Harus Dipersiapkan dengan Matang

0
761

Banyak keuntungan yang bisa didapat dalam menjalankan bisnis waralaba. Namun demikian, bisnis ini bukan berarti antikegagalan. Ada banyak hal yang harus dipenuhi oleh pihak yang terlibat, baik franchisor maupun franchisee, jika ingin bisnis waralabanya meraih sukses.

Siapa yang tidak kenal kata waralaba atau franchise sekarang ini? Sebagian besar orang Indonesia bisa dibilang sudah sering mendengar atau bahkan mengenal konsep dari waralaba. Terutama, di kalangan profesional di berbagai bidang, pemodal, dan tentu saja para pelaku bisnisnya.

Waralaba atau franchising dalam arti bahasa adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sementara menurut versi pemerintah Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.

Sementara Asosiasi Franchise Indonesia mendefinisikan waralaba sebagai suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, yang pemilik mereknya (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur, dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu, meliputi area tertentu.

Di Indonesia, sebenarnya, bisnis waralaba sudah dikenal sejak tahun 1950-an ketika muncul diler-diler kendaraan bermotor melalui lisensi. Kemudian, disusul oleh pemberian lisensi dalam kepemilikan pom bensin oleh Pertamina pada individu atau badan usaha. Bisnis ini tambah berkembang, tepatnya, sejak tahun 1997, ketika pemerintah negara ini mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 16 Tahun 1997 tentang waralaba. Peraturan ini sendiri telah dicabut dan digantikan dengan PP No. 42 Tahun 2007 tentang waralaba.

Mulai tahun 1990-an akhir inilah minimarket-minimarket mulai menjamur di negeri ini. Dari kota-kota besar, menyebar ke kota-kota kecil, daerah setingkat kecamatan, bahkan ke desa. Setelah itu, mulai tahun 2000-an, muncul berbagai waralaba dengan beragam jenis bisnis. Sebut saja, restoran, butik, salon dan spa, apotek, makanan dan minuman, bahan bangunan, klinik kesehatan, hingga media massa pun mengembangkan diri lewat mekanisme waralaba, dan masih banyak lagi kategori bisnis lainnya.

Bisnis waralaba memang sangat menarik. Dengan mewaralabakan usaha, pemilik dapat dengan cepat mengembangkan jaringan bisnisnya. Bisnis ini boleh dikatakan sebagai salah satu bisnis yang risikonya kecil, sebab bisnis yang sudah dijalankan telah dikenal masyarakat, sistemnya sudah teruji, dan pemiliknya tidak bersusah payah dalam pengembangan brand.

Kendati demikian, bukan perkara mudah untuk mewaralabakan bisnis. Menurut Burang Riyadi, dari IFBM Consulting (International Franchise Business Management), ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan. Pertama, soal standarisasi. Standarisasi ini menyangkut pelayanan (barang atau jasa) yang ditawarkan. Kedua, keunikan. Bisnis yang diwaralabakan harus memiliki ciri khas usaha. Ketiga, transparan. Dalam menjalankan bisnis harus transparan, dapat diajarkan, dan diaplikasikan oleh orang lain.

Keempat, proven. Bisnis yang akan diwaralabakan terbukti sudah memberikan keuntungan, mereknya sudah terdaftar, dan ada dukungan yang berkesinambungan kepada franchisee. Meski bisnis dengan sistem waralaba risiko kegagalannya relatif kecil, bukan berarti akan terjamin 100% sukses. Harus diakui tidak sedikit pula yang mengalami kegagalan, bahkan ada yang sampai tutup.

Mengenai kegagalan dalam menjalankan usaha waralaba, setidaknya ada beberapa alasan umum kenapa waralaba gagal. Dari sisi pemilik waralaba, kegagalan bisa saja terjadi karena salah konsep bisnis, pewaralaba (franchisor) tidak memiliki komitmen yang kuat untuk mendukung waralaba mereka, perjanjian yang dibuat tidak jelas, dan sebagainya. Sedang dari sisi penerima waralaba (franchisee), kegagalan biasanya disebabkan oleh rendahnya kewirausahaan mereka. Mereka lebih banyak berpangku tangan. Padahal, kesuksesan waralaba butuh keterlibatan franchisee pada semua masalah operasional.

Potensi Bisnis Waralaba

Majalah MARKETING menganggap bahwa bisnis waralaba juga berperan penting dalam pengembangan merek suatu produk. Tidak saja di kategori fast moving consumer goods (FMCG), namun di banyak produk pada berbagai industri lainnya. Bukan sekadar sebagai penambahan lini distribusi yang berujung pada sales, tapi juga membantu dalam membentuk brand awareness dan brand equity pada akhirnya.

Di sisi lain, merek-merek bisnis yang diwaralabakan pun tetap memerlukan suatu aktivitas marketing. Tujuannya, jelas untuk menjadikan bisnis apa pun yang diwaralabakan sehat, berkembang, dan memberikan untung bagi pemberi waralaba dan yang menerima waralaba.

Sekarang ini, terdapat ribuan bisnis waralaba yang bergerak di Indonesia, baik lokal, maupun asing, dari yang nilai waralabanya masih berkisar di angka jutaan rupiah saja, hingga bernilai miliaran rupiah. Dikatakan oleh Burang Riyadi, pertumbuhan omzet waralaba selama ini sudah di atas 40% dengan total omzet sudah mencapai Rp 15,6 triliun per bulan.

Selain itu, tiap bulan rata-rata ada 11 ribu gerai baru yang dibuka. Itu artinya, ada 11 ribu pengusaha baru. Bukan hanya itu, satu gerai bisa menyerap tenaga kerja 2–6 orang lebih, kalau dikalikan 11 ribu, maka jumlah pengangguran bisa berkurang 22–66 ribu per bulan.

Sementara itu, Widia Darmadi, CEO Francorp Indonesia, memprediksi bahwa jenis usaha yang tetap akan berkembang adalah bisnis kuliner. Terlebih lagi untuk Indonesia yang tiap daerahnya sangat unik, dan unique selling point-nya ada. Bisnis lain yang juga akan berkembang adalah jasa.

Peluang bisnis di sektor makanan memang tidak pernah sepi dan sangat beragam. Tapi, tidak hanya sektor makanan dan barang saja yang memiliki prospek cerah bisnis waralaba. Saat ini, bisnis waralaba pada sektor jasa pun mulai menggeliat. Hal ini seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat kelas menengah ke atas yang memerlukan banyak layanan jasa di berbagai bidang. Karena menyasar segmen pasar kelas menengah ke atas, waralaba sektor jasa ini membutuhkan modal yang relatif lebih tinggi dibandingkan waralaba makanan.

Bisnis waralaba jasa yang sudah mulai berkembang antara lain waralaba pendidikan, termasuk bimbingan belajar, dan kursus. Juga bisnis waralaba jasa pencucian mobil dan motor dengan keunikan sabun dan obat-obatan cuci lainnya. Peluang bisnis waralaba jasa pencucian kendaraan bermotor ini seiring dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di tengah masyarakat kita.

Ada banyak hal yang ingin diperoleh seorang investor ketika membeli dan menjalankan waralaba. Walaupun pada ujungnya mereka semua menginginkan keuntungan, dalam proses operasionalnya ada beberapa perbedaan.

Bije Widjajanto dalam bukunya Franchise Cara Aman Memulai Bisnis mengatakan, setidaknya ada empat tujuan yang ingin didapat investor saat membeli waralaba. Pertama, untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari operasional outlet waralaba yang dijalankan. Kedua, sebagian investor adalah para entrepreneur pemula. Dengan membeli waralaba, mereka ingin membangun dan mengembangkan sebuah bisnis sehingga dalam waktu tertentu dapat menjadi sumber penghasilan utama mereka. Kelompok ketiga pembeli waralaba adalah mereka yang berasal dari para entrepreneur yang ingin melakukan pengembangan bisnis.

Keempat, sebagian investor ingin mengembangkan modalnya dengan berbagai instrumen yang ada, seperti saham, forex, reksadana, dan lainnya. Dalam beberapa kasus, investor kelompok ini juga mencari produk waralaba dengan pola-pola yang dapat mengakomodasi kebutuhannya, tetapi mereka tidak perlu aktif terlibat dalam operasionalnya.

Satu hal yang perlu ditekankan bahwa seorang pembeli/penerima waralaba (franchisee) haruslah menjalankan bisnisnya dengan passionate atau penuh gairah, harus berani ambil risiko dalam membuat keputusan-keputusan bisnis, dan memiliki leadership yang cukup, sehingga mampu memimpin tim kerjanya untuk bekerja mencapai sukses. (www.marketing.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.