Laba Bersih BNI Syariah Meroket 23%

0
1073
Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo (ketiga dari kiri) dan direksi berfoto bersama usai jumpa pers laporan kinerja triwulan 2 tahun 2018

Jakarta, 26 Juli 2018-Kinerja BNI Syariah pada triwulan 2 tahun 2018 menunjukan pertumbuhan positif. Laba bersih dilaporkan mencapai Rp202,9 miliar atau naik 23,0% dari Juni 2017 yang sebesar Rp165,1 miliar.  Menurut Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo, kenaikan laba tersebut disokong oleh ekspansi pembiayaan, peningkatan fee based, dan rasio dana murah yang optimal.

Fee based saat ini mencapai Rp72 miliar, dan sampai akhir tahun ditargetkan mencapai Rp150 miliar. Potensi fee based berasal  transaksi ATM, internet bankimg, dan mobile banking,” tutur Firman saat jumpa pers.

Cerminan pertumubuhan juga terlihat dari aset BNI Syariah pada triwulan 2 tahun 2018 yang mencapai Rp37,7 triliun, atau naik sebesar 22,9 persen dari triwulan 2 tahun 2017. Angka tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata industri sebesar 16,9% (data SPS per April 2018 BUS-UUS).

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo (ketiga dari kiri) dan direksi berfoto bersama usai jumpa pers laporan kinerja triwulan 2 tahun 2018

Dari sisi bisnis, BNI Syariah telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp25,1 triliun atau naik 11,4% dengan kontribusi pertumbuhan pembiayaan pada segmen komersial 22,0% diikuti Hasanah Card 14,6%, SME 12,3%, Konsumer 7,8% dan Mikro 2,9%.

Sementara komposisi pembiayaan sampai dengan Juni 2018 terdiri dari segmen Konsumer sebesar Rp12,9 triliun (51,5%), diikuti segmen Kecil dan Menengah sebesar Rp5,5 triliun (22%), Segmen Komersial sebesar Rp5,3 triliun (21%), Segmen Mikro Rp995,5 miliar (4%), dan Hasanah Card Rp387,5 miliar (1,5%).

Firman mengatakan, dalam menyalurkan pembiayaan, BNI Syariah berusaha terus menjaga kualitas pembiayaan. Hal ini tercermin pada Non Performing Financing (NPF) BNI Syariah diangka 3,04%. “Di bawah rata-rata industri yang mencapai 4,06%,” tuturnya.

Kinerja positif juga ditunjukan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp32,4 triliun atau naik 21,5%. Angka ini lagi-lagi lebih tinggi dari pertumbuhan industri sebesar 16,5% (data SPS per April 2018 BUS-UUS). Dengan nasabah 2,6 juta, komposisi DPK bank yang memisahkan dari induknya, BNI pada Juni 2010 ini didominasi oleh dana murah (Giro dan Tabungan) yang mencapai 52,8%.

Firman mengatakan, nasabah BNI Syariah sekitar 70% berasal dari segmen milenial. Untuk melayani segmen ini, bank yang mulai beroperasi pada tahun 2000 ini sudah memiliki kanal e-banking dan produk berbasis digital seperti Yap (Your All Payment), Tapcash, VCN (Virtual Card Number), dan Mobile Banking. “Digital banking juga dibutukan untuk menjangkau masyarakat di pelosok untuk mempercepat program inklusi keuangan,” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.