Menyulap Sisa Potongan Katun Menjadi Mainan Edukatif

0
1663

Produksi mainan anak-anak terus mengalami perkembangan. Setiap tahun, selalu ada saja ide-ide unik yang bermunculan seputar produk mainan anak. Celah inilah yang kemudian dipilih oleh Evy Nur Shakuntala untuk mewujudkan bisnis mainan edukatif khusus anak.

Boleh dibilang, mainan edukatif lebih menarik perhatian para orangtua ketimbang mainan biasa yang nonedukatif. Mainan tersebut ditujukan untuk menjadi mitra anak dalam bermain agar mereka lebih terarah. Banyak jenis mainan edukatif yang lahir dengan banyak ragam bahan produksi, mulai dari yang berbahan plastik hingga berbahan kain. Lantaran pernah berbisnis di bidang konveksi sebagai pembuat baju anak, Evy pun mulai mencoba mengembangkan bidang mainan anak menjadi suatu usaha yang menguntungkan.

Evy, tergolong orang yang susah diam. Di waktu luangnya, ia kemudian mendirikan usaha pembuatan mainan edukatif dari bahan katun. Ide untuk menjalankan bisnisnya muncul karena perempuan asli Yogyakarta ini pernah menemukan mainan buku dari katun berisi aneka ragam gambar, saat menerima oleh-oleh asal negara tetangga.

Meski produknya bukanlah yang pertama di Indonesia, Evy mengaku bahwa pangsa pasar bisnis ini masih belum banyak ditemukan di pasar lokal. Ibu dua anak ini melahirkan ide untuk memanfaatkan sisa potongan produk konveksi.

“Ide berawal dari pemanfaatan perca kain katun, karena pada awalnya saya adalah pembuat baju anak dan pernak-pernik dari bahan katun. Akhirnya saya pun terpikir untuk membuat buku dari katun dengan menjahit semua konten bukunya, seperti angka, huruf, dan gambar,” ujar Evy.

Buku bergambar dari bahan katun ini diklaim Evy sebagai bahan pembelajaran anak. Ada beberapa kategori untuk menumbuhkembangkan sel motorik pada anak. Misalnya saja buku bergambar buah yang dijahit dari katun bisa membantu anak usia satu tahun untuk mengenal bentuk dan warna. Anak usia 2–3 tahun bisa melatih motorik tangan dengan buku edukasi yang disebut “Dress Up”. Tidak hanya itu, ada pula beberapa produk yang bisa digunakan sampai anak berumur lebih dari empat tahun, contohnya kalender anak. Dengan produk ini, anak dapat belajar mengurutkan angka-angka, mengetahui bulan serta tahun. Kalender pun dapat berlaku sampai tahun 2015.

Setiap produk juga mempunyai manfaat yang berbeda. Dengan bentuk yang menarik dan mudah dipahami, kegiatan belajar menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi anak. Apalagi, Evy juga meyakini bahwa produk mainan ini tidak sekadar mendidik bagi anak, namun juga merupakan solusi bagi orangtua dalam memberikan mainan edukatif yang aman dan tidak berbahaya, karena mainan ini bisa dicuci dan dapat digunakan berulang-ulang.

Bisnis mainan edukatif anak yang diluncurkan Evy ini terkenal dengan nama “Alea Educotton”. “Alea” merupakan nama bisnis Evy sejak tahun 2006 silam, sementara “Educotton” dimaksudkan untuk mempertegas bahwa bisnis mainannya “berbau” edukasi bermodal kain katun. Ibu dari Keysha (lima tahun) dan Kayla (tiga tahun) ini mulai memasarkan produk mainan anak tersebut pada Oktober 2009. Kala itu, modal yang ia gelontorkan untuk bisnis buku bergambar dengan jahitan bahan katun itu bernilai Rp 20 juta.

Lalu, siapa sajakah target pasarnya? Sudah pasti anak-anak menjadi incaran utama produk yang digawangi Evy ini. Namun selain anak, lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) juga menjadi salah satu target pasarnya. Sementara mengenai harga jual, Evy mematok harga mulai dari Rp 35 ribu hingga Rp 120 ribu. Harga jual tergantung pada tingkat kedetailan proses produksi buku mainan tersebut.

Ternyata, tidak perlu waktu lama untuk mempopulerkan produk mainan edukatif asal Kota Gudeg ini. Pemasarannya cukup berkembang pesat. Sekarang saja, setiap bulannya, Evy rata-rata harus memproduksi 100 buku dan 100 produk mainan edukatif lainnya. Tidak sekadar membangun usaha beromzet puluhan juta sebulan, Evy juga membuka lapangan pekerjaan bagi para ibu rumah tangga yang berada di sekelilingnya. “Produk ini kebanyakan dikerjakan dengan manual, seperti membentuk huruf atau membuat pola. Karenanya, satu buku bisa dibuat oleh empat orang dalam waktu dua hari. Saya senang karena juga dapat memberdayakan para ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang untuk berkreasi, dan bisa memberikan penghasilan tambahan,” jelas Evy.

Lantaran belum memiliki distributor lain, Evy masih melakukan pemasaran secara konvensional, dan pemasaran langsung masih berada di Yogyakarta. “Pemasaran masih dilakukan dengan cara konvensional, kami mengikuti pameran-pameran dan menawarkan ke sekolah-sekolah. Dan untuk menjangkau daerah di luar Yogyakarta, saya tidak perlu repot, karena saat ini pemasaran dengan sistem online juga lebih efektif,” lanjut Sarjana Sains, Universitas Gadjah Mada itu.

Selain via online, Evy juga membangun kemitraan untuk memperbesar layanan penjualan. Evy menekankan pentingnya kesepakatan pada saat awal membangun kemitraan, terkait penentuan harga. Jika membeli produk dalam jumlah besar secara tunai untuk dijual kembali, Evy membebaskan peritel untuk menetapkan harga pasar. Namun, kebebasan penetapan harga tersebut tidak diberlakukan bagi mitra yang menggunakan sistem pemasaran.

“Perlu ada kesepakatan antara saya dengan peritel tentang penetapan harga pasar, sesuai dengan cara pembelian dan pembayaran mereka. Tempo waktu pembayaran juga perlu diperjelas. Harapannya satu minggu, jika menggunakan sistem pemesanan. Lebih baik lagi jika membayar tunai,” kata Evy.

Berbicara mengenai potensi pasar, Evy mengatakan bahwa peluangnya cukup bagus. “Saya sangat optimistis dengan perkembangan produk ini. Potensi pasarnya cukup bagus, karena kesadaran masyarakat untuk memilih mainan yang mendidik dan aman cukup tinggi. Persaingan pasar juga belum banyak, dan bahan baku mudah diperoleh. Untuk selanjutnya, saya hanya perlu banyak ide untuk mengembangkan produk,” cetus Evy.

Sama seperti pemilik bisnis lainnya, Evy juga memiliki cita-cita untuk merambah pasar luar negeri. “Target yang ingin dicapai selain dari sisi finasial, saya juga ingin terus menghasilkan produk yang bermanfaat, inovatif, dan dapat dinikmati oleh banyak orang, serta bisa menembus pasar luar negeri,” tutup wanita kelahiran Yogyakarta, 4 Agustus 1979 itu. (Merliyani Pertiwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.