Dari Cembung Sampai ke Lengkung

0
2906

shutterstock_209928085Kini layar melengkung sudah menjadi tren baru di dunia teknologi televisi (TV). Setelah LG, Samsung dan Changhong masuk ke persaingan TV layar lengkung. Lalu, siapa lagi yang ikut tergoda?

Sama halnya dengan teori Darwin mengenai evolusi manusia dari zaman prasejarah hingga manusia modern, televisi juga mengalami evolusi dari masa ke masa. Berbeda dari proses evolusi manusia, evolusi TV berjalan seiring semakin canggihnya teknologi elektronik dan perubahan perilaku konsumen yang mulai mengutamakan sisi ukuran, kualitas gambar, penghematan energi, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Berpuluh-puluh tahun lalu mungkin kita hanya mengenal TV berteknologi panel cathode ray tube (CRT), atau dikenal sebagai TV tabung. Tapi memasuki abad ke-20, TV telah berubah menjadi generasi baru yang lebih langsing dan enteng, dimulai dengan hadirnya plasma display panel (PDP) atau TV plasma. Kemudian, berubah lagi dengan beredarnya panel liquid crystal display (LCD TV) dan light emitting diode (LED TV).

Perubahan bergerak lebih cepat lagi dengan kehadiran panel organic light emitting diode (OLED TV). Bukan hanya dari segi panel, teknologi resolusi pun semakin dinamis dengan adanya format standard definition (SD), high definition (HD), full high definition (Full HD), dan yang teranyar ultra high definition (UHD) atau 4K.

Perkembangan teknologi panel dan resolusi juga berdampak terhadap perubahan TV secara fisik. Tentu kita masih ingat TV layar cembung (CRT) yang menghiasi setiap rumah tangga di Indonesia. Namun, lambat laun jumlah TV layar cembung terus berkurang dengan menjamurnya TV layar datar, baik CRT TV, Plasma TV, LCD TV, maupun LED TV.

Di tengah gaya hidup dan ketidakpuasan konsumen dalam menikmati menonton TV, para produsen TV semakin giat dalam berinovasi. Alhasil, konsumen diberi pilihan baru dengan hadirnya TV layar lengkung. Di Indonesia, TV layar lengkung (curve TV) pertama kali diperkenalkan oleh LG dengan dirilisnya OLED TV Curve seri EA9800 yang berukuran 55 inci beresolusi Full HD, pada akhir tahun 2013 lalu.

Menurut Head of TV Product Marketing PT LG Electronics Indonesia Terry Putera Santoso, inovasi LG pada TV layar lengkung didasari atas keinginan dan kebutuhan konsumen. Permasalahan yang sering ditemui keluarga di rumah saat menonton TV bersama-sama adalah penonton di bagian kiri atau kanan layar kaca tidak menikmati warna tontonan (tampilan layar) yang sama dengan penonton yang tepat di tengah. Kemungkinan perbedaan warna ini bisa dioptimalkan dengan TV layar lengkung.

“Kalau layar lengkung menggunakan panel LCD atau LED tanpa konten HD tampilannya akan seperti TV biasa saja. Sedangkan kalau OLED TV Curve tanpa konten HD tampilannya tetap menunjukkan evolusi TV terbaru. Sekitar 2–3 tahun mendatang, OLED TV baik layar datar maupun layar lengkung akan menjadi tren menggantikan LED TV di pasar Indonesia. LG sebagai pembuka pasar kategori OLED TV masih banyak terbentur kendala limitasi harga dan kurang pahamnya konsumen akan teknologi ini,” jelas Terry.

LG membanderol OLED TV Curve seri EA9800 sebesar Rp150 juta per unit karena teknologi panel OLED masih sangat mahal, apalagi TV ini masih diimpor dari Korea Selatan. Tingginya faktor harga berdampak pada penjualan OLED TV Curve seri EA9800 yang belum mencapai hasil maksimal. Tercatat hingga kuartal I-2014 penjualannya baru mencapai 50 unit. Menyikapi kondisi tersebut, LG telah mempersiapkan beberapa strategi agar TV dengan fitur premium ini menjadi terjangkau sehingga penguasaan pasarnya lebih besar.

Mulai Juni 2014, LG berencana memproduksi OLED TV Curve di kawasan Cibitung. Nantinya, produk yang dihasilkan terdiri dari 80% komponen lokal dan 20% komponen impor. Ini dilakukan guna menekan biaya produksi, sehingga harga jual ke konsumen jadi lebih murah sampai setengah harga. OLED TV Curve buatan Indonesia akan dipasarkan mulai Rp79 juta per unit.

Adanya OLED Curve TV diharapkan dapat memperbesar penguasaan pasar LG di segmen premium. Bersama LED TV UHD dan Smart TV, OLED Curve TV ditargetkan mampu meningkatkan penjualan dan berkontribusi sekitar 30% dari seluruh penjualan produk TV LG di Indonesia yang dicanangkan sebanyak 2 juta unit di tahun 2014. Target ini dianggap realistis karena ada faktor pendukung, seperti gelaran Piala Dunia dan Pemilu Presiden 2014.

Jadi Ranah Baru Persaingan Produsen TV
Target LG untuk berjaya di pasar TV layar lengkung di negeri ini rasanya akan mengalami sedikit gangguan, sebab Samsung siap berkompetisi memperebutkan pangsa pasar. Secara resmi Samsung merilis TV layar lengkungnya di Indonesia pada April 2014 lalu. Melalui Curved UHD TV HU 9000 berukuran 55 inci dengan harga Rp70 juta dan ukuran 65 inci seharga Rp90 juta, Samsung menawarkan harga yang lebih kompetitif.

Sedikit berbeda dengan LG yang menggunakan panel OLED pada TV layar lengkungnya, Samsung optimistis panel LED masih sangat diterima di Indonesia. Nilai tambahnya adalah penggunaan resolusi UHD yang memberikan gambar 4 kali lebih jelas daripada Full HD. Selain itu, TV canggih ini juga dilengkapi oleh teknologi upscaling yang dapat mengubah video berbentuk HD maupun FHD menjadi lebih baik hingga setara dengan kualitas UHD.

Tak hanya dua perusahaan raksasa elektronik asal Korea Selatan saja yang meramaikan persaingan TV layar lengkung di Tanah Air. Persaingan juga mulai melibatkan perusahaan elektronik asal Tiongkok, yakni Changhong, yang meluncurkan Changhong Curve UHD TV pada Mei 2014. TV layar lengkung seri Q1C dengan varian 55 inci ditawarkan Changhong seharga Rp40 juta, sedangkan varian 65 inci dibanderol Rp60 juta.

Meski tak setenar LG dan Samsung, sepertinya Changhong tau mau kalah dalam urusan inovasi. Changhong menggabungkan layar lengkung dengan panel yang bukan LED ataupun OLED, tetapi indium, gallium, zink oxide (IGZO). Lazimnya panel ini digunakan untuk produk tablet dan smartphone. Yang cukup menarik, Changhong juga menggunakan sistem operasi Android dan diperkaya berbagai fitur pintar U-MAX.

Banyaknya fitur canggih yang mumpuni dan harga yang lebih terjangkau dari kompetitor membuat Changhong optimistis dapat menjual Changhong Curve UHD TV sebanyak 50 unit per bulan, apalagi produk TV Changhong semakin diminati di Tanah Air. “TV layar lengkung ini merupakan wujud dari komitmen perusahaan terhadap inovasi berkelanjutan untuk dapat memberikan pelayanan dan menciptakan gaya hidup yang lebih mudah bagi pelanggan,” kata Ethan Wu, CMO of TV Products PT Changhong Electric Indonesia.

Ketiga produsen TV tersebut memprediksi TV layar lengkung akan menjadi kategori yang memanas tahun ini dan akan menjadi tren industri masa depan. Kita tunggu saja pembuktiannya. Bukankah di industri TV sekarang segala sesuatu berjalan cepat?

Moh. Agus Mahribi, Angelina Merlyana Ladjar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.