Indonesia Marketing Summit 2013: 6 Mitos Pemasaran

0
734

ims_juddEra digital kini memberikan banyak pilihan kreatif bagi para agensi iklan untuk menciptakan sebuah iklan yang tepat bagi merek. Tapi, kita sebagai konsumen pasti tidak percaya begitu saja pada iklan.

Jangankan untuk menarik konsumen setia, iklan yang dinilai bagus oleh para konsumen pun tak luput dari apatisme dan kritik, misalnya saja iklan Dove ‘Beauty Campaign Real Sketches’ yang menjadi viral, mendapat pujian tapi juga mengundang banyak kritik.

Data dari econsultacy.com menyebutkan bahwa 95% responden tidak percaya dengan iklan dan 58% responden setuju dengan pernyataan “perusahaan hanya tertarik pada penjualan produk dan layanan kepada Saya dan belum tentu tertarik memberikan produk atau layanan yang tepat bagi Saya.”

Berdasarkan fakta tersebut, Judd Labarthe, praktisi periklanan berpengalaman, memberikan paparan menarik tentang mitos pemasaran kepada para peserta Indonesia Marketing Summit 2013 melalui presentasinya yang berjudul “Future Advertising: Dead or Alive?”

Judd mengatakan bahwa para pemasar dan pemilik merek sering kali disetir oleh kepercayaan atau mitos daripada oleh fakta. Mitos tersebut yaitu:

“Iklan harus membuat orang-orang mencintai merek saya.” Faktanya justru sebaliknya. Iklan tidak serta merta membuat orang-orang mencintai sebuah merek. Attitude atau sikap sebuah merek merupakan cerminan purchase behavior bukan pengarah. Para agensi iklan dan pemilik merek harusnya menyadari hal tersebut dan mengubah persepsinya tentang iklan.

“Kompetitor merek melayani tipe konsumen yang berbeda.” Faktanya kompetitor menjual produk atau layanan kepada tipe konsumen yang mirip. Semakin besar sebuah merek, semakin banyak ia menarik konsumen.

“Sebuah merek harus berbeda daripada merek lainnya atau ia akan mati.” Faktanya, menjadi berbeda saja tidak cukup. Merek haruslah istimewa agar terus diingat oleh para konsumennya.

“Promosi harga menarik pelanggan baru.” Faktanya, hampir semua konsumen promosi sudah membeli produk atau layanan promosi sebelumnya. Mereka belum tentu menjadi pelanggan, tapi mungkin saja hanya memanfaatkan promosi. Metode promosi sendiri dapat berdampak tidak baik bagi pengusaha jika dilakukan dalam jangka waktu lama.

“Pengguna merek saya setia.” Faktanya, 100% pembeli setia selalu minoritas. Merek yang lebih kecil selalu dirugikan dua kali yaitu tak hanya memiliki sedikit pembeli, tapi juga pembelinya yang kurang setia. Buying behavior sangat fluktuatif sepanjang waktu.

“Iklan harus persuasif untuk menjadi efektif.” Faktanya, justru iklan hard-selling terbukti kurang efektif.

Fakta lainnya adalah konsumen tidak membutuhkan marketing. Mereka membutuhkan hiburan, pendidikan, pengalaman yang berarti dan relevan bagi kebutuhan dan keinginan mereka.

Lalu apa yang harus dilakukan para pemasar dengan iklannya? Judd Labarthe mengatakan bahwa, “Konsumen tidak membeli merek yang mereka cintai, tapi membeli merek yang mereka temukan.”

Oleh karena itu, tugas para pemasar adalah membuat sebuah merek mudah untuk dibeli. “Get noticed, get remembered,” ujarnya lagi. Sukses tidak sama dengan efektif. Iklan yang sukses adalah jenis iklan yang membuat sebuah merek mudah dibeli.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.