Startup PHK Besar-Besaran, Alpha JWC Ventures Luncurkan ASEAN Growth & Scale Talent Playbook

0
36

Alpha JWC Ventures, Kearney, dan GRIT meluncurkan ASEAN Growth & Scale ‘Talent Playbook’ untuk membantu startup membangun talenta digital di tengah gejolak industri teknologiAlpha JWC Ventures, Kearney, dan GRIT meluncurkan ASEAN Growth & Scale ‘Talent Playbook’ untuk membantu startup membangun talenta digital di tengah gejolak industri teknologi

Marketing.co.id – Berita Marketing | Riset menemukan 9 dari 10 perusahaan teknologi di Asia Tenggara menghadapi tantangan dalam rekrutmen dan manajemen karyawan. Sebaliknya, 91% karyawan mengaku terbuka untuk meninggalkan perusahaan mereka bila ada kesempatan baru. Hasil ini diuraikan dalam Growth & Scale Talent Playbook yang diluncurkan oleh firma modal ventura Alpha JWC Ventures bersama konsultan global Kearney and platform rekrutmen GRIT pekan ini.

Buku panduan yang diluncurkan hari ini, Jumat (2/12) di Pelataran Senayan, Jakarta, ini bertujuan untuk mengedukasi serta membina startup dan perusahaan digital dalam menarik, mengelola, dan mempertahankan tenaga kerja. Survei ini melibatkan ratusan karyawan startup dan hampir 40 pendiri startup di enam negara ASEAN.

Talent Playbook ini diluncurkan dengan tujuan mengedukasi dan membantu pendiri (founder) maupun calon founder perusahaan rintisan (startup) digital dalam menarik, mengelola, dan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) secara efektif dan berkelanjutan. Panduan ini mencakup temuan-temuan utama seputar evolusi persyaratan tenaga kerja dari berbagai tahapan startup, mulai dari pre-seed hingga unicorn, berdasarkan survei ke ratusan karyawan startup dan puluhan pendiri atau pemimpin perusahaan di 6 negara ASEAN yang dipadukan dengan paparan data sekunder serta analisis industri terkini. Selain itu, terdapat juga poin-poin yang dapat dijadikan landasan bagi perusahaan untuk menarik, mengelola, dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) dengan spesialisasi di bidang teknologi secara efektif.

Salah satu temuan terpenting riset ini adalah 9 dari 10 perusahaan teknologi mengalami kesulitan dalam merekrut karyawan berkualitas terutama yang memiliki kemampuan teknis dan non-teknis. Padahal, kebutuhan akan talenta digital akan terus meningkat pada tahun mendatang. Di Indonesia, pasar ICT (Internet, Communication, and Technology) diproyeksi meningkat hingga lebih dari 48% dari tahun 2021-2026 mencapai hampir USD 49 miliar. Maka, tidak heran jika kebutuhan tenaga digital akan meningkat 1.4x – 1.8x pada tahun 2026 bila dibandingkan dengan saat ini.

Dengan persaingan tenaga kerja yang ketat dan pergeseran mindset pekerja, serta tantangan ekonomi yang sedang berlangsung, sangat penting bagi para pimpinan startup untuk mengetahui tantangan-tantangan yang dihadapi di lanskap tenaga kerja. Selain itu, pimpinan startup harus mempersiapkan diri untuk menavigasi tantangan-tantangan makroekonomi yang memiliki dampak pada perekrutan.

Para pendiri startup juga perlu diedukasi mengenai perbedaan peran-peran dan posisi-posisi yang dibutuhkan sesuai dengan skala perusahaan. Seiring dengan perkembangan perusahaan, perekrutan bukanlah satu-satunya hal penting dalam membangun tim. Perusahaan harus berupaya penuh dalam mengelola dan mempertahankan talenta yang mereka miliki. Berdasarkan survei, ditemukan bahwa terdapat tiga tantangan utama bagi para perekrut dalam mempertahankan karyawan yaitu kompensasi, ketidakcocokan antara keterampilan dan pengalaman, serta persepsi akan perusahaan sebagai tempat yang sesuai untuk karyawan mengembangkan karir (employer branding).

Dalam proporsi perusahaan yang disurvei, perusahaan tahap awal menghadapi masalah yang lebih besar dengan kompensasi, sementara korporat dan perusahaan tahap akhir menghadapi masalah yang lebih besar dengan persepsi citra perusahaan. Kegagalan untuk mengatasi masalah ini akan menyebabkan tingkat perputaran karyawan yang tinggi.

Penelitian ini juga menemukan bahwa tenaga kerja di sektor teknologi rentan untuk meninggalkan perusahaan mereka – 91% karyawan mengaku terbuka untuk meninggalkan perusahaan mereka bila ada kesempatan baru. Terdapat tiga faktor utama yang kerap dijadikan alasan dalam meninggalkan pekerjaan: mendapatkan tawaran kompensasi yang lebih baik, ketidaksejajaran dengan visi dan budaya perusahaan, dan minimnya kesempatan untuk berkembang. Ini merupakan hal penting yang perlu diperhatikan bagi perusahaan. Di Indonesia sendiri, ketidakcocokan dengan visi-misi perusahaan maupun dengan pimpinan atau rekan sejawat adalah alasan terbanyak yang diberikan karyawan untuk meninggalkan perusahaannya saat ini.

Menjawab tantangan dalam menghadapi kebutuhan tenaga digital, buku pedoman ini akan menghadirkan enam pilar penting untuk menarik, membangun, dan mempertahankan tenaga kerja digital, yang perlu didukung dengan budaya, struktur penghargaan dan kompensasi yang sesuai, serta infrastruktur rekrutmen yang mumpuni agar dapat membangun pondasi SDM yang kuat.

“Kami sadar bahwa dukungan untuk startup, terutama di bidang manajemen tenaga kerja, sangat dibutuhkan terutama di kondisi ekonomi saat ini. Pimpinan startup harus mengambil langkah tepat untuk menyeimbangkan antara upaya untuk berkembang dan keberlanjutan finansial, dan ini membutuhkan SDM yang tepat, mulai dari rekrutmen hingga retensi. Melalui buku panduan ini, kami berharap dapat membekali startup-startup dengan pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan untuk tak hanya bertahan di saat seperti ini, tapi juga untuk menjadi market leader di industrinya masing-masing,” jelas Erika Dianasari, Partner, Alpha JWC Ventures.

“Mengembangkan sumber daya manusia yang solid adalah salah satu prioritas terpenting dan kunci utama bagi perusahaan agar visi digital mereka dapat berhasil. Tentunya hal ini baru dapat dicapai dengan adanya usaha bersama antara pimpinan perusahaan dan jajaran lainnya dalam upaya yang berkelanjutan, juga mencakup seluruh tingkat organisasi,” ujar Shirley Santoso, Partner & President Director, Kearney.

“Terlepas dari tantangan dan restrukturisasi yang kerap terjadi di perusahaan teknologi, Asia Tenggara masih terus menghadapi kekurangan talenta digital. Maka dari itu, kami sangat senang bisa memiliki kesempatan bersama Alpha JWC dan Kearney untuk mengeksplorasi lebih lanjut dari perspektif perusahaan dan pekerja dalam aspek daya tarik, keterlibatan, dan retensi yang hasilnya berhasil kami rampungkan menjadi buku pedoman paling komprehensif di Asia Tenggara. Pembahasan mengenai peluang dan tantangan di kawasan ini diharapkan dapat memberikan wawasan, informasi, dan pedoman untuk organisasi di berbagai tahap agar terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan progresif. Buku pedoman ini juga dikembangkan untuk membantu perusahaan agar berhasil menarik, melibatkan, dan mempertahankan aset terpenting perusahaan mereka yaitu SDM,” tutup Paul Endacott, Pendiri dan CEO GRIT.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.