Tidak Segera Diwaralabakan

0
980

Ayam Bakar Mas Mono bersiap menjadi pesaing kuat rumah makan cepat saji asing. Merek ini bersiap merangsek ke pasar luar negeri.

Bisnis makanan bisa dibilang bisnis yang tidak akan pernah mati sampai kapan pun. Tidak heran jika setiap hari selalu muncul pemain baru yang menjajal peruntungan di jenis usaha ini. Namun, meski bisnis ini menyediakan kebutuhan primer manusia, bukan berarti tidak ada pebisnis yang gagal saat melakoninya.

Tentu ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Mulai dari pemilihan lokasi hingga rasa makanan itu sendiri. Penyebab lainnya, bisa jadi karena salah pengelolaan sumber daya manusia dan mungkin tidak tepat dalam pemilihan model ekspansi pasar.

Mengenai pengembangan atau ekspansi pasar, para pengusaha saat ini bisa memilih antara mengembangkan dalam satu payung kepemilikan atau mewaralabakan bisnisnya. Pada industri makanan, ada ribuan jenis usaha yang diwaralabakan. Dari usaha yang berskala lokal, hingga internasional ada di negara kita; mulai dari yang menjual makanan ringan, restoran berciri khas makanan daerah, dan tentu saja makanan ala Barat.

Pertumbuhannya pun sangat tinggi. Hampir tiap bulan muncul bisnis waralaba jenis makanan. Bahkan, merek-merek usaha yang belum genap seumur jagung pun sudah ditawarkan untuk diwaralabakan. Sehingga, banyak juga yang rontok di usaha makanan ini.

Hal berbeda dilakukan oleh Ayam Bakar Mas Mono. Ketika terjadi euforia waralaba di awal tahun 2000-an, pemilik merek ini belum terpikir untuk mewaralabakan bisnisnya. Pemilik merek ini malah memilih mengembangkan sayap dengan cara lama, mengandalkan modal sendiri.

“Sebenarnya, desakan untuk melakukan waralaba saat itu sudah ada. Namun, saya merasa belum tepat waktunya untuk memilih pengembangan bisnis lewat cara itu. Lagipula, saya masih lebih mantap dengan model satu kepemilikan. Walaupun, sejak itu juga saya sudah mulai mencoba mengenal konsep waralaba,” kata A. Pramono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono yang biasa disapa Mas Mono.

Ayam Bakar Mas Mono berdiri pada tahun 2001. Artinya, baru sembilan tahun kemudian—atau tahun ini—Pramono memulai mewaralabakan usaha ayam bakarnya, usaha yang merek dagangnya diambil dari panggilan akrab pria yang dulunya berprofesi sebagai office boy ini.

Setelah diwaralabakan, perkembangan usaha ini bisa dibilang lumayan pesat. Kurang dari setahun, sudah ada sekitar 10 gerai baru dibuka dengan model waralaba. Rencananya ada sekitar 50 gerai lagi yang akan dibuka di berbagai pelosok negeri ini. “Begitu orang tahu kalau Ayam Bakar Mas Mono diwaralabakan, banyak yang lalu meminta untuk menjadi penerima waralaba (franchisee),” kata Pramono.

Kebanyakan yang menjadi franchisee adalah para pelanggan dari rumah makan ini. Tapi, ada pula yang memang tertarik karena ingin menginvestasikan uang mereka. Menurut Pramono, mereka tertarik menjadi franchisee Ayam Bakar Mas Mono karena bisnis ini berkembang dan bisa berlangsung untuk jangka waktu lama, meski persaingan sangat ketat.

Pesaing Restoran Asing

Bicara mengenai persaingan, Ayam Bakar Mas Mono memosisikan diri  sebagai pesaing kuat dari merek-merek usaha makanan cepat saji asing. Apalagi, setelah menguatkan diri di dalam negeri, Pramono sudah membidik luar negeri sebagai pasarnya.

“Kalau makanan asing yang menjadikan ayam sebagai menu utama bisa berkembang di sini, kenapa yang asli Indonesia tidak bisa? Dan sangat mungkin mampu berkembang juga di luar negeri. Saat ini, Ayam Bakar Mas Mono sudah ada di Jepang. Semoga di negara lain menyusul,” kata Pramono.

Keberanian ada disebabkan oleh kematangan konsep dari rumah makan ini; mengusung diferensiasi sebagai rumah makan khusus ayam bakar yang menggabungkan unsur tradisional dan modern. Sementara dalam soal rasa, yang membedakan Ayam Bakar Mas Mono dengan rumah makan sejenis adalah penggunaan sambal terasi yang jarang dipakai oleh lainnya. Pembuatan sambal dan bumbu lain pun dilakukan terpusat, sehingga ada keseragaman rasa di semua gerai Ayam Bakar Mas Mono.

Ayam Bakar Mas Mono membidik pasar anak muda sebagai target penting. Meski pada dasarnya, mereka menarget semua level konsumen, dari usia muda hingga tua, dari individu hingga keluarga. Sedangkan, tagline dari rumah makan ini adalah, “Enak Dimakan dan Perlu”.

“Kalau segmen konsumen, kami menarget semua kelompok konsumen. Tapi, saya mencoba mengembangkan image yang dekat dengan anak muda, karena daya beli anak muda juga cukup kuat,” terang Pramono lagi.

Kalau dilihat sejarahnya, memang usaha milik Pramono ini tumbuh dan berkembang di kampus-kampus. Cabang pertama yang dibuka berada di kawasan Tebet yang menjadi pusat nongkrong anak muda. Lalu, dalam pengembangannya, beberapa outlet pun dibuka di dekat kampus atau sekolah. Ada juga yang berada di pusat-pusat bisnis, tapi bukan perkantoran. Karena menurut Pramono, perkantoran hanya ramai di saat makan siang, dan itu pun terjadi di hari kerja saja.

Ketika mengembangkan usahanya melalui waralaba, Pramono menggandeng Babarafi, sebuah perusahaan yang menaungi beberapa usaha yang diwaralabakan. Babarafi-lah yang mengurusi hal-hal teknis terkait waralaba, termasuk juga melakukan komunikasi kepada para calon penerima waralaba. Salah satu caranya dengan mengikuti pameran-pameran dan lainnya.

Nilai waralaba yang ditawarkan Ayam Bakar Mas Mono sekitar Rp 500 juta, dengan perkiraan bisa kembali modal antara 12–18 bulan—karena diasumsikan setelah 15 bulan, omzet sebuah outlet akan mencapai Rp 180 juta per bulan.

Sekarang ini, Ayam Bakar Mas Mono menggandeng sekitar 20 supplier yang menyediakan berbagai kebutuhan. Sembilan di antaranya adalah penyuplai ayam potong. Hal ini menguatkan bahwa untuk melakukan waralaba, pebisnis tidak saja sekadar menyiapkan sistem, tapi juga banyak hal lainnya. Jadi, kalau ada usaha yang baru buka lalu tiba-tiba diwaralabakan, kita harus teliti dengan jeli betul sebelum memilihnya. (www.marketing.co.id/Ign. Eko Adiwaluyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.