Portal Lengkap Dunia Marketing

Dunia UKM

Industri Bus AKAP Tetap Optimistis Berpacu di Bisnis Transportasi

Kendati menghadapi tantangan berat, para pelaku bisnis jasa angkutan bus antar kota antar provinsi (AKAP) tetap optimistis. Mereka pun melakukan beragam terobosan agar tetap bertahan dan bertumbuh di tengah serbuan penerbangan murah atau low cost carrier (LCC) dan agresivitas kereta api.

Tentu kita masih ingat merebaknya bisnis maskapai berbiaya murah (LCC) pada awal tahun 2000-an yang membawa dampak negatif terhadap kelangsungan bisnis transportasi darat. Bahkan keberadaan LCC disinyalir turut menggulirkan reformasi transportasi publik di Tanah Air. Operator penerbangan telah menyulap biaya jasa angkutan udara yang semula mahal menjadi murah. Bila dulu naik pesawat dianggap sangat bergengsi, sekarang naik pesawat sudah biasa seperti layaknya naik kereta api atau bus eksekutif ke luar kota.

ekaAlhasil, dampaknya pun turut dirasakan oleh operator bus AKAP yang mengalami penurunan pertumbuhan. “Pada awal booming LCC, terjadi penurunan volume kendaraan dan banyak operator bus AKAP yang kolaps. Tengok saja tiga tahun lalu, jumlah bus di Indonesia bisa mencapai 2 juta unit, tapi sekarang kurang dari 900 ribu unit,” kata Eka Sari Lorena Soebakti, Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk.

Kendati kondisi ini sudah mulai berangsur normal, mengoperasikan angkutan bus AKAP tidak semudah seperti dulu sebelum ada LCC, apalagi ditambah harus bersaing ketat dengan kereta api. Tapi Eka optimistis, selama pertumbuhan ekonomi masih baik dan semua daerah belum memiliki landasan pesawat dan kereta api belum bisa mengantar sampai depan rumah penumpang, bisnis bus AKAP akan tetap langgeng.

“Istilahnya bisnis angkutan bus AKAP gak ada matinya. Namun, kembali lagi kepada pengelolaan manajemennya. Jika kurang baik, pastinya akan redup karena tidak bisa bersaing dengan operator penerbangan yang rata-rata memiliki manajemen baik. Bahkan bisa tercecer dari persaingan sesama operator bus AKAP yang inovatif dan agresif,” sebut Eka yang juga Ketua Umum DPP Organda.

Lorena-Karina sebagai pelopor operator bus AKAP masih tetap mengalami pertumbuhan di tengah ketatnya persaingan bisnis angkutan. Pertumbuhannya pun tergolong cukup signifikan, sebesar 10%. Melihat angka ini artinya jika dikelola dengan benar serta didukung infrastruktur yang baik, bisnis angkutan bus AKAP masih sangat menjanjikan.

Sukses bertumbuh tak lepas dari beragam upaya Lorena-Karina, yang secara konsisten mengembangkan jaringan dan pelayanan agar meningkatkan daya saing. Pertama, melakukan revitalisasi armada dengan memperbarui kendaraan yang sudah berumur dan menambah jumlah unit bus. “Armada yang dimiliki lebih dari 350 unit bus AKAP dan melayani lebih dari 60 kota di Indonesia. Tahun ini ada rencana penambahan 100 unit bus,” ungkap Eka.

Kedua, merevitalisasi rute dengan menambah rute baru dan mengelola secara baik rute yang sudah ada. Misal, untuk rute jarak jauh, bila sebelum ini hab-nya terbatas hanya di Bogor, dilakukan penambahan di beberapa lokasi meliputi Surabaya, Denpasar, Palembang, dan pada akhirnya kendaraan bermain disirkulasi.

Ketiga, revitalisasi infrastruktur pendukung, seperti depo, pompa bensin, serta akses tiket yang didukung dengan teknologi IT.

Satu hal yang membuat Lorena-Karina bertahan, operator bus AKAP ini sudah memiliki pelanggan loyal. Seluruh pelanggan tersebut dikelola melalui skema keanggotaan “Green Card Lorena-Karina”. Kemudahan dan keuntungan dari kartu ini antara lain reward point dengan hadiah menarik, kemudahan pemesanan tiket pada musim ramai, potongan harga untuk pemakaian jasa Lorena Group.

Pada tahun 2014, sistem keanggotaan akan lebih ditingkatkan lagi. Rencananya akan dilakukan kerja sama dengan beberapa bank dan merchant.

Agar pelanggan melakukan pembelian ulang, Lorena-Karina memberlakukan pembelian “buy 10 get 1” untuk setiap pembelian di jurusan yang sama. Untuk menjaga kedekatan dengan pelanggan loyal digelar gathering dan dibentuk komunitas, yakni BIS (Barisan Ijo Sejati). Nantinya mereka dijadikan barometer dalam meningkatkan layanan yang diberikan.

“Kekuatan komunitas inilah yang hampir dimiliki oleh setiap operator angkutan darat, khususnya bus AKAP, namun tidak dimiliki oleh operator angkutan udara,” jelas Eka.

Pertumbuhan bukan hanya dirasakan Lorena-Karina, hal serupa juga dialami PO. Bejeu. Memulai bisnis bus AKAP dengan hanya sekitar 7 armada pada tahun 2007, kini Bejeu sudah memiliki 47 armada yang terdiri dari divisi AKAP dan divisi Pariwisata.

Trayek yang dilayani sebagian besar adalah jurusan Jepara–Jakarta PP melalui jalur pantura. Selain jurusan tersebut, mulai dibuka jurusan Serang–Jepara PP. Meski jurusan Jepara, Bejeu juga mengambil atau mengantar penumpang dari Kudus, Demak, Semarang, dan Kendal.

Meningkatkan Kualitas Layanan
bejeuDijelaskan M. Rifqy Roosdhani, Marketing Director PO. Bejeu, strategi yang diimplementasikan agar dapat bersaing dengan sesama bus AKAP maupun moda transportasi lainnya adalah mengusung tagline “Elegant Black Bus with the Colorful Services”. Hal ini diterjemahkan dalam paket layanan transportasi yang ditawarkan berupa fitur menarik dan berbeda di dalam armada, seperti hotspot on the bus, free hot coffee and tea, dan power plug on the bus.

Dari sisi branding, Bejeu konsisten dalam pemilihan warna dasar armada, yaitu hitam. Semua armada bus AKAP Bejeu memiliki warna dasar hitam dengan kombinasi warna merah dan kuning, sedangkan untuk bus pariwisata digunakan warna gold, sehingga memiliki julukan “Black Gold”. “Kami ingin mengambil asosiasi pasar terhadap warna armada, jika ada armada bus berwarna hitam, maka itu adalah bus Bejeu,” beber Rifqy.

Semua strategi tersebut tidak lain merupakan upaya membangun ekuitas merek Bejeu yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kepercayaan pelanggan dan peningkatan penjualan.

Taktik yang dilakukan Bejeu dalam menjaga loyalitas pelanggannya antara lain memberikan snack berupa 1 botol air minum dalam kemasan 600 ml dan roti. Hal ini tidak didapatkan pada armada pesaing. “Agar pelanggan melakukan repeat order, diberikan tiket gratis untuk setiap penukaran 10 tiket atas nama yang sama dalam kurun waktu 1 tahun,” imbuhnya.

Sementara untuk lebih meningkatkan loyalitas pelanggan, Bejeu membentuk komunitas yang dinamakan BBC (Black Bus Community) dengan “The Black Bus Passion” yang artinya rasa cinta kepada bus hitam, yaitu Bejeu. Keanggotaan dan kepengurusan BBC sudah ada di Jepara, Jabodetabek, dan daerah lainnya, dengan kegiatan rutin yang disebut sebagai kopdar (kopi darat).

Mengenai prospek bisnis transportasi, khususnya bus AKAP, Rifqy mengatakan bisnis ini masih menjanjikan terutama untuk daerah-daerah yang masih belum terjangkau kereta api atau pesawat.

Masih banyak pasar niche dalam industri ini yang belum tergarap secara maksimal. Sebagai operator bus AKAP, Bejeu berkomitmen untuk melakukan inovasi-inovasi baru dalam bidang teknologi layanan penumpang dan personalisasi layanan, sehingga semakin memanjakan penumpang.
Moh. Agus Mahribi

Foto: Lilyanti

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top