Cara Menggunakan KOL untuk Membangun dan Meningkatkan Brand Awareness, Studi Kasus Brand Cedea

0
501
Inong Fatima (Head of Marketing PT Citra Dimensi Arthali). Foto: Istimewa.

 

Inong Fatima (Head of Marketing PT Citra Dimensi Arthali). Foto: Istimewa.

Marketing.co.id – Berita Marketing | Perubahan dan perkembangan teknologi digital telah memengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk bidang marketing. Sejak perkembangan linimasa sebagai kanal pemasaran, Key Opinion Leader (KOL) atau yang paling akrab dikenal dengan influencer menjadi salah satu strategi penting dalam pemasaran digital.
Apa itu KOL?
Jika Anda pernah membeli sesuatu atas rekomendasi orang terdekat, maka itulah yang disebut dengan word of mouth. Kehadiran linimasa membawa konsep tersebut ke tingkat yang berbeda. Kini, word of mouth dilakukan oleh para figur yang memiliki pengaruh di linimasa dengan jangkauan yang lebih luas.
Baca Juga: Wadah Komunitas Influencer dan Buzzer di Indonesia
Saat ini, KOL sudah banyak digunakan oleh bisnis, baik skala besar maupun kecil, karena efektivitasnya dalam upaya pemasaran. Salah satu perusahaan yang sudah menggunakan KOL adalah PT Citra Dimensi Arthali, perusahaan pelopor dalam industri produk makanan olahan berbasis hasil laut dengan produk unggulannya frozen food Cedea.
Tantangan branding
Pemasaran produk Cedea dimulai dengan pemasaran konvensional, yaitu pemasaran langsung di gerai-gerai yang menjual produknya. “Tantangannya produk kita di modern outlet itu masih dijual curah sehingga banyak konsumen yang belum mengenal brand Cedea,” jelas Inong Fatima, Head of Marketing PT Citra Dimensi Arthali kepada Marketingcoid.
Tantangan tersebut coba diatasi Cedea dengan soft branding dari para sales yang ada di lapangan, dimana para sales tersebut menggunakan apron Cedea. Kemudian, Cedea juga menyiapkan sampling produk di hari Sabtu dan Minggu.
Baca Juga: Apa Yang Bisa Pengusaha Pelajari dari Para Influencer?
“Kami coba atasi dengan soft branding dari para sales yang ada di lapangan. Kita pakaikan mereka apron Cedea. Kemudian, kami menyediakan sampling di hari Sabtu dan Minggu bagi para konsumen. Tujuannya yaitu mengomunikasikan bahwa Cedea itu enak dan mudah diolah, kita lakukan hampir setahun,” lanjut Inong.
Hasilnya, bisnis Cedea tumbuh 19%-20% pada tahun 2018-1019, baik dari sisi volume maupun finansial dan masih bertumbuh 9% di awal pandemi. Bahkan, di tahun 2020 hingga 2021 bertumbuh 32%.
Pemasaran dengan KOL
Lambat namun pasti, pasar Cedea mulai terbentuk dan tumbuh signifikan setelah perusahaan masuk ke digital dengan mengembangkan e-commerce. Diakui Inong, salah satu kontributor pertumbuhan tersebut berasal dari linimasa.
“Di tahun 2020, kami mulai ada online activation seperti giveaway, kompetisi online, dan lainnya. Kami lakukan mulai dari inner circle atau karyawan terlebih dahulu, ternyata itu sangat impactful. Hasilnya, bisa kami lihat di Instagram maupun Facebook,” jelas Inong.
Melihat hasil yang begitu baik, Cedea kemudian berkolaborasi dengan KOL untuk terus membangun dan meningkatkan brand awareness di linimasa. Perusahaan pun mulai menyeleksi KOL yang cocok untuk target pasar mereka.
Baca Juga: 7 Rahasia Marketing Agar Pelanggan Beli Lagi, Lagi, dan Lagi
“Pertama yang kami lihat dari KOL itu usianya. Kebetulan, BOD ingin produk masuk ke pasar FMCG, jadi target utamanya adalah ibu dan anak, maka kami mencari KOL yang salah satu ketentuannya adalah perempuan atau seorang ibu yang usianya  25 tahun ke atas,” jelas Inong.
Selain itu, lanjut Inong, KOL sebaiknya figur yang memiliki ketertarikan yang sesuai dengan produk yang akan dipasarkan dan target pasar. “Kedua, Yang pasti dia harus memiliki positif value. Kalau bisa yang kontennya berupa food karena biasanya follower-nya suka makan. Jadi, yang interest-nya sama. Tapi terkadang kita lihat juga, kalau kita lihat insight interest yang paling banyak itu ternyata di beauty, kita juga mulai pilih beauty vlogger. Ketika kami coba, ternyata kami banyak mendapatkan konsumen baru dari sana,” lanjutnya.
Menurut Inong, pada dasarnya pertimbangan memilih KOL yaitu memastikan bahwa ia memang bisa memberikan dampak untuk engagement. “Mudahnya, kalau kita melihat average 30% dari follower-nya melihat brand kami. Ukuran kesuksesan KOL adalah di engagement-nya. Belum tentu follower banyak engagement rate-nya bagus. Makanya bagi kami jumlah follower itu bukan target yang utama,” ujar Inong.
Baca Juga: Ini Alasan Influencer di Pasar Asia Tenggara Sangat Efektif!
Hasilnya, Inong mengakui strategi marketing menggunakan KOL sangat impactful untuk brand mereka, terlebih di tengah keterbatasan aktivitas di masa pandemi seperti sekarang ini. “Dari kami mengaktifkan linimasa, ternyata banyak ketertarikan orang untuk buka usaha. Inbox Instagram kami misalnya, isinya penuh dengan permintaan menjadi reseller. Sangat membantu sekali linimasa ini untuk komunikasi perusahaan,” pungkas Inong.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika memilih KOL adalah apakah audience dari KOL yang akan diajak bekerja sama sesuai dengan target pasar yang diinginkan oleh perusahaan, karena hal ini cukup berpengaruh secara signifikan kepada hasil yang ditargetkan. Jadi, jangan sekadar memilih KOL yang sedang hits atau viral, tapi pilihlah KOL yang memang sesuai dengan citra brand perusahaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.