Bujet Kembali ke Sekolah di AS Menurun

1
820

Seiring aktivitas para orangtua dan anak-anak di kota Washington, Amerika Serikat, untuk mempersiapkan atau berbelanja segala perlengkapan serta keperluan sekolah, tahun ini para orangtua akan memaksa anak-anak mereka untuk menggeladah lemari mereka sebelum memutuskan untuk membeli barang apa pun. Seperti yang kita ketahui, barang-barang keperluan sekolah berkisar dari pakaian, tas, sampai alat-alat tulis.

Menurut survei NRF (National Retail Federation) 2011 bertema “Back to School”  yang dilakukan oleh BIGresearch, keluarga yang mempunyai anak berumur sekitar 4 sampai 6 tahun hingga 16 sampai 19 tahun umumnya rata-rata menghabiskan USD 603.63 untuk pakaian, perlengkapan sekolah, dan elektronik. Total pengeluaran untuk keperluan ini diperkirakan bisa mencapai USD 22.8 miliar. Jika rentang umur di atas digabungkan dengan pengeluaran untuk usia kuliah (mahasiswa), angkanya bisa mencapai USD 68.8 miliar. Angka ini mewakili pengeluaran kedua terbesar konsumen bagi industri ritel sesudah liburan musim dingin.

“Keluarga dan orang tua memang tidak bermaksud menentang pengeluaran yang memang dibutuhkan, tetapi mereka kini memastikan supaya anak-anaknya benar-benar meneliti dahulu apa yang mereka perlukan sebelum memutuskan barang yang hendak dibeli untuk kembali ke sekolah tahun ini,” begitu kata Presiden NRF dan CEO Matthew Shay. “Para penjual mengerti bahwa konsumen kini fokus pada value suatu produk dan benar-benar ingin berhemat dalam membeli produk-produk yang mereka butuhkan,” sambungnya lagi.

Walaupun masa resesi terburuk sudah lewat, rasa trauma kesulitan ekonomi masih menghantui. Masa resesi ekonomi tersebut tak pelak memang sangat memengaruhi anggaran atau daya beli mereka untuk keperluan kembali ke sekolah itu. Menurut survei, orang-orang Amerika menyiasati kerugian mereka akibat kesulitan ekonomi dengan lebih banyak membeli barang-barang yang mereknya sudah umum dijual di toko-toko (39.9%). Ada juga yang berbelanja secara online (29.8%). Selebihnya, sekitar setengah dari responden mengatakan bahwa kesulitan ekonomi memaksa mereka untuk memotong semua anggaran belanja secara keseluruhan.

Setelah memeriksa semua kebutuhan sekolah yang sudah dipenuhi tahun lalu, rata-rata pengeluaran untuk pakaian menjadi USD 220.6 dan keperluan sekolah lain USD 88.99 (menurun jauh tahun ini). Mereka juga mengeluarkan anggaran rata-rata sekitar USD 104.53 untuk sepatu (angka ini sedikit meningkat dibanding tahun lalu).

Jika melihat pada pengeluaran untuk barang-barang elektronik seperti komputer, ponsel, MP3 player, dan tablet, anggaran ini diharapkan akan naik menjadi rata-rata USD 189.51. Lebih dari setengah (51.9%) keluarga yang mempunyai anak usia sekolah berencana untuk membeli produk elektronik tahun ini. Tapi, angka tersebut pun sebenarnya lebih kecil dari tahun lalu, yaitu 63.7%. Persentase orang yang hendak membeli pakaian, sepatu, dan keperluan sekolah juga nampaknya akan menurun, karena keluarga kini hanya akan membeli produk yang benar-benar mereka butuhkan saja.

Pihak penjual dan peritel pun giat melakukan pekerjaan rumahnya untuk meneliti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh konsumen. Department store bisa jadi kebanjiran orang yang hendak berbelanja untuk sekolah karena mereka memiliki private labels yang populer, promosi, dan kampanye inovatif lewat social media. Menurut survei, 57% pembelanja keperluan sekolah akan pergi ke department store. Angka ini bertambah dari hanya 53.9% di tahun lalu. Selebihnya, konsumen yang berbelanja secara online juga akan bertambah tahun ini menjadi 31.7%, dibanding hanya 30.8% tahun lalu.

Aktivitas belanja untuk keperluan sekolah mungkin mengasyikkan bagi kebanyakan anak, tapi bagi orangtua, ini adalah urusan sakit kepala akibat anggaran yang begitu ketat. Walaupun para penjual sudah mengisi penuh rak-rak toko mereka, konsumen baru mulai belanja pada saat menjelang mulainya sekolah. Selain untuk sekolah, NRF 2011 juga melakukan survei untuk kuliah, bertema “Back to College” yang juga dilakukan oleh BIGresearch.

Survei ini menemukan bahwa para mahasiswa pun akan melakukan penyesuaian anggaran mereka karena kondisi ekonomi yang ketat. Menurut survei ini, konsumen akan menghabiskan rata-rata USD 808.71 untuk kebutuhan seperti pakaian dan elektronik, sampai perabotan untuk asrama atau kost, serta makanan. Angka ini dilihat menurun dibanding tahun lalu yang mencapai USD 835.73. Jika pengeluaran keseluruhan digabungkan antara kelompok umur sekolah di atas dengan kuliah, maka angkanya bisa mencapai USD 68.8 miliar.

Sebanyak empat dari lima responden kuliah (83.7%) mengatakan bahwa kondisi ekonomi turut memengaruhi anggaran mereka. Lebih banyak konsumen akan membeli produk yang mereknya sudah umum (38.0%, naik dari 34.1% tahun lalu), dan lebih banyak juga yang akan berbelanja secara online (30.7%, naik dari 23.2% tahun lalu). Tetapi, banyak konsumen yang secara keseluruhan menghabiskan lebih sedikit anggaran dibanding tahun lalu. Tren yang sama juga ditemukan di survei “Back to School”.

Mahasiswa dan orangtua mereka juga harus menghabiskan dana besar untuk biaya atau iuran pokok kuliah, sehingga mereka harus sangat berhemat untuk membeli barang yang benar-benar mereka butuhkan tahun ini. Untuk menyiasatinya, para penjual akan menyebarkan promosi mereka supaya mampu menangkap perhatian konsumen kapan pun mereka sedang punya mood untuk membeli.

Survei ini menemukan bahwa 45.8% dari konsumen akan membeli produk elektronik. Angka ini terbilang rendah dari survei yang sudah dilakukan berulang-ulang sejak tahun 2005. Tetapi, produk elektronik kini malah memakan porsi terbesar dari pengeluaran dengan rata-rata per orang akan menghabiskan sekitar USD 209.93. Walaupun demikian, angka ini menurun sebanyak 11% jika dibandingkan tahun lalu, yaitu USD 236.94.

“Kaum muda kerap kali terlihat mengantre di baris pertama untuk membeli tablet PC, smartphone, atau MP3 player model terbaru. Jadi, begitu banyak mahasiswa ternyata sudah mempersenjatai diri mereka dengan gadget terkini yang akan dibawa ke kampus,” ujar Pam Goodfellow, Consumer Insights Director BIGresearch. “Penurunan pengeluaran konsumen dalam berbelanja produk elektronik bisa jadi juga disebabkan banyak produk elektronik, terutama laptop, mengalami penurunan harga yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir,” imbuhnya.

Ternyata department store tidak hanya populer untuk berbelanja kebutuhan anak-anak usia sekolah, tapi bagi mahasiswa juga bisa menjadi tempat favorit untuk belanja. Lebih dari setengah responden yang disurvei mengatakan bahwa department store adalah tempat yang pertama kali mereka kunjungi untuk berbelanja kebutuhan ini. Sisanya berbelanja secara online, atau toko-toko lain yang lebih kecil dan spesifik, seperti misalnya toko alat-alat tulis atau toko pakaian.

Survei tahun ini menemukan bahwa seperempat responden (24.4%) mahasiswa akan mulai berbelanja setidaknya dua bulan sebelum kuliah dimulai, 28.9% mulai berbelanja sekitar tiga minggu sampai satu bulan sebelum mulai kuliah, 27.9% satu hingga dua minggu sebelum kuliah, 9.4% kurang dari seminggu sebelum mulai kuliah, dan 9.4% lagi berbelanja setelah kuliah dimulai.

Survei NRF 2011 Back to School dan Back to College ini didesain untuk mengukur dan mengetahui perilaku konsumen dan tren belanja berkaitan dengan pengeluaran untuk belanja keperluan sekolah dan kuliah. Survei ini dilakukan dengan responden sebanyak 8.684 konsumen, dari 1 hingga 6 Juli 2011. Polling konsumen mempunyai margin of error kurang lebih 1%. (www.marketing.co.id)

1 COMMENT

  1. Selamat pagi Shalimow, Infonya luar biasa, tapi bagi saya rasa-rasanya ketinggian IT nya ya saya bisa apspasan hany buat blog sederhana ini dan ngeblog, yang lain-lainnya melengkapi sambil belajar-sana-sini, dan saya sering juga lihat tulisan-tulisan Shalimow yang lalu karena ya itu tadi kurang tanggap IT. Tapi bagaimanapun saya selalu berusaha untuk hal-hal yang belum saya mengerti, Okay Shalimow terima kasih Postingan yang buagus, Sukses untuk anda.Regards, agnes sekar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.