Kucurkan Modal Tambahan, Wagely Targetkan Jadi Pemimpin Pasar

0
386
Wagely

Marketing.co.id – Berita Digital I Platform kesejahteraan keuangan Wagely menambah modal lagi dengan begitu cepat setelah putaran awal. Ini diyakini akan mempercepat brand wagely untuk menapaki tujuan menjadi pemimpin pasar di Indonesia dan Bangladesh.
Wagely
Co-Founder dan CEO Wagely, Tobias Fischer menjelaskan, melihat adanya tingkat pertumbuhan dua digit yang besar, dengan  adanya modal tambahan memungkinkan Wagely untuk dapat melipatgandakan dan mempercepat brand wagely untuk menapaki tujuan menjadi pemimpin pasar di kedua negara beroperasi, yaitu Indonesia dan Bangladesh. Dukungan dan kepercayaan dari investor lokal seperti EV (Growth Fund) merupakan bukti nyata dukungan atas misi utama Wagely.
“Kami juga menjelajahi berbagai opportunities di pasar berpotensi lainnya sesuai dengan pertumbuhan demand akan kesejahteraan finansial pekerja. Sejauh ini, Wagely sudah menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan besar. Makanya, Wagely merupakan platform kesejahteraan keuangan pertama (the first financial wellness platform) dengan pertumbuhan tercepat,” ujar dia.
Wagely sendiri telah menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan terbesar (blue chips) di Indonesia dan Bangladesh, seperti British American Tobacco, Ranch Market, Medco, Adaro Energy, SQ Group, Classic Composite and Vision Garments, dan masih banyak lagi. Wagely juga satu-satunya pemain di Asia Tenggara yang beroperasi di dua pasar, telah menerima ISO 27001 tentang keamanan informasi, dan terintegrasi langsung dengan SAP.
Dia menambahkan, Wagely juga sudah membantu memberikan akses pelestarian kesejahteraan keuangan bagi jutaan karyawan pekerja keras di Asia. Wagely menawarkan akses gaji yang diperoleh hanyalah langkah pertama untuk menciptakan kesejahteraan keuangan dalam jangka panjang.
“Berbeda dengan penyedia layanan keuangan tradisional yang menawarkan solusi vertikal, kami membangun platform holistik yang menawarkan tidak hanya solusi arus kas yang sehat dan terjangkau kepada pekerja,” ungkap mantan Direktur Capital Match, Advisor untuk Asian Development Bank tersebut.
Tobias Fischer pun menjelaskan alasan Wagely memperluas layanan ke Bangladesh dan perbedaan pasar negara itu dengan Indonesia. Menurutnya, mereka melihat peluang besar untuk teknologi keuangan di Bangladesh yang dicirikan oleh fundamental menarik dan serupa seperti Indonesia dalam hal demografi, large TAM (Total Addressable Market), akses yang masih terbatas ke fasilitas kredit, meningkatnya permintaan untuk layanan keuangan terpadu, serta ruang gerak untuk makin memperluas produk dan segmentasi.
“Selain itu, kami mendapat dukungan kuat dari perusahaan pemberi kerja dan karyawan yang memungkinkan kami untuk mendaftarkan beberapa produsen RMG (Ready Made Garment) terkemuka, termasuk SQ Group, Classic Composite, dan Vision Garments,” katanya.
Terkait tren pasar Earned Wage Acces (EWA) atau yang sering disebut ‘gaji instan’ di Asia Tenggara, Tobias Fischer menyebutnya luar biasa. Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat karyawan melirik EWA. Tempat kerja (workplace) berubah dengan cepat dan dinamis, terutama sejak COVID-19 melanda. Sekarang, metode penggajian karyawan pun turut berubah, dan ini terjadi dalam skala yang luas. Wagely tetap berkomitmen untuk menghadirkan kesejahteraan finansial terbaik dalam melayani kebutuhan karyawan dan pekerja kelas menengah ke bawah yang jumlahnya terus meningkat di kawasan Asia Tenggara, terlebih saat menghadapi tantangan finansial.
“Kami membuka wawasan karyawan akan upah harian, akses instan ke hak upah, dan daya untuk merencanakan pengeluaran dengan lebih bijak – terbukti mengurangi angka perputaran karyawan, memperkuat loyalitas, dan meningkatkan penghematan bisnis. Kami bangga telah berhasil beroperasi di dua pasar terbesar di Asia (Indonesia dan Bangladesh), yang menaungi lebih dari 150 juta pekerja secara total,” lanjutnya.
Saat ini, situasi Pandemi COVID-19 sudah mulai mereda. Meski pasar kembali normal, relevansi EWA diyakini Tobias tidak akan memudar. Alasannya, sebelum pandemi pun, ada indikasi kuat bahwa lebih dari 75% pekerja di Asia Tenggara berjuang untuk menutupi pengeluaran tak terduga pada minggu akhir menuju pembayaran gaji. Itu menyebabkan tekanan finansial yang besar. Hal tersebut secara tidak langsung merugikan perusahaan karena menurunnya produktivitas dan potensi omset.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.