Rsch Konsiten Menjaga Image

0
7579
Ridho Slank, salah satu influencer Ouval Reseach (Rsch)
Mohamad Rizki Yanuar - Owner Ouval Research (Rsch)
Mohamad Rizki Yanuar – Owner Ouval Research (Rsch)

Dalam beberapa bulan terakhir, harga bahan bakar minyak (BBM) kurang stabil. Sejak Oktober 2014 sampai Maret 2015, harga BBM sudah lima kali mengalami penyesuaian, baik naik maupun turun.

Pada November 2014, pemerintah menaikkan harga BBM, lalu diturunkan pada Januari 2015. Harga BBM kembali turun pada pertengahan Januari 2015.

Dan, awal Maret 2015, harga BBM kembali turun. Di penghujung Maret 2015, pemerintah kembali menaikan harga BBM.

Tentunya, kondisi tersebut akan memengaruhi semua lini ekonomi, terutama dunia bisnis. Naiknya harga BBM memberi dampak cukup besar terhadap biaya produksi.

Bahan baku naik, ongkos angkut melonjak, karyawan minta naik gaji, dan akhirnya membuat marjin bisnis mengecil.

Di sisi lain, daya beli masyarakat semakin menurun. Hal ini mengakibatkan tidak terserapnya semua lini produksi, sehingga secara keseluruhan akan menurunkan penjualan.

Oleh karenanya, marketer harus mencari cara-cara baru untuk menjaga stabilitas bisnis. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menjaga kualitas produk agar tetap diminati konsumen.

Ouval Research (Rsch) misalnya, merek asal Bandung ini memang tidak pernah lelah dan kehabisan ide untuk berkreasi dan berkembang. Inovasi mereka bisa kita lihat dari produk fashion yang mereka hasilkan, sangat variatif.

Desain yang ditawarkan Rsch memang berbeda dibanding kompetitornya. Rsch lebih mengarah pada contemporary design. Mungkin itu juga yang membuat mereka bisa tetap eksis bahkan besar sampai sekarang.

Selain meningkatkan kualitas produk, marketer juga harus memperkuat merek mereka untuk menjaga loyalitas konsumen.

Tak bisa dimungkiri, bila brand image cukup memengaruhi psikologis konsumen, sehingga tak mengherankan jika konsumen rela mengeluarkan uang lebih demi mendapatkan produk dengan merek terkenal.

Mohamad Rizki Yanuar, pemilik merek Rsch mengatakan bahwa brand image sangatlah penting.

Untuk memperkuat brand image, ia menuangkan ke dalam konsep design yang jelas dan melakukan aktivitas branding tepat sasaran. Misalnya, mensponsori Java Jazz Festival 2015 dan yang terbaru konser Mew.

Setiap marketer tentu dapat memprediksi kapasitas pasar, besaran pertumbuhan namun tetap mempertimbangkan faktor macro demand dan micro demand.

Macro demand memperhitungkan kondisi ekonomi makro yang bakal mempengaruhi purchasing power.

Artinya, kondisi makro buruk akan menurunkan daya beli, maka pasar yang sangat dipengaruhi kondisi makro secara hitungan di atas kertas pasti akan mengalami koreksi.

Lain halnya dengan micro demand. Jika macro demand melihat dari sisi purchasing power, maka micro demand menghitung peluang secara lebih detail dengan mempertimbangkan keadaan kejenuhan saat ini.

Dalam micro demand, marketer mempertimbangkan apakah masih ada pasar yang belum dipenetrasi.

Pasar yang jenuh akan sangat mempengaruhi kondisi makro. Tapi, dalam pasar yang belum jenuh, sekalipun terpengaruh kondisi makro, masih bisa dicari sumber-sumber pertumbuhan baru.

Tentunya, sumber-sumber pertumbuhan dapat dikejar dengan meluncurkan produk-produk baru yang lebih sensible dengan kondisi makro yang menurun atau dengan memasuki pasar yang belum tergarap.

Saat ini, Rsch sedang bersiap memindahkan lokasi cabangnya di Jogja ke tempat yang lebih luas dan strategis karena pengunjung semakin membludak. Bukan itu saja, Rsch juga sedang bersiap membuka cabang baru di Malang.

Feeling saya mah bagus untuk Malang, basic komunitasnya juga bagus,” tutur Rizki dengan nada khas Sundanya.

Ridho Slank, salah satu influencer Ouval Reseach (Rsch)
Ridho Slank, salah satu influencer Ouval Reseach (Rsch)
Rizki patut berbangga karena setiap tahun, Rsch mengalami pertumbuhan di atas 30%. Tahun ini Rsch menargetkan pertumbuhan bisnis di atas 50%.

Ada tidaknya target pertumbuhan sangat ditentukan di mana industri dan kapabilitas kita sekarang berada.

Bagi marketer kebanyakan, krisis merupakan kesempatan untuk melakukan konsolidasi. Namun, bagi beberapa marketer, krisis dianggap sebagai peluang untuk melakukan re-targeting dan repositioning.

“Apapun keadaannya, selalu ada kesempatan untuk mempertahankan keadaan. Intinya adalah konsisten,” kata Rizki.

Editor: Lutfi Jayadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.