Pasar Para Working Mom Kelas Atas

0
1266

www.marketing.co.id – Pasar wanita pekerja ke depannya akan semakin menjanjikan. Khususnya juga para wanita yang punya karier bagus di perusahaan. Mereka adalah kelompok yang senang produk berkualitas dan bermerek, namun tetap tidak bisa melepaskan diri dari kodratnya: senang menawar dan mengejar diskon.

Pertumbuhan jumlah wanita yang bekerja di Indonesia sejatinya menciptakan pasar wanita yang bekerja. Para working mom ini bisa jadi membentuk segmen baru yang terus bertumbuh dari sisi ukuran pasar. Banyak sekali pasangan muda di kota besar yang memutuskan kedua belah pihak untuk bekerja. Umumnya hal ini disebabkan sang wanita sudah bekerja sebelum menikah. Dengan demikian, sayang sekali jika keluarga baru ini kehilangan sebagian potensi pendapatan. Apalagi jika si wanita punya karier yang gemilang.

Selain itu, dengan adanya istri bekerja juga membuat jaring pengaman pendapatan di keluarga. Apabila suami atau istri mendadak kehilangan pekerjaan, maka keluarga tersebut tidak kehilangan seluruh pendapatan.

Di sisi lain, perekonomian Indonesia yang semakin berkembang juga mendukung adanya lapangan kerja baru yang bisa dimasuki para wanita. Lihat saja bagaimana wanita sudah masuk ke area yang tadinya dikuasai pria, seperti sopir taksi dan penjaga pompa bensin. Pada level perusahaan, wanita juga mulai masuk ke jenjang yang semakin tinggi. Hal ini semakin membuka peluang munculnya working mom baru di Indonesia.

Berbeda dengan para wanita yang memilih menjadi ibu rumah tangga, working mom memiliki beberapa perbedaan perilaku. Khususnya jika kita menyoroti para wanita karier di perusahaan. Mereka sebenarnya sudah menjadi source of income yang independen di keluarga. Mereka memiliki daya beli sendiri yang tidak tergantung pada suami. Pilihan mereka akan merek semakin tidak dipengaruhi oleh pasangan. Apalagi dengan bekerja, wawasan mereka akan merek juga semakin luas. Misalnya saja dalam hal gadget, mereka sudah bisa memahami gadget dengan lebih baik. Hal ini karena mereka sangat intens mempergunakan gadget untuk pekerjaan mereka.

Pada dasarnya working mom memiliki pengaruh positif dan negatif. Di satu sisi working mom bisa menciptakan tingkat stress yang tinggi, ketidakpuasan akan materi maupun ketegangan dalam hubungan. Namun di sisi lain, working mom menciptakan self esteem, status, dan kepuasan dalam hidup.

Self esteem, status, dan kepuasan hidup inilah yang harus diperhatikan oleh para marketer ketika hendak menyasar para working mom. Wanita dengan karier dan pekerjaan yang lebih baik cenderung tidak mau mengonsumsi barang yang sama dengan wanita yang (statusnya dianggap) lebih rendah. Working mom berharap agar status mereka pun bisa tercermin dari merek yang dibeli.

Karena memiliki pendapatan sendiri dan terbiasa dengan iklim kompetisi kerja, para working mom pun cenderung lebih mudah terbuka dalam hal konflik dengan pasangan. Mereka mudah berargumentasi dengan pasangan karena sesuatu hal. Namun, di sisi lain, para working mom ini justru cenderung lebih memanjakan anak dan relatif kurang keras dalam mendidik anak. Ini dikarenakan working mom merasa bersalah atas perhatian yang kurang terhadap anak. Sebagai kompensasinya mereka lebih memanjakan anak mereka.

Survei yang dilakukan oleh Survey One mencoba menyoroti perilaku working mom ini di kota besar seperti Jakarta. Dalam survei ini Survey One mengambil sampel para wanita bekerja berusia di atas 35 tahun. Mereka yang dijadikan sampel juga merupakan wanita yang mapan dalam hal karier dan pendapatan. Dari sisi jenjang karier, mereka menduduki posisi yang bervariasi, mulai dari manajer sampai direktur. Tingkat pengeluaran mereka di luar pengeluaran rutin bulanan minimal Rp 10 juta per bulan. Dengan tingkat pengeluaran sebesar itu, mereka tergolong wanita pekerja di kelas premium.

Bagaimana perilaku para wanita mapan ini? Jika dilihat dari hasil survei, ternyata kebanyakan wanita ini masih menyimpan perilaku yang umumnya dimiliki para wanita. Mereka tetap senang memilih barang diskon, sekalipun mereka menyukai produk dengan merek-merek terkenal. Mereka juga pada dasarnya senang menawar, tidak peduli apa pun status mereka. Diskon dan menawar seolah menjadi perilaku yang melekat pada kebanyakan wanita bekerja ini.

Sekitar 86% dari wanita karier menyatakan bahwa mereka setuju dan sangat setuju jika mereka dikatakan sebagai wanita yang senang menawar. Sejumlah 94% lebih juga setuju dan sangat setuju jika mereka adalah kelompok yang senang menawar produk. Mereka pun tidak setuju jika dikatakan sebagai kelompok konsumen yang boros. Mereka lebih setuju dikatakan sebagai tipe wanita yang hemat. Sekalipun mereka juga pencinta merek-merek terkenal.

Sebagai pekerja, para wanita karier memercayai bahwa penampilan adalah sesuatu yang penting. Mereka juga percaya bahwa wanita itu seharusnya langsing. Itulah sebabnya mereka sebagian besar mengeluarkan rata-rata Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per bulan untuk perawatan tubuh dan kecantikan. Mereka kerap datang ke klinik kecantikan sekalipun sebagian besar tidak berkunjung secara rutin. Demikian pula dengan kunjungan ke SPA, mereka kerap melakukannya.

Dengan penghasilan cukup tinggi yang dimiliki oleh mereka, preferensi merek mereka pun tergolong cukup kuat pada produk-produk bermerek dari luar negeri. Ambil contoh tas misalnya, Louis Vuitton, Chanel, Guci, dan Guess adalah sederet merek asing yang kerap dimiliki oleh mereka. Sementara itu, untuk pakaian ada sederet merek asing dan lokal (namun bercitra asing) yang mereka pakai. Seperti misalnya Executive untuk merek lokal dan Zara untuk merek asing.

Sementara untuk lipstik, merek L’Oréal termasuk merek yang banyak dipakai oleh para wanita pekerja premium ini. Demikian halnya dengan Revlon, Max Factor, dan Ultima.

Akan halnya mobil, sebagian besar wanita karier tersebut ternyata memilih Honda Jazz sebagai merek mobil yang paling sering digunakan. Bentuknya yang kecil namun masih terkesan berkelas menjadi salah satu pertimbangan mereka memilih Honda Jazz.

Hasil riset dari Survey One tahun 2011 lalu, juga menunjukkan bahwa sekitar satu dari enam wanita pekerja di level atas ternyata merokok. Sampoerna Mild Menthol ternyata menjadi merek yang mereka hisap, disusul kemudian dengan Dunhil.

Riset dari Survey One ini hanya menggambarkan sedikit saja dari beragam data yang diperoleh dari riset terhadap kelompok premium. Namun, dari penggambaran tersebut bisa dilihat bagaimana working mom bisa menjadi segmen pasar tersendiri yang layak digarap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.