Komunitas Bukan Sekadar Penggembira Merek

0
965
Komunitas Bukan Sekadar Penggembira Merek
Sumber: Soylution
Komunitas Bukan Sekadar Penggembira Merek
Sumber: Soylution

Dewasa ini komunitas memang menjadi sasaran empuk bagi para pelaku bisnis dalam menerapkan strategi marketing. Banyaknya massa yang dimiliki, dirasa sangat memudahkan merek dalam kegiatan promosi. Tapi apakah itu benar-benar efektif?

Untuk menilai efektivitas sebuah kegiatan marketing tentu harus didukung oleh data-data. Namun, satu hal yang pasti, komunitas bisa menjadi elemen yang sangat penting dalam komunikasi merek.

Beberapa merek membuktikan sendiri hal tersebut. Belajar dari kesuksesan merek sebelumnya yang telah melakukan community marketing, kini telah banyak brand yang berusaha melakukan “pedekate” dengan komunitas.

Salah satu merek yang sukses melakukannya adalah Polygon yang merangkul komunitas Bike to Work, serta Dufan yang mendekati komunitas blogger.

Hanya saja, hal seperti itu tidak sepenuhnya disukai oleh para pengurus komunitas. Meski hasilnya memang sama-sama menguntungkan –merek bisa promosi dan komunitas mendapatkan dana untuk kegiatan operasionalnya – namun hubungan marketing community tidak sesederhana itu.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemilik brand. Menurut Co-Founder Komunitas Indo Runners, Yasha Chatab, poin dari community marketing bukan hanya sekadar ‘dapat komunitas yang punya banyak massa’, tapi lebih kompleks.

“Banyak merek yang mendekati kami biar event larinya makin semarak. Tapi bukan itu kan poinnya. Kami nggak mau kalau cuma seperti itu. Yang kami inginkan bukan hanya ngajak buat ngeramein event-nya, tapi juga menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya olahraga lari, seperti yang kami lakukan” terang Yasha yang juga bekerja sebagai Group Business Development Director di WIR Global.

“Bahkan ada beberapa merek yang ngedeketin komunitas cuma untuk ajang promosi, yang seperti itu kan udah nggak asik lagi,” tambah Yasha.

Di sini Yasha menekankan bahwa dirinya beserta komunitas Indo Runners menginginkan merek yang memiliki kesamaan visi. Jika sudah begitu, komunitas bukan cuma untuk ‘ngeramein’ saja, tapi akan lebih dihargai karena memiliki kedekatan emosional, si komunitas pun rasanya tidak akan menuntut macam-macam, seperti anggapan beberapa merek yang pernah ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.