Bekal Keluarga Bahagia Dimulai dengan Perbaiki Hubungan Suami Istri di Masa Lalu 

0
610

tips keluarga bahagia, tips mengasuh anakMarketing.co.id – Berita Lifestyle | Seperti yang kita ketahui, pola pengasuhan pada anak dapat dipengaruhi berbagai faktor kehidupan. Salah satunya melalui hubungan suami istri di masa lampau, bahkan ketika di masa kecil.
Nyatanya, belum semua orang tua menerapkan pola asuh yang cukup baik untuk tumbuh kembang si kecil di rumah, di antaranya seperti pola asuh dengan kekerasan, baik itu secara verbal maupun non verbal serta banyak terjadi konflik antar orang tua di depan anak. Sering kali hal ini tidak disadari dapat menimbulkan kecemasan dan trauma yang terdalam bagi sang anak.
Untuk Membahas topik terkait pola pengasuhan pada anak yang dipengaruhi hubungan suami istri di masa lampau, Tentang Anak, ekosistem parenting dan tumbuh kembang anak, menggelar acara webinar pada Kamis, 20 Januari 2022, lalu bersama Dr. Adriana Soekandar Ginanjar, M.Sc., Psikolog dan Konselor Pernikahan. Webinar ini dimoderatori dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, dokter spesialis anak yang juga founder Tentang Anak Official.
Kenali jenis trauma dalam berumah tangga 
Dalam webinar tersebut, Dr. Adriana menjelaskan, terdapat beberapa jenis trauma yang dialami oleh manusia, khususnya ketika berumah tangga. Trauma-trauma ini harus dikenali lebih awal agar kedepannya orang tua dapat memproses trauma menjadi bentuk emosi yang baik. Ketika dapat memproses emosi, tentunya akan membawa dampak yang lebih baik ke sekitar atau keluarga terdekat.

  • Trauma akut: terjadi satu kali tetapi secara intens. Seperti adanya perceraian, bencana alam, pelecehan seksual, yang terjadi di masa lampau atau masa kecil.
  • Trauma kronis: terjadi berulang kali dalam jangka waktu yang panjang seperti mendapatkan kekerasan dari orang tua atau orang sekitar, bullying, melihat kekerasan dan konflik orang tua.
  • Trauma kompleks: kejadian yang beragam terdiri dari kejadian traumatis yang berbeda-beda.

Jika tidak diperbaiki, trauma di masa lampau ini dapat terus menghantui kehidupan sehari-hari kita sebagai orang tua. Bahkan, dapat berdampak pada pola asuh ke anak kita saat ini. Tentu kita sebagai orang tua tidak menginginkan hal yang sama atau hal yang buruk terjadi turun temurun ke anak kita.
“Adapun beberapa faktor yang juga dapat melatarbelakangi anak rentan terkena trauma dalam kehidupan. Seperti sifat anak yang terlalu tertutup, orang tua yang tidak memahami anak, dan orang tua yang seringkali merasa paling tahu atau paling benar,” ujar Dr. Adriana menegaskan.
Maka dari itu, yang dapat dilakukan sebagai orang tua agar dapat menghindari anak memiliki trauma dari rumah tangga, orang tua harus:

  • Mengenal anak lebih baik, terbuka dengan anak agar anak juga dapat berkomunikasi dengan orang tua
  • Hormati anak dari kecil dengan menghargai keputusan anak atau tidak menuntut anak terlalu sering
  • Ajarkan anak bersuara dan berpendapat di setiap kondisi, dapat dimulai dari hal-hal kecil yang ditemukan di keseharian
  • Orang tua sebagai detektif, dalam artian terus mencari tahu apa yang anak butuhkan
  • Mindful parenting: orang tua untuk mencerna dan mempelajari emosinya agar dapat membuahkan perilaku yang baik juga kepada keluarga

Mesty menambahkan, penting bagi orang tua untuk dapat mengenali dirinya sendiri dan pasangan terlebih dahulu sebelum membantu kebutuhan anak. Tidak ada salahnya juga berkonsultasi dengan ahlinya agar bisa mendapatkan masukan untuk setiap permasalahan yang ditemukan.
“Dengan hadirnya Tentang Anak di Indonesia, kami berharap dapat membantu lebih banyak orang tua dalam melengkapi setiap kebutuhan sehari-hari di rumah tangga. Mulai dari memonitor kesehatan anak hingga kebutuhan mental keluarga melalui konsultasi gratis dengan ahlinya, yaitu dengan para psikolog dan child educator,” terang dr Mesty.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.