Belanja Iklan di Asia Tenggara Terus Meningat

0
1133

www.marketing.co.id – Pembelanjaan iklan di kuartal tiga di wilayah regional melebihi US$ 5 miliar dan pembelanjaan iklan televisi adalah yang paling berkontribusi besar terhadap pendapatan iklan di media.

Belanja iklan di Asia Tenggara telah mencatat pertumbuhan yang baik di semua media utama, melebihi US$ 5 miliar pada kuartal ketiga di tahun 2011. Hal ini telah diprediksi oleh salah satu perusahaan riset media dan informasi global, Nielsen.

Nielsen’s Southeast Asia Quarterly Advertising Index mengungkap bahwa total belanja iklan di seluruh wilayah naik 3% dari kuartal tiga 2011 dibanding dengan kuartal dua. Hasil kuartal terbaru bahkan menunjukkan adanya kenaikan sebesar 16% dari kuartal tiga tahun 2010 dan 15% dari tahun ke tahun. Indonesia mengalami kenaikan yang paling tinggi dalam belanja iklan di kuartal tiga, naik 24% dibandingkan kuartal tiga 2010, diikuti oleh Filipina (+15%) dan Singapura (+10%).

“Pertumbuhan belanja iklan ditambah dengan kuatnya kepercayaan dari konsumen di wilayah ini merupakan tanda-tanda yang menjanjikan bagi Asia Tenggara,” ujar David Webb, Managing Director Advertising Solution Nielsen APMEA.

“Kuatnya pertumbuhan belanja iklan di Asia Tenggara setahun belakangan memperlihatkan kekuatan wilayah ini di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sementara naiknya belanja iklan di negara seperti Indonesia dan Filipina semakin memperkuat kenyataan bahwa ekonomi lokal masih berkembang dan mampu bertahan dari guncangan eksternal,” tambah dia.

Menurut Indeks yang dikeluarkan Nielsen, pertumbuhan belanja iklan di media utama dipacu oleh pembelanjaan pada iklan televisi dan surat kabar. Belanja iklan di televisi naik 5% di kuartal ketiga jika dibanding dengan kuartal tiga 2010, sementara surat kabar tetap pada posisi yang sama di kuartal tiga, dan mengalami pertumbuhan sebesar 14% dari kuartal sebelumnya.

Produk perawatan rambut, telekomunikasi, dan kompartemen pemerintahan memimpin sebagai tiga sektor utama yang berkontribusi besar dalam belanja iklan di wilayah Asia Tenggara. Sementara itu, Unilever menempati peringkat pertama lantaran produk-produknya memiliki nilai belanja terbesar selama periode kuartal tiga 2011.

“Sementara pemasar di wilayah tertentu selalu dihadapkan dengan tantangan dalam hal penyebaran anggaran iklan melalui platform media yang sedianya selalu mengalami perkembangan. Televisi pun terus memperlihatkan kemampuannya dalam menjangkau massa, perkembangan teknologi seperti HDTV, IPTV, TV on-demand dan pergantian waktu penyiaran menjadi daya tarik tersendiri bagi televisi,” Webb menjelaskan.

“Di tahun yang akan datang, tantangan untuk menentukan alokasi belanja iklan akan menjadi tugas utama para pemasar dan seluruh media baik tradisional maupun modern. Semuanya harus mencari cara untuk mempertahankan audience agar mendapatkan bagian dari uang hasil penjualan iklan,” sambungnya lagi.

Belanja Iklan di Indonesia naik 24%

Beralih ke Indonesia, ternyata persentase belanja iklan pun naik 24% di kuartal ketiga 2011 jika dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun 2010 lalu, dan nominalnya mencapai angka lebih dari US$ 2 miliar. Pertumbuhan double digit ini didorong oleh naiknya belanja iklan di televisi (+25%) dan koran (+22%). Sementara pertumbuhan di majalah cenderung stabil (7%).

“Pertumbuhan di kuartal ketiga banyak disebabkan kegiatan beriklan yang banyak dilakukan pada bulan puasa dan hari raya. Dengan naiknya konsumsi konsumen selama masa-masa tersebut, manufaktur pun cenderung menaikkan belanja iklan mereka untuk mendorong nafsu belanja konsumen,” papar Irawati Pratignyo, Managing Director Media Group Nielsen Indonesia.

Pada kenyataannya, industri telekomunikasi tetap menjadi pembelanja terbesar di kuartal ketiga 2011, tumbuh 89% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu. Diikuti dengan produk perawatan rambut (+11%), dan kategori Pemerintahan dan politik (+27%).

Di beberapa negara, belanja iklan diukur berdasarkan rate card yang berlaku, dan tidak merefleksikan keadaan pasar sebenarnya. Data periklanan ini dimonitor di setiap pasar dan bervariasi dalam jumlah media dan metodologi. Ketika membandingkan data per tahun, perubahan signifikan dapat disebabkan oleh jumlah cakupan media, atau kenaikan rate card sebagai tambahan dari perubahan kegiatan periklanan. Data dikumpulkan berdasarkan mata uang lokal dan diubah ke dalam dolar Amerika Serikat menggunakan nilai tukar resmi yang terhitung di bulan November 2011.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.