Berani-Tidak Masuk ke Sektor Keempat?

0
1165

Marketing.co.id – Wacana for benefit enterprise (FBE) atau sektor keempat masih timbul tenggelam di kalangan pebisnis dunia dan pengamat bisnis. Walaupun demikian, FBE bisa menjadi alternatif organisasi bisnis masa depan. Bagaimana memasarkan produk dan jasa dari sektor keempat ini?

Pada tahun  2006, Muhammad Yunus menerima hadiah nobel setelah Grameen Bank, sebuah bank di Banglades yang dikelolanya, dianggap berhasil dan menjadi pionir dalam mengangkat harkat hidup masyarakat miskin.

Grameen Bank adalah organisasi pembiayaan mikro. Nama “Grameen” berasal dari kata “gram” yang dalam bahasa Bengali berarti “pedesaan”. Pencetus Grameen Bank, Muhammad Yunus, sudah mulai berinisiatif memelopori pendirian bank ini sejak tahun 1976.

Target pasar bank tersebut adalah orang-orang miskin yang karena ketiadaan dana membuat mereka tidak bisa melakukan upaya untuk menopang kehidupan mereka.

Grameen Bank kemudian menyalurkan kredit tanpa agunan agar mereka bisa berkembang dan yang menarik, 98% kreditnya diberikan kepada wanita. Banyak orang bertanya-tanya, sanggupkah sebuah perusahaan bertahan jika memiliki target pasar orang-orang miskin yang tidak memiliki uang?

Mari kita lihat kinerja keuangan dari Grameen Bank! Perusahaan ini pada tahun 2010 memiliki profit sebesar US$ 10,7 juta. Cabangnya sudah mencapai 2.565 dan mencakup lebih dari 81 ribu desa. Itu artinya, perusahaan dengan target pasar seperti itu pun bisa berkembang!

Perhatian pada Kondisi Dunia

Kisah Grameen Bank ini mulai membuka mata banyak orang bahwa perusahaan tidak perlu takut rugi memiliki misi dan visi yang berorientasi pada sosial. Sebagian pihak memang mulai melihat adanya market opportunity di balik pasar yang dulunya dianggap bukan target yang menarik secara income.

Perhatian bank-bank terhadap usaha kecil menengah (UKM) adalah salah satu gerakan ke arah tersebut. Namun, kebanyakan memang masih menjadikannya sebagai bagian dari portofolio bisnis semata.

Jumlah penduduk dunia yang terus bertumbuh memang menciptakan pasar yang semakin besar bagi para marketer. Namun demikian, permasalahan sosial pun semakin lama semakin banyak dengan bertambahnya manusia.

Menurut data Bank Dunia, lebih dari 1 miliar penduduk di dunia tergolong orang miskin. Data statistik Indonesia sendiri menunjukkan tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai 30 juta orang.

Di sisi lain, pertumbuhan penduduk juga mengakibatkan timbulnya kerusakan lingkungan yang berakibat pada masalah global, seperti pemanasan global, bencana alam, dan lain-lain.

Dengan semakin kompleksnya masalah sosial di dunia, perhatian akan masalah sosial ini bukan lagi menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga sektor swasta. Di sinilah perusahaan-perusahaan mulai memikirkan untuk menjalankan tanggung jawab sosialnya.

Caused-related marketing atau corporate social responsibility (CSR) adalah strategi yang dipakai untuk menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat.

Namun, banyak yang menganggap CSR sebagai “make up” semata untuk menutupi “wajah jelek” perusahaan. Demikian halnya program caused-related marketing yang dianggap cenderung cuma bersifat jangka pendek.

CSR tentu saja tidak dimaksudkan untuk mengambil keuntungan dari kegiatan secara langsung. Demikian pula caused-related marketing, sekalipun punya niat mengambil keuntungan dari penjualan, namun karena sifatnya jangka pendek belum mampu menciptakan profit secara berkesinambungan.

Di sisi lain, organisasi nirlaba memang tidak diharapkan untuk menciptakan profit sebesar-besarnya. Dengan demikian, organisasi semacam ini cenderung membatasi diri dalam hal pertumbuhan perusahaan. Selain itu, organisasi ini juga membatasi para pemilik sahamnya untuk mengambil keuntungan.

Lalu, adakah perusahaan yang bisa berdiri di antara keduanya? Punya visi-misi sosial, namun mampu meningkatkan terus pertumbuhan perusahaan dari sisi laba? Adakah perusahaan yang punya visi-misi sosial namun para pemilik sahamnya bisa menikmati keuntungan penjualan?

Inilah yang sedang hangat dibicarakan di berbagai perusahaan di berbagai belahan dunia. Mereka menyebutnya “for benefit enterprise” (FBE). Perusahaan jenis ini memiliki “jiwa sosial” dalam arti sebenarnya. Perusahaan FBE memiliki aktivitas sosial yang mengalir di darah perusahaan.

Namun demikian, mereka bukan lembaga sosial. Mereka memikirkan keuntungan jangka panjang yang harus dijaga untuk kelangsungan hidup para stakeholder-nya.

Mereka juga bukan perusahaan pemerintah atau BUMN yang memang berfokus pada kebutuhan publik. Mereka adalah perusahaan swasta murni dengan para pemilik sahamnya merupakan individu-individu.

FBE seolah merupakan jawaban dari kegagalan para kapitalis yang dianggap kurang peka terhadap masalah sosial dan lingkungan. Perusahaan kapitalis dianggap tidak serius berpikir untuk kesejahteraan umat manusia.

Perusahaan kapitalis hanya menyisihkan sedikit sekali keuntungan mereka untuk community development. Akibatnya selalu ada jurang pemisah yang terlalu dalam antara perusahaan kapitalis dan masyarakat. Terlebih lagi, perusahaan kapitalis dianggap cenderung menutup diri terhadap kritik dari para pencinta lingkungan.

Dengan posisinya yang unik, FBE sering disebut sebagai perusahaan-perusahaan di sektor keempat. Jika sebelumnya kita mengenal ada tiga sektor ekonomi di sebuah negara: pemerintah, swasta, dan organisasi nonprofit, kini kita mengenal organisasi perusahaan yang mencoba menjadi kombinasi dari ketiganya.

Kalau kita pernah mendengar sekarang ini mulai banyak bermunculan istilah-istilah seperti social enterprise, community development corporation, atau social business enterprise, sebenarnya itu merupakan bagian dari semakin bertumbuhnya sektor keempat ini.

Komitmen pada Visi Sosial

Kalau melihat beberapa ciri dari FBE, sebenarnya bentuk perusahaan semacam ini sudah lama ada, misalnya sekolah atau rumah sakit swasta. Namun demikian, FBE menekankan pada sisi pengelolaan yang lebih profesional.

Selain itu, FBE juga bisa diterapkan pada berbagai produk dan jasa, seperti food, pertanian, bank, asuransi, energi, rumah makan, dan lain-lain.

Rahmat Susanta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.