Portal Lengkap Dunia Marketing

Headline

Mendulang Rupiah dari Alas Laptop

DSC_0212web

Juananda Sutan Assin

Tak terbayangkan sebelumnya oleh Juananda Sutan Assin bahwa bisnis alas laptop yang ia mulai dari rumahnya kian bersinar. Permintaannya tak hanya datang dari pasar domestik saja, tapi juga pasar mancanegara. Usaha yang bermodal awal Rp 20 juta dan dimulai pada tahun 2007 itu, kini sudah merambah pasar Singapura, Brunei, Malaysia, Mesir, dan Australia.

Sebenarnya, alas laptop ini pernah ia lihat di pasar ketika masih kuliah di Amerika Serikat. Alas laptop terbuat dari plastik itu kemudian menghilang. Di Indonesia, bareng suaminya, perempuan yang akrab disapa dengan Nana ini menghidupkan lagi produk tersebut dengan merek LapTopper.

Usaha ini awalnya terkesan coba-coba. Saat ide datang, ia menyuruh seorang tukang kayu yang kebetulan punya gawe di rumahnya untuk membuat alas laptop. Bisnis ini ia kerjakan pertama kali dari kamar tidurnya di town house sambil menunggu selesai rumahnya yang sedang dibangun. Meski masih dalam kondisi serba terbatas, usaha Nana ini tergolong terobosan anyar mengingat belum ada pemain lain yang menggarapnya saat itu. Ia jeli melihat kebutuhan konsumen pemakai komputer jinjing akan kenyamanan dalam bekerja.

Demi kenyamanan bekerja—sementara barang kian menumpuk—ia pun mulai menjadikan sebagian ruang di rumah itu sebagai tempat kerja. Barang pun semakin menyesaki ruangannya lagi. Baru pada tahun 2008, Nana membangun kantor anyar di jalan Karang tengah 1 No. 10, Jakarta Selatan—lengkap dengan sebuah bengkel kerja. Awalnya, Nana mempekerjakan dua orang sebagai tukang jahit. Sekarang, ia mempunyai total karyawan 20 orang yang bekerja di bengkel kreatif.

Tiga bulan pertama adalah masa pencarian atas bentuk alas laptop yang laku jual. Akhirnya, dirilis tiga ukuran, yakni kecil, menengah, dan besar. Usai tiga bulan itu, Nana mulai menseriusi bisnisnya. Pada Desember 2007, ia memasarkan produknya di Cilandak Town Square (Citos). “Kami pameran di sana di setiap Rabu dengan mengusung 50 biji. Ternyata ludes dan banyak yang memesan. Saat itu, seluruh tukang masih outsource. Kami yang menyediakan mereka bahan bakunya. Kami pun terus menggenjot produksi,” kata Nana.

Tak jarang, Nana sendiri yang turun ke pameran untuk mengedukasi langsung para pengunjung. Melihat respons pasar yang cukup besar, Nana pun terus mengintensifkan kegiatan pamerannya. Pesanan terus mengalir. Pada Maret 2008, Nana mencoba memamerkan produknya di Singapura. Respons yang diterima sama, positif. “Pertengahan siang di hari pertama, produk kita sudah ludes terjual. Akhirnya kami membuat daftar pesanan. Setiap bulan, kami adakan pameran di negeri itu,” kata Nana dengan paras semringah.

Selain itu, komunikasi dengan pelanggan—baik pelanggan domestik maupun mancanegara—dilakukan melalui internet. Setiap hari, kata Nana, ada sekitar 10 pesanan melalui surat elektronik. Promosi juga dilakukan dengan situs web, surel (e-mail), telepon, menyebar brosur, dan sebagainya. Media televisi yang meliput LapTopper juga menjadi sarana komunikasi mumpuni. Nana pun tak luput membidik media sosial, seperti Facebook. “Satu media komunikasi yang sangat ampuh justru melalui mulut ke mulut. Satu orang merekomendasikan kepada orang lain. Begitu seterusnya dan membuat pelanggan terus berdatangan ke gerai kami,” tandas dia.

Setelah mendapatkan kepercayaan diri, Nana memasarkan alas laptop ini ke toko-toko besar, seperti Office 2000, Gramedia, dan sebagainya. Toko-toko tersebut setiap bulannya bisa memesan 300 sampai 500 biji. Sementara, produksi sebulan rata-rata sebanyak 2.000 biji. LapTopper juga bisa dibeli putus dengan pembelian minimum 100 biji. “Sampai kini, kami terus memasok produk ini ke toko-toko tersebut dan cukup laku. LapTopper sudah mempunyai agen sendiri di Singapura, Brunei, dan Australia,” imbuh Nana.

Produk LapTopper menyasar pengguna laptop dari segala umur. Maklum, laptop, menurut Nana, sudah familier di kalangan anak SD sampai dewasa. Apalagi kebutuhan setiap keluarga akan alas laptop ini tidak cuma satu, mengingat setiap anggota keluarga juga sudah pegang laptop masing-masing. LapTopper mempunyai beberapa keunggulan, seperti ringan, desain warna-warni, punya tiga ukuran, tahan lama, dan ada layanan purnajual untuk pengisian bantalan. Desainnya pun sangat luwes. Pelanggan bisa memesan desain kesukaannya sendiri. “Bila ada produk kami yang rusak lantaran kesalahan di rumah produksi, pelanggan berhak minta tukar atau diperbaiki,” kata dia.

Kualitas produk ia kontrol sendiri. Termasuk dalam pemilihan motif, desain, serta bentuk alas laptopnya. “Desain itu terkait erat dengan selera. Ada desain yang kami ciptakan sendiri, ada yang disesuaikan dengan selera pelanggan,” cetus Nana.

Selain itu, beberapa pelanggan—khususnya pelanggan korporat—membeli alas laptop ini sebagai cinderamata maupun suvenir. Jumlah pesanannya pun tak tanggung-tanggung, mencapai ribuan biji. Itu tidak hanya perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, tapi juga di luar negeri, seperti Singapura, Brunei, Australia, dan Malaysia. Sekolah-sekolah juga mulai memesan alas ini untuk guru dan siswanya. “Alas laptop sekarang sedang menjadi tren sebagai hadiah ulang tahun juga. Jadi, LapTopper memberi sentuhan baru di hari ulang tahun tersebut,” cetus Nana.

Strategi harga yang diterapkan cukup rasional. Sebagai pebisnis, prinsip Nana, kudu bisa mendapat profit. Rentang harga LapTopper antara Rp 195 ribu sampai Rp 350 ribu. “Di Indonesia, kami sedang fokus menggarap kota Jakarta. Kami juga sudah mulai menjajaki Bandung, Samarinda, Surabaya, dan kota-kota lain,” kata dia.

Sebagai pionir, LapTopper tak luput diikuti oleh pemain lain. Nana juga menyadari adanya bahaya pemalsuan. Untungnya, kata Nana, LapTopper sudah didaftarkan sebagai hak cipta. “Munculnya pemain lain itu lumrah dalam bisnis. Kami tak boleh menutup pintu rezeki orang lain. Asalkan tidak saling menjatuhkan dan melakukan pemalsuan atau mengopi alas laptop kami. Karena kami yang pertama, merek LapTopper sudah menempel erat di benak pelanggan,” katanya.

Selain alas laptop, diproduksi juga alas untuk makan di tempat tidur dan alas buku. Jerih payah Nana pun berbuah omzet sekitar Rp 300 jutaan setiap bulannya. Tahun ini, ia bertekad mengembangkan pasar yang lebih luas lagi. Termasuk membidik kalangan ekspatriat melalui beragam pameran. “Kami terus melebarkan dan  memantau pasar sembari melakukan inovasi produk. Selain itu, bisnis ini butuh kesabaran,” tandas Nana. (Sigit Kurniawan/Majalah MARKETING)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top