Nyonya Meneer Siap Go International

0
2338

Marketing.co.id – Boleh dikata, jamu Nyonya Meneer termasuk salah satu perusahaan jamu tertua di Indonesia. Perusahaan yang sudah berumur hampir satu abad ini masih tetap tumbuh di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Bahkan perusahaan jamu asal Semarang ini bersiap memasuki pasar Cina.

Kekayaan flora Indonesia yang begitu besar merupakan peluang untuk berkembangnya industri jamu atau obat tradisional. Perkembangan industri dalam memproduksi jamu dari tahun ke tahun pun terus mengalami peningkatan.

Menariknya, peningkatan produksi tidak hanya untuk konsumsi dalam negeri, tetapi juga untuk ekspor. Salah satu pemain di industri ini adalah PT Nyonya Meneer, produsen jamu asli dari dalam negeri yang sudah berdiri sejak tahun 1918.

Dalam sebuah kesempatan wawancara beberapa waktu lalu di Jakarta, Presiden Direktur PT Nyonya Meneer DR Charles Saerang, mengungkapkan bahwa prospek industri jamu diperkirakan akan semakin cerah seiring semakin terdongkraknya popularitas jamu sebagai solusi kesehatan baik untuk menyembuhkan penyakit maupun menjaga daya tahan tubuh.

Jamu sudah terbukti mampu memberikan solusi untuk berbagai penyakit, misalnya kolesterol, lambung, asam urat, dan lain-lain, sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh, yang khasiatnya lebih baik dari obat-obatan kimia.

“Kalau dari prospek, industri jamu tahun ini jelas lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya karena sekarang popularitasnya semakin naik di kalangan masyarakat,” kata Charles.

Ia menjelaskan, sejak era 1990-an, pangsa pasar jamu kian meluas seiring berjalannya waktu, hingga mencapai 10%–15% sejak akhir tahun 2000-an. “Dulu tahun 1990-an, paling pangsanya cuma 2%, sekarang sudah sekitar 15%. Lihat saja popularitas jamu masuk angin ketimbang obat flu, jauh lebih disukai jamu masuk angin,” katanya.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GP Jamu), industri jamu lokal diperkirakan akan tumbuh sekitar 5%–10% pada tahun 2012. Pada tahun 2011 lalu, industri jamu dan obat tradisional diperkirakan pencapaian omzet sebesar Rp 10 triliun. Sebanyak Rp 3 triliun di antaranya berasal dari omzet industri jamu, sisanya berasal dari kontribusi industri spa, aromaterapi, dan obat bersuplemen.

Pada mulanya, jamu adalah konsumsi para priyayi. Jadi, sejak awal jamu memang ditujukan bagi kalangan menengah-atas. Nyonya Meneer sendiri sejak awal memiliki produk yang ditujukan untuk kalangan menengah-atas. Untuk pasar premium sendiri, sebenarnya sama saja dengan pasar di segmen lain di bawahnya.

Hal yang membedakan adalah cara mengemas produk (packaging) saja serta ketersediaan produk di pasaran. “Sejatinya adalah sama-sama produk jamu berbahan dasar alami. Namun, produk yang membidik pasar premium kemasannya tentu bukan lagi sachet, tapi kami jual dalam kemasan botol atau pack,” terang Charles.

Selama ini kampanye dan promosi yang dilakukan Nyonya Meneer memang tidak bermain di jalur ATL seperti beriklan di berbagai media massa. “Strategi promosi yang kami lakukan adalah langsung memasarkannya ke toko-toko (direct marketing) dan berusaha memperkuat jaringan para agen/distributor. Kami fokus pada kalangan intelektual sehingga kegiatan edukasi lebih diutamakan,” imbuhnya.

Lantas, apa rahasia yang membuat merek Nyonya Meneer bisa tahan lama? Sambil melepas senyum, Charles yang juga adalah Ketua Gabungan Pengusaha (GP) Jamu, kemudian menjelaskan kisah perjuangan PT Nyonya Meneer menghadapi persaingan di industri jamu dan obat-obatan tradisional.

“Kami masih bisa tumbuh, karena kami menjaga keaslian produk dan tidak menggunakan bahan kimia. Itu rahasianya. Kami juga selalu berusaha mengetahui kemauan pasar. Kami tidak asal buat jamu. Ada tim R&D yang secara berkala melakukan riset ke pasar-pasar untuk mengetahui need and want konsumen. Misalkan, masyarakat membutuhkan obat reumatik, maka dibuatlah jamu khusus reumatik,” terang dia.

Namun pada kenyataannya, pasar selalu berkembang dan dinamis. Saat ini, menurut Charles, industri jamu nasional bersaing dengan pemain asing.

Terkadang, lanjut dia, di tengah sengitnya persaingan pasar, para pemain dari luar negeri ini mencampurkan bahan dasar jamu dengan bahan kimia yang menyebabkan jamu produksi asing bisa langsung cespleng (manjur). Hal tersebut tentu saja berbahaya dan bisa merusak citra jamu sebagai obat-obatan tradisional yang alami.

Untuk itu, selaku Ketua GP Jamu, pihaknya kerap menggandeng beberapa pihak yang peduli, agar melakukan edukasi ke semua pihak—baik para produsen besar maupun kecil—untuk menjaga keaslian jamu dengan menggunakan bahan alami.

Seperti yang belum lama ini dilakukan, PT Nyonya Meneer yang menggandeng PT Sinde Budi Sentosa menyelenggarakan gathering bersama para penjual jamu gendong di wilayah Jabodetabek.

Mengenai rencana bisnis ke depan, PT Nyonya Meneer siap bersaing di pasar global. Salah satu negara yang menjadi incaran adalah Cina. “Kami siap untuk mendobrak pasar obat-obatan herbal di Cina, karena besarnya permintaan Cina akan obat-obatan herbal atau jamu asli Indonesia,” kata Charles.

Lebih lanjut Charles mengungkapkan, ada lima bahan dasar jamu Nyonya Meneer yang siap diekspor di pasaran Cina, seperti temulawak, kencur, jahe, sambiloto, juga pegagan, dan akan siap dijadikan komoditas utama untuk diekspor sebagai bahan dasar jamu. Kelima bahan tadi akan dikirim dalam bentuk ekstrak atau “semi finish”, dan akan dikemas ulang di Cina.

Untuk permulaan, Nyonya Meneer akan terobos pasar Cina dengan bentuk bahan jamu dengan kategori minuman dan makanan. Hal tersebut karena regulasi pengiriman bahan saat ini masih sangat sulit, sehingga bahan jamu dengan kategori ini menjadi pilihan.

PT Nyonya Meneer sendiri bersedia membangun pabrik jamu di Cina dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh pihak Cina, seperti ketersediaan tanah, serta regulasi yang tidak dipersulit.

“Cina adalah pasar yang besar. Karena untuk lima bahan pokok ini saja, saya yakin kami bisa meraup omzet hingga Rp50 triliun,” imbuh Charles.

Gabungan pengusaha jamu pun menurut rencana akan mulai memasuki pasar Cina pada pertengahan tahun ini. “Awal tahun depan itu sudah harus masuk, apalagi MOU yang menguntungkan kedua negara sudah ditandatangani,” kata Charles, yang merupakan generasi ketiga dari pendiri perusahaan jamu Nyonya Meneer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.