Merajut Strategi Cemerlang untuk Hasil Akhir yang Memukau

1
796

www.marketing.co.id – Seberapa besar sumber daya yang dihabiskan untuk mendapatkan hasil yang telah Anda peroleh sampai hari ini? Apakah Anda sering merasa frustasi akibat selalu sibuk mengerjakan tugas harian yang menumpuk, tetapi hasilnya masih jauh dari target yang ingin Anda raih? Dan bagaimana hasil akhir dari rencana atau strategi yang telah Anda buat untuk organisasi Anda selama ini?

Sebagian orang cukup bermasalah dengan pertanyaan-pertanyaan di atas. Bagaimana dengan Anda? Kita didesak untuk mencapai tujuan-tujuan—baik tujuan organisasi maupun tujuan pribadi. Di sisi lain, setiap hari kita juga dihadapkan oleh pilihan yang terbatas. Hal ini menyebabkan sebagian orang merasa hidupnya seperti berlari di dalam sebuah roda raksasa. Persis seperti permainan roda bagi (tikus) hamster, sekuat-kuatnya berlari tetapi sebenarnya ia tidak berpindah tempat.

Kita (Anda, saya, dan bahkan sebagian besar anggota tim Anda) sering terjebak dalam kegiatan-kegiatan kecil yang menghabiskan banyak energi, waktu, dan sumber daya lainnya—seperti membaca, menerima dan membalas email, menjawab telepon, membalas pesan yang masuk, membaca laporan, melihat koran, browsing internet, berbincang, dan lain-lain. Tetapi ketika kita menyadarinya, ternyata waktu sudah berlalu begitu cepat, sehingga Anda sudah harus mempersiapkan diri menuju ke jadwal lain. Singkatnya, kita sering kali “sibuk”, tetapi tidak banyak hasil memuaskan yang bisa kita raih. Kondisi ini terjadi terus-menerus sepanjang hari, bahkan sepanjang hidup bagi sebagian besar orang.

Di sisi lain harus diakui, untuk mencapai tujuan, butuh perencanaan matang. Dan agar tujuan tercapai, tindakan yang dilakukan haruslah fokus, terukur, dan terarah. Sejak diperkenalkan sebagai sebuah konsep, dunia bisnis dan segala hal yang berkaitan dengannya membutuhkan lebih dari sekadar rencana. Dan seiring berjalannya waktu, bermunculan banyak konsep, teori, strategi, kiat, dan rencana agar bisnis yang dijalankan sukses, sesuai keinginan dan perspektif teori tersebut.

Sampai dengan hari ini, masih sedikit metode yang membahas tentang tata cara agar semua aturan dan strategi tersebut dapat benar-benar diimplementasikan, sehingga target Anda benar-benar tercapai. Implementasi yang dimaksud bukan saja berguna bagi Anda untuk mengerjakan rencana pribadi, tetapi juga berlaku bagi Anda yang berperan sebagai pemimpin di perusahaan, karyawan, maupun organisasi pada umumnya.

Implementasi adalah tindakan kongkret dalam proses mewujudkan strategi dan rencana yang telah ditetapkan. Ada tiga alasan utama implementasi yang berkualitas (QI) sangat sulit dilakukan di sebuah organisasi:

Pertama, Strategi yang Telalu “Canggih”

Sebagai pemimpin, Anda boleh saja memiliki segudang ide, blue print, rencana atau master plan yang sangat luar biasa. Namun, jika semua hal tersebut tidak bisa diimplementasikan oleh tim kerja, so what? Sebagian pemimpin sangat bangga jika mampu melahirkan strategi maupun rencana canggihnya. Tetapi ironisnya, semakin tinggi dan canggih strategi tersebut, semakin sulit dan susah pula bagi anggota tim untuk mengimplentasikannya, sehingga mudah ditebak hasil akhir yang akan diperoleh.

Kedua, Pekerjaan-pekerjaan Kecil yang Menumpuk

Kendala implementasi juga muncul ketika kita terlalu banyak menyelesaikan “hal-hal kecil”—seperti yang telah disampaikan di atas—sehingga hal-hal yang “benar-benar penting” tidak terurusi. Hal ini terjadi terus-menerus, sampai-sampai Anda tidak menyadarinya, bukan? Kita baru terkaget-kaget ketika deadline tiba hasil akhirnya masih jauh dari target semula. Pekerjaan-pekerjaan kecil seperti sekadar membalas pesan SMS, email, dan pesan-pesan yang tidak relevan di waktu kerja tanpa disadari juga banyak menghabiskan waktu produktif. Hal-hal seperti ini sering juga menguras perhatian dan energi kita.

Ketiga, Rendahnya Komitmen Tim

Rendahnya komitmen dan kontribusi anggota tim terhadap tujuan utama organisasi juga merupakan penyebab utama rendahnya budaya implementasi di dalam perusahaan. Saya sering mengibaratkan organisasi seperti sebuah mobil dengan anggota tim sebagai roda-rodanya. Rendahnya komitmen dan kontribusi anggota tim tadi seperti karat yang menumpuk dan diperparah dengan kurangnya pelumas yang menyebabkan berhentinya roda-roda tersebut.

Tapi oke-lah, mungkin tidak semua roda berhenti. Masih ada roda-roda yang masih bisa bergerak di organisasi Anda saat ini. Maksudnya, masih ada orang-orang yang memiliki komitmen tinggi untuk terus mendorong perusahaan Anda maju ke depan. Tetapi, berapa banyak jumlah mereka? Menurut survei yang kami peroleh, jumlah mereka yang memiliki komitmen tinggi di dalam perusahaan tidaklah signifikan. Ini artinya, mereka adalah kaum minoritas jika dibandingkan mereka yang tidak memiliki komitmen. Kelompok ini kami sebut “roda berkarat”.

Belum lagi, ada sekelompok orang yang dengan sengaja mengambil keuntungan pribadi di dalam perusahaan. Mereka adalah orang-orang yang sering menjual data-data penting ke pihak lain. Mereka juga bisa mendapatkan keuntungan dengan memberikan laporan palsu atau mark-up atas biaya-biaya tertentu. Celah lain adalah mencuri sesuatu dengan memanfaatkan kelemahan sistem internal, dan masih banyak cara kerja mereka yang kesemuanya merugikan organisasi secara langsung. Kelompok ini kami namakan kelompok “roda mundur”, karena gerak langkahnya jelas menarik mundur organisasi yang ingin bergerak maju.

Lalu, bagaimana sebuah mobil dapat melaju kencang jika yang bergerak hanyalah satu atau dua roda saja, sedangkan roda lainnya diam atau bahkan berjalan mundur?

Sudah saatnya Quality Implementation (QI) menjadi perhatian Anda untuk menghidupkan kembali energi serta antusiasme tim kerja Anda agar berkinerja optimal. Ini dilakukan dengan cara menetapkan prinsip-prinsip dalam menciptakan tindakan (implementasi) yang berkualitas menjadi budaya dalam organisasi. Karena untuk melaksanakan rencana maupun mencapai tujuan besar Anda, dibutuhkan tindakan nyata. Bukan sekadar tindakan biasa, bukan pula tindakan seadanya, tetapi “tindakan yang berkualitas” dari seluruh individu di dalam tim Anda.

Saya juga bermimpi agar kelak Implementasi Berkualitas (QI) juga dapat menjadi budaya bangsa kita tercinta ini. Dengan segala kekayaan dan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia saat ini, sungguh menyedihkan masyarakat kita masih belum mampu bersaing dan tampil percaya diri di pentas dunia. Salah satu penyebab adalah lemahnya kualitas sumber daya manusia serta budaya kerja yang masih jauh dari kata “berkualitas”.

Selamat mencoba, karena hasil akhir yang berkualitas dimulai dengan implementasi yang berkualitas (QI). Semoga bermanfaat. (Kevin Wu)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.