ini kompetitor semakin banyak. Adanya pasar bebas cukup berpengaruh juga terhadap daya saing pasar,” jelas ayah dari crosser Farhan Hendro ini.

AHRS memiliki tim survei sendiri untuk mengenali kemauan pasar. Misalnya, kebutuhan pasar yang menjadi tren di tahun 2010 itu seperti apa? Apakah dari produk knalpot, atau dari jaket, atau aksesori lain. “Dengan adanya tim R&D, kita terus kembangkan dan ciptakan produk-produk inovatif yang akan menjadi tren di pasar,” imbuh Asep.

Lebih lanjut dijelaskan, untuk setiap jenis produk AHRS, dipatok harga yang berbeda. Sebagai contoh, dari baju balap saja, ada tipe yang high end (paling bagus), medium, dan yang termurah; mulai harga Rp 5 juta, Rp 4 jutaan, dan Rp 3,5 juta. Beragamnya harga tergantung pada kualitas bahan. Harga yang dibanderol itu dianggap masih lebih murah dibanding harga produk dari luar. Kendati murah, bukan berarti kualitasnya asal-asalan. AHRS tetap mempertahankan kualitas untuk menjaga brand image.

Di saat normal, omzet yang diraih usaha Asep bisa mencapai Rp 3 miliar per bulan. Namun, sekarang ini, sejak bulan November 2009 sampai Mei 2010, usaha sedang mengalami masa-masa sulit hingga turun mencapai sekitar 60 persen dari total omzet. Diakuinya, Undang-undang  No. 22  Tahun 2010 mengenai tingkat kebisingan kendaraan bermotor menyebabkan kelesuan di pasar knalpot. Asep merasa kebijakan itu masih belum jelas mengenai batasan desibelnya.

“Bersama teman-teman di asosiasi sepeda motor, kita bukan bermaksud melawan pemerintah. Kita ingin ikut aturan pemerintah, tapi kita butuh kejelasan. Namun, saat ini masih belum ada batasan mengenai desibelnya. Padahal, itu sangat berpengaruh ke omzet. Terus terang, omzet terbesar AHRS adalah dari penjualan produk knalpot, hampir sekitar 30 persen dari total omzet,” keluh Asep.

Seiring mulai berlakunya pasar bebas, AHRS tak gentar menghadapi semakin banyaknya kompetitor dari luar negeri. Strategi yang dilakukan AHSR adalah dengan melakukan inovasi terus-menerus. Produk yang dihasilkan bukan asal buat, tetapi melalui tahapan riset terlebih dahulu. Asep selalu mengikuti perkembangan dunia otomotif. Selain di arena balap, dia juga melakukannya dengan browsing di internet. Asep juga tak segan melihat produk-produk luar untuk bisa dikembangkan menjadi produk-produk yang unik, agar menjadi tren di masa depan.

Di dalam negeri, pemasaran AHRS sudah meluas. Usaha ini memiliki banyak agen penjualan. Ada sekitar 200 agen yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke.

Diakui Asep, dalam menjalankan usahanya ini, hambatan selalu ada. “Yang namanya usaha tidak selamanya lancar. Sebagai contoh, sejak adanya UU No. 22 Tahun 2010 tentang batasan desibel kendaraan bermotor, itu sangat berpengaruh terhadap penjualan. Para agen pun menjadi macet dalam hal pembayaran,” jelas dia.

Ke depan, AHRS ingin fokus ke produk apparel, jaket harian yang betul-betul aman bagi pengendara motor. Jaket ini pun nantinya tersedia dalam tiga kategori harga, dari mulai yang termurah, sedang, dan termahal. Kini, AHRS sudah menjadi brand yang cukup kuat di pasar. Asep menyadari, ke depan persaingan bertambah ketat, terutama dengan membanjirnya produk impor sebagai dampak pasar bebas. Namun demikian, Asep optimistis bisa bersaing, karena kualitas produk AHRS tidak kalah dari yang lain. Asep tidak mau brand AHRS mutunya tidak bagus. Oleh karena itu, Asep mewajibkan semua produk AHRS melewati tes dahulu.

Mengenai kunci sukses usahanya, Asep mengatakan bahwa setiap kegagalan jadi motivasi bagi dia untuk terus berusaha. Selain itu, sikap jujur, kerja keras, dan rajin berinovasi juga menjadi faktor penentu keberhasilan. (Majalah MARKETING/Harry Tanoso)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.