Kebiasaan Finansial yang Merugikan

0
924

Pernahkah Anda lebih memilih menghabiskan bonus untuk barang-barang tertentu padahal Anda masih memiliki utang untuk dibayar? Ya, bisa jadi hampir semua dari kita pernah mengalami hal ini.

Behavioural Economics, sebuah area baru ilmu sains mampu menjelaskan mengenai bagaimana otak mengambil keputusan finansial yang buruk. Behavioural Economics atau yang biasa disingkat BE sendiri adalah gabungan dari ilmu psikologi, ekonomi, finansial, dan sosiologi.

Pionir BE yang juga pengajar di Duke University, Profesor Dan Ariely dan peneliti dari Rotman School of Management, Nina Mazar, menjelaskan bahwa otak kita terprogram untuk berpikir jangka pendek dibanding jangka panjang yang lebih menguntungkan.

Seringkali, proses pengambilan keputusan ini menjadi kebiasaan sehingga Anda merasa tak perlu memikirkannya matang-matang. Padahal, kebiasaan inilah yang bisa jadi memiliki dampak besar pada kondisi finansial Anda.

Berikut kebiasaan-kebiasaan yang tanpa Anda sadari merugikan, serta bagaimana solusi untuk mengatasinya:

1. Mana yang lebih penting, membeli iPad sekarang atau menabung untuk masa depan?

Kadang kita memilih pilihan yang buruk saat harus memilih antara tujuan penting di masa depan, atau keinginan kita sekarang. Hal ini dekat hubungannya dengan mengapa diet gagal dan mengapa kita tak berolahraga sebanyak yang semestinya.

Menabung sangatlah penting, dan perlu menjadi kebiasaan. Masalahnya adalah kita cenderung meremehkan keuntungan ke depan, sehingga kebutuhan “membeli iPad” terasa sangat penting untuk sekarang, setidaknya itulah yang berlangsung pada proses pengambilan keputusan kita.

Satu cara bagaimana mengatasi situasi ini adalah menggunakan alat-alat yang membantu kita berkomitmen dengan keputusan kita. Beberapa insitusi finansial menyediakan jasa untuk konsumen yang ingin berkomitmen dari awal untuk menyimpan beberapa persen dari gajinya.

Hal ini lebih efektif “memaksa” kita menabung daripada mengandalkan keinginan dari dalam yang tak kunjung datang.

2. Menurut Anda berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk dana pensiun Anda?

Angka yang sesungguhnya mungkin mengagetkan Anda. Banyak orang berasumsi bahwa pada masa pensiunnya mereka dapat hidup tenteram dengan 60 sampai 70 persen dari pendapatan tahunannya saat ini. Tapi kenyataannya tidak demikian. Studi menunjukan bahwa angka yang realistis adalah 135 persen. Ya, 135 persen dari pendapatan kita saat ini.

Mengapa kita tiba-tiba membutuhkan uang lebih? Karena kita sering meremehkan kebiasaan pengeluaran kita. Sindrom “kaget bebas” pada masa pensiun bisa jadi masalah Anda. Kebebasan ini “mendorong” diri untuk terlibat dalam aktivitas yang tidak murah. Inilah yang menyebabkan mengapa Anda membutuhkan uang lebih. Karena pola pengeluaran Anda yang baru.

Solusinya? Mulai menabung sekarang. Memang mudah mengatakannya daripada melakukannya, tapi Anda tahu? Anda harus melakukannya.

Menabung sedini mungkin akan menjadi kuncinya. Dengan menabung lebih awal, kita dapat membentuk pola menabung yang teratur. Setiap kali ada penolakan dari diri, cobalah ingat bagaimana Anda ingin menghabiskan masa pensiun dengan nyaman dan tenteram.

3. Mengapa kita membeli jaminan?

Emosi pada diri kita sangat mempengaruhi keputusan dalam penambahan jaminan dan asuransi. Contohnya jaminan dan asuransi saat sewa mobil. Jaminan sejenis ini sebenarnya hampir merupakan keuntungan absolut bagi penyedia layanan. Seringkali kita diingatkan mengenai hal ini, tapi tetap saja kita membayar untuk jaminan semacam ini.

Penjelasan dari perilaku ini sebenarnya bukan kebodohan yang mendasari perilaku ini, tapi perasaan emosional yang ingin menghindari “penyesalan”. Konsumen menyadari bahwa mereka akan mengevaluasi keputusannya berdasarkan apa yang sesungguhnya terjadi, bukan berdasarkan informasi yang tersedia saat melakukan keputusan. Dengan membayar untuk jaminan semacam itu, pada dasarnya kita rugi, tapi kita menghindari adanya kemungkinan menyesal di masa depan.

Solusi? Jangan menggunakan jaminan kecuali Anda pernah mendengar dari banyak teman Anda bahwa jaminan tersebut menyelamatkan mereka berkali-kali. Contohnya seperti jaminan kesehatan masa tua atau garansi barang elektronik.

Terakhir, jangan mudah terjebak dengan kebutuhan jangka pendek dan pikirkan masa depan Anda! (www.forbes.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.