Percepat Implementasi Metaverse, Startup Arutala Permudah Pelatihan Nakes, Hingga Industri Pertambangan dan Alat Berat

0
815

Teknologi perpaduan VR (virtual reality), AR (augmented reality), dan MR (mix reality) memungkinkan manusia untuk bisa merasakan sensasi berinteraksi di dunia maya layaknya di dunia nyata.

Marketing.co.id – Berita Digital | Istilah “metaverse” ramai diperbincangkan belakangan ini, khususnya sejak CEO Facebook, Mark Zuckerberg mengubah nama perusahaannya menjadi Meta Platforms Inc., atau disingkat Meta pada akhir Oktober 2021 lalu.
Teknologi perpaduan VR (virtual reality), AR (augmented reality), dan MR (mix reality) ini memungkinkan manusia untuk bisa merasakan sensasi berinteraksi di dunia maya layaknya di dunia nyata. Di Indonesia, pakar menyebut Indonesia berpeluang menjalankan metaverse pada 3-4 tahun ke depan.
Pesatnya perkembangan metaverse direspon Kemenkominfo melalui penguatan ekosistem digital dari hulu ke hilir melalui percepatan pembangunan infrastruktur jaringan telekomunikasi. Tak hanya itu, dukungan pemerintah Indonesia dalam menyambut metaverse pun disampaikan Presiden Joko Widodo menyebut metaverse untuk sarana dakwah dan pengajian virtual.
Sejalan dengan perkembangan metaverse, Arutala, perusahaan rintisan berbasis teknologi VR dan AR berkomitmen untuk terus berinovasi dan mempercepat sekaligus memperluas implementasi metaverse di Indonesia. Sepanjang tahun 2021, Arutala berfokus pada kolaborasi VR dan AR di industri teknologi kesehatan, pertambangan, dan alat berat. Perusahaan yang berkantor pusat di Yogyakarta ini telah berhasil mengembangkan produk-produk inovatif bagi berbagai perusahaan di dalam maupun luar negeri.
CEO Arutala Indra Haryadi menjelaskan, “Di Arutala, salah satu nilai yang kami kembangkan adalah teknologi dapat memberikan solusi di berbagai lini sektor kehidupan, salah satunya pelatihan yang bersifat high risk dan high cost. Setelah melakukan riset dan mengamati pola kebutuhan klien, kami berkesimpulan pelatihan yang paling relevan dengan tantangan tersebut adalah di bidang medical dan engineering base. Dengan menciptakan ruang baru melalui teknologi VR dan AR, kita dapat menekan angka risiko dan biaya di pelatihan pada kedua sektor tersebut untuk mencapai hasil yang optimal. Sektor kesehatan sendiri berisiko tinggi bagi pelatihan nakes (tenaga kesehatan) sejak pandemi Covid-19.”
Indra mencontohkan, salah satu kendala pelatihan calon nakes saat pandemi adalah memandikan pasien secara langsung di rumah sakit akibat risiko penularan Covid-19. Dengan menggunakan VR, risiko penularan dapat ditekan karena pelatihan tidak harus dilakukan di rumah sakit.
“Alih-alih harus pergi ke rumah sakit, kami hadirkan rumah sakit kepada para nakes untuk kemudahan praktikum. Tentu hal ini juga dapat meningkatkan efisiensi pelatihan melalui apa yang kita sebut teknologi VR dan AR,” tuturnya.
Hingga saat ini, Arutala menawarkan beberapa servis unggulan di antaranya VR, AR, MR, PC Simulator, hingga 360° Video. Startup yang didirikan pada tahun 2019 ini juga telah memiliki tujuh mitra institusi pendidikan dari tingkat SMK hingga perguruan tinggi dan lebih dari 25 pengembangan produk.
Tak hanya itu, pada tahun 2020 Arutala resmi bergabung dalam program Oculus Independent Software Vendor (ISV). Oculus merupakan anak perusahaan dari Meta yang membuat dan mengembangkan produk alat VR seperti Oculus Quest, Oculus Rift, dan Oculus Go. Melalui kerja sama ini, Arutala memiliki peluang untuk berkolaborasi langsung dengan tim dari Oculus dan membantu adopsi VR di Indonesia maupun kawasan Asia Pasifik.
Meski fokus pada tiga sektor pelatihan, Arutala tetap membuka peluang untuk mengembangkan di sektor lainnya. Beberapa teknologi pengembangan lainnya di antaranya adalah drone passenger VR untuk Frogs Indonesia, virtual store VR untuk Ecodoe, automotive virtual web, Gamelan VR, hingga Artda, yaitu lagu dan tarian nasional anak-anak dalam bentuk AR hasil kolaborasi dengan Lab Sarisworo yang didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
“Arutala memiliki beberapa misi ke depannya, antara lain menjadi menjadi mitra dalam digitalisasi akademik dan vokasi terutama di tingkat SMK dan perguruan tinggi, menjadi pionir pengembangan inovasi metaverse di Indonesia, menjadi mitra riset dan pengembangan di institusi pendidikan dan perusahaaan terutama dalam bidang kesehatan, pertambangan, dan alat berat, mengubah pelatihan yang sifatnya high cost, high risk, menjadi pelatihan yang affordable safe and provide maximum result, dengan teknologi imersif,” papar Indra.
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.