Rejuvenasi di Tangan Generasi Kedua

0
1533

Rejuvenasi di Tangan Generasi KeduaDi bawah komando generasi kedua, salah satu pionir pusat perbelanjaan modern di Indonesia ini mulai menunjukkan sinyal akan bangkit lagi. Strateginya adalah mengembangkan gerai dengan konsep baru dan perluasan segmen pasar.

“Sebagai player kami tidak ingin dikecilkan,” tegas Medina L. Harjani, President Director PT Pasaraya Toserjaya. Bagaimana Pasaraya bertahan di tengah kepungan mal-mal besar.

Too old to fail. Sayang jika Pasaraya sampai kandas. Pasaraya punya sejarah panjang dalam bisnis ritel di Tanah Air. Tahun ini, kata Medina, Pasaraya sudah memasuki tahun yang ke-40. Pasaraya yang berlokasi di Blok M, Jakarta Selatan, pernah menjadi pusat perbelanjaan paling populer di Jakarta dengan tagline-nya “Big and Beautiful”.

Medina mengungkapkan, Pasaraya awalnya didesain sebagai department store, sehingga tidak heran jika Pasaraya sulit bersaing dengan mal-mal besar yang hadir belakangan.

Di sisi lain, gaya hidup masyarakat telah berubah. “Kita agak sulit bersaing karena market life style dulu dan sekarang sudah berbeda. Tapi kita lihat sisi plusnya, selama 40 tahun Pasaraya merupakan satu-satunya local department store yang bisa survive,” tutur Medina yang diwawancarai di kantor Pasaraya Blok M.

Dari penuturan putri Abdul Latief ini—pendiri Pasaraya, kita mengetahui kesulitan Pasaraya bersaing juga disebabkan oleh mismanajemen. Pasaraya sempat dipegang oleh profesional ketika Abdul Latief menjadi menteri di era Soeharto. Medina bergabung ke Pasaraya pada tahun 2009 dan melakukan rejuvenasi sejak 1,5 tahun lalu.

Ada beberapa gebrakan yang dilakukan Medina. Pertama, melakukan reposisi Pasaraya dengan tagline “Pride of Indonesia”. Tagline ini menyiratkan sejarah panjang Pasaraya sebagai pusat perbelanjaan yang menjual produk-produk khas Indonesia, seperti batik dan kerajinan tangan (handycraft). “Sebelum orang ramai-ramai menjual batik kami sudah melakukannya sejak 40 tahun lalu,” tegas dia.

Langkah kedua, memperluas segmen pasar Pasaraya. Awalnya Pasaraya hanya fokus menyasar segmen ekspatriat dan turis mancanegara, karena itu kekuatan Pasaraya ada di produk-produk kerajinan tangan. Belakangan Pasaraya juga memperluas target pasarnya dengan menyasar segmen keluarga. Hal ini terkait dengan perubahan perilaku pengunjung mal. Mereka datang tidak hanya untuk berbelanja, tapi juga mencari hiburan.

“Sejak 1,5 tahun lalu kami melakukan renovasi dan rejuvenasi dengan menciptakan konsep-konsep baru yang unik untuk menyasar segmen family,” jelas dia. Di kategori kuliner, Pasaraya sudah merenovasi food court dan mengubah namanya menjadi “DapurRaya”. DapurRaya cukup sukses dan menjadi salah satu tujuan kuliner favorit di selatan Jakarta.

Telah hadir pula gerai Bike Center yang diklaim sebagai pusat penjualan sepeda terbesar di Jakarta, dengan luas lahan 600 meter persegi. Lalu, untuk segmen anak-anak tersedia Pinisi Edutainment Park. Pinisi merupakan wahana edutainment yang merefleksikan keanekaragaman seni dan budaya Indonesia. “Kami mengenalkan budaya Indonesia kepada anak-anak, membatik, belajar wayang, dan alat musik tradisional. Seperti kata founder kami Pak Latief, bisnis harus ada sisi idealismenya,” tegas Medina lagi.

Di Pasaraya kini juga sudah bercokol gerai Al Madina. Al Madina awalnya hanya berupa area penjualan busana muslim yang berada di lantai dua Pasaraya. Sekarang Al Madina sudah menjadi gerai tersendiri dengan luas 1.300 meter persegi di lantai dasar.

Dengan mengembangkan gerai Al Madina, Pasaraya ingin memanjakan para pencinta fashion muslim. Segmen tersebut, menurut Medina, selama ini masih dianggap sebagai “warga kelas dua” oleh para peritel. Hingga saat ini ada 60 desainer yang bergabung dengan Al Madina. “Al Madina targetnya hijabers yang love fashion. Kami ingin seperti Zara, tapi versi muslimnya,” tandas dia.
Medina menjelaskan, Pasaraya sudah melakukan tes pasar sejak tahun 2013, dan hasilnya cukup mengejutkan dengan meraup penjualan sekitar Rp5 miliar. Al Madina baru diluncurkan awal Juni lalu. Tahun 2014, penjualan Al Madina diharapkan bisa tumbuh 30%, atau menjadi Rp6,5 triliun.

Terkait ekspansi pihaknya tidak akan menambah unit baru Pasaraya di luar Pasaraya Blok M dan Manggarai, karena dibutuhkan investasi yang besar. Pihaknya justru tertarik mengembangkan gerai-gerai milik sendiri. Gerai seperti Al Madina, DapurRaya, dan Pinisi akan ditawarkan ke investor lain. Sudah ada investor yang tertarik mengelola gerai-gerai tersebut dengan konsep waralaba. Namun, Medina belum bisa memenuhi permintaan tersebut karena masih melihat perkembangannya hingga tahun depan.

Alatief Corporation, induk Pasaraya, bukan tidak melakukan investasi besar-besaran. Alatief Corporation saat ini tengah menyelesaikan proyek Menara Sentraya melalui salah satu anak usahanya, PT Tata Disantara. Menara Sentraya merupakan gedung perkantoran 38 lantai dan menempati lahan seluas 8.605 meter persegi.

Jika telah rampung, pastinya proyek tersebut akan memperkuat posisi Pasaraya, karena akan menciptakan konektivitas antara gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan. Jadi, alih-alih menjual Pasaraya kepada investor—sebagaimana dituturkan Medina, cukup banyak investor yang mengincar lahan Pasaraya Blok M—Alatief Corporation lebih tertarik melakukan rejuvenasi dan revitalisasi.

Begitu pun dengan Pasaraya Manggarai. Dalam wawancara tersebut Medina menepis isu Pasaraya Manggarai akan ditutup. Justru pihaknya berencana merenovasi Pasaraya dan membangun proyek properti di sana. “Lahan sudah ada di sekitar Pasaraya, kami akan realisasikan 1,5 tahun lagi,” jelasnya.
Foto: Lilyanti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.