ISP Makin Banyak, Perang Tarif Internet Makin Jor-joran

0
59
kiri ke kanan: Uday Rayana (CEO Selular), E. Kurniawan (VP Marketing Manager Telkom), Sarwoto Atmosutarno (Ketua Umum Masyarakat Telekomunikasi Indonesia) dan Muhammad Arif (Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) berpose bersama usai Selular Congress 2022 di Jakarta (25/10/22). Foto: marketing.co.id/lialily.

Marketing.co.id – Berita Digital & Technology | Indonesia berada di urutan 30 dari negara-negara yang mempunyai tarif internet paling murah. Dari 12 negara di Asia Tenggara, tarif Internet Indonesia menduduki posisi paling buncit. Nilai rata-rata tarif internet di Indonesia yakni Rp 6.028 per 1 Gigabyte (GB) dan Vietnam yang menduduki posisi ke-11 dengan nilai tarif internet yakni Rp 7.030 per 1 GB.

Saking murahnya tarif internet di Indonesia, kecepatan jaringan internet malah menjadi lambat karena banyak ISP berebut bandwith untuk memuaskan konsumennya. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat, dari 250 juta lebih penduduk Indonesia, jumlah pengguna internet di Indonesia hingga 2022 mencapai 210 juta orang.

kiri ke kanan: Uday Rayana (CEO Selular), E. Kurniawan (VP Marketing Manager Telkom), Sarwoto Atmosutarno (Ketua Umum Masyarakat Telekomunikasi Indonesia) dan Muhammad Arif (Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) berpose bersama usai Selular Congress 2022 di Jakarta (25/10/22). Foto: marketing.co.id/lialily.

Dari total tersebut, hanya 14,5% yang memiliki fasilitas fixed broadband. Oleh karena potensi pelanggan di bisnis ini terbuka lebar maka persaingan diantara para penyedia layanan internet fixed broadband juga semakin ketat. Sebutlah pemain utama seperti Indihome, First Media, Biznet, MyRepublic, MNC Play, CBN, Link Net dan Oxygen.

Operator selular seperti XL Axiata (XL Home) dan Indosat Ooredoo Hutchinson (HiFi) juga mempunyai layanan sejenis. Diluar mereka ada PLN (Iconet) serta belakangan XL Axiata mengakuisisi First Media dari Lippo Group untuk lebih memperkuat jaringannya.

Dalam Selular Congress 2022, yang dihadiri perwakilan dari Indihome, APJII dan Masyarakat Telekomunikasi (Mastel), di bahas apakah dalam persaingan penyediaan internet, maka perang tarif akan dilakukan oleh Fixed Broadband, seperti yang pernah terjadi beberapa saat lalu ketika terjadi perang tarif antara industri selular?.

Uday Rayana, CEO Selular mengatakan bahwa harga menjadi instrumen penting bagi fixed broadband untuk memenangkan pasar persaingan Internet Service Provider (ISP). Namun demikian harusnya penyedia internet tidak hanya mengandalkan tarif murah saja untuk menarik pelanggan, tetapi juga layanan yang mumpuni sesuai promosi dari masing-masing ISP.

Menurut Uday, selama ini masyarakat diiming-imingi iklan yang sifatnya menggoda namun pada prakteknya tidak sesuai dengan yang didapat. Seperti misalnya, membayar Rp 300.000 akan mendapatkan kecepatan 50 mbps. Pada prakteknya kecepatan yang didapat jauh dibawah itu.

Salah satu operatod fixed broadband yaitu IndiHome memiliki cara unik untuk menggaet pelanggan dengan mengusung konsep Window of Entertainment. “Kami menghadirkan berbagai inovasi dan mengembangkan digitalisasi layanan hingga customer care. Hal ini menjadi solusi IndiHome kepada pelanggannya yang kebutuhan konsumsi internetnya terus meningkat setelah pandemi.” jelas VP Marketing Manager Telkom, E Kurniawan di Jakarta, Selasa (25/10/22).

Hampir sebagian besar ISP menyediakan layanan all-in-one (internet sekaligus entertainment) sebagai promosi agar calon pelanggan tertarik. “Sebagian besar rumah tangga Indonesia sudah atau segera memiliki akses ke penyedia layanan broadband tetap yang cepat dan andal. Kompetisi pun tidak hanya terjadi di Pulau Jawa namun hingga sampai luar Pulau Jawa. Kami melihat perang harga layanan fixed broadband masih dalam batas wajar dan APJII terus mengawasi serta menjaga iklim kompetisi bisnis yang sehat.” tambah Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif di tempat yang sama.

Ketua Umum Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno menyebutk bahwa Fixed Broadband jaringannya terbuka dan saling terhubung yang membuat pelanggan akan melakukan survei perbandingan tiap ISP sebelum memutuskan berlangganan. Dengan menjaga kualitas serta menawarkan paket bundling yang kompetitif maka pelanggan akan sulit beralih ke produk lainya.

Marketing.co.id: Portal berita marketing dan bisnis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.