Impact Comes from Relationships Not Positions

0
774

shutterstock_153117176“If you would win a man to your cause, first convince him that you are his sincere friend.” (John C. Maxwell)

Kegalauan tampaknya sedang berkecamuk dalam hati dan pikiran seorang pemimpin wilayah sebuah perusahaan besar. Dia merasa heran, mengapa anak buahnya seolah menjauh darinya, bahkan kerap berdasarkan bisik-bisik yang beredar, anak buahnya sering membandingkan dia dengan pemimpin wilayah sebelumnya yang dikenal dekat dengan anak buah.

Bandingkan dengan kisah seorang wakil rektor sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta. Dalam acara gathering, setelah seharian outbound, sang wakil rektor begitu larut dalam alunan irama dangdut bersama para stafnya. Tanpa rasa canggung, dia ikut bernyanyi dan bergoyang. “Saya memang suka dengan kebersamaan seperti ini. Dan entah mengapa anak-anak selalu bisa dekat dengan saya,” ujarnya sambil tersipu.

Apa yang membedakan pemimpin wilayah dan wakil rektor dalam cerita di atas? Sekilas tampak yang satu kurang dekat dan satunya begitu dekat dengan anak buahnya. Yang satu menunggu anak buahnya datang kepada dia. Satunya memilih mengambil inisiatif dalam membangun hubungan.

Leaders go first! Ya, pemimpinlah yang sebaiknya mengambil langkah pertama dalam menjalin sebuah hubungan. Mengapa? Karena anak buah cenderung sungkan untuk membuka komunikasi alias lebih memilih bersikap wait and see. Jika anak buah yang berinisiatif, bisa jadi ia akan terkesan “menjilat” atau cari muka. Dalam kehidupan berumah tangga, rasanya kita semua setuju bahwa kepala keluarga harus mengambil inisiatif dalam membangun hubungan.

Sayangnya tidak semua pemimpin bersedia membangun jembatan hubungan terlebih dahulu. Penyebabnya macam-macam, antara lain immaturity dan ego.

Immaturity identik dengan pola pikir seorang bayi yang menganggap dirinya sebagai pusat alam semesta sehingga tidak mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.

Ego lebih berkaitan dengan merasa diri paling penting dan paling hebat. Orientasi ego lebih pada mendapatkan pujian dan penghargaan dari orang lain. Para pemimpin yang egois selalu ingin orang datang kepada mereka dan mengatakan betapa hebatnya mereka.

Lalu, apa kunci terpenting bagi seorang pemimpin dalam membangun hubungan? Saya kira pemimpin perlu membangun kesadaran untuk menghargai setiap orang sebagai sesama manusia (value people). Tanpa kesadaran ini, mustahil rasanya seorang pemimpin akan menginvestasikan waktunya untuk orang lain.

Belasan tahun silam, sewaktu saya menjabat sebagai head di sebuah perusahaan keluarga di Bandung, saya mencoba mendekati staf dengan beberapa tindakan kecil, sederhana, dan praktis. Mulai dari menyapa mereka terlebih dahulu, mentraktir makan siang, hingga membawa gorengan atau martabak manakala berkunjung ke cabang. Sesekali ketika anak-anak lembur, saya hampiri mereka sembari membawakan kopi buatan saya.

Masih teringat jelas ketika saya sedang makan siang sendirian di kantin sebelah kantor, lewatlah seorang karyawan yang sering kali dicap sebagai provokator. Saya memanggilnya dan minta dia duduk. “Sudah makan, Mbak?” tanya saya. Dengan nada ketus, ia menjawab, “Sudah!” Saya kemudian menawarinya minum dan membungkus makanan. Kami lalu terlibat sebuah obrolan. Saya lebih banyak berbicara tentang dirinya, mulai dari sudah berapa lama dia bekerja di perusahaan, di mana dia tinggal, bagaimana keluarganya. Tidak lama kemudian, matanya mulai berkaca-kaca. “Lima belas tahun saya bekerja di sini, belum pernah ada satu pun pimpinan yang ajak saya makan seperti Bapak ini,” katanya. Mengharukan!

John Maxwell dalam bukunya Everyone Communicates, Few Connect: What the Most Effective People Do Differently melukiskan dengan begitu indah manfaat dari usaha pemimpin membangun hubungan dengan anak buahnya.

Whenever you can help other people to understand that you genuinely care about them, you open the door to connection, communication and interaction. You begin to create a relationship. And from that moment on, you have the potential to create something beneficial for both you and them, because good relationships usually lead to good things: ideas, growth, partnerships, and more. People live better when they care about one another.

Bagaimana menurut Anda?

Paulus Winarto
Author, motivational teacher, leadership trainer & coach
www.pauluswinarto.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.