Tekad + Kemauan + Kerja Keras = Sukses

0
2908

Orang bijak mengatakan, di mana ada niat pasti terbentang jalan. Yoki Ferdian rela meninggalkan Bukit Tinggi untuk membuktikan pepatah itu.

Selepas SMU pada tahun 2003, bersama beberapa rekan, Yoki Ferdian mengadu nasib ke Jakarta. Hanya berbekal Rp700 ribu ia mendatangi pusat perbelanjaan Tanah Abang.

Dalam hitungan hari bekalnya habis. Untuk bertahan hidup ia menjadi penjaja asongan dan pengamen jalanan.

Di antara kebisingan kota, saat lelah dan cemas mendera, Yoki termenung, ia mulai teringat alasannya merantau. Tujuannya datang ke Jakarta adalah mencari kesuksesan, bukan sekadar bertahan hidup.

Ia kemudian menyadari, walau berat, Jakarta selalu menyediakan tempat bagi orang yang bekerja keras. Jika ia fokus  pada sesuatu bidang, bukan tidak mungkin dirinya berhasil mendulang emas.

Niatnya kembali bulat. Yoki memutuskan menjadi “tukang kantau” bahan tekstil stok lot di Pasar Tanah Abang.

yoki-ferdian-owner-yoya-hijab
Yoki Ferdian, Owner Yoya Hijab

Bermodal sampel bahan tekstil yang dibawa dari gudang, Yoki menawarkan dagangannya ke setiap toko. Profesi ini pula yang mempertemukannya dengan sang istri, Yani Putri.

Profesi Yoki sebagai tukang kantau membuat kehidupannya berangsur membaik. Karena itu Yoki menancapkan tekad mendalami profesi ini.

Di berbagai kesempatan, Yoki bertanya dan belajar dari para senior. Mulai dari mengenal jenis-jenis bahan, menelusuri gudang yang menjual tekstil, ke mana harus memasarkan, hingga bagaimana cara menawarkannya.

Bahkan, ia tak segan menjajakan ke toko-toko sambil menggotong bahan yang masih dalam gulungan.

Tanpa terasa, delapan tahun Yoki melakoni profesi itu. Pengalaman sebagai tukang kantau membuatnya dikenal banyak orang. Sejak itu, tebersit dalam dirinya menjalani usaha sendiri. 

Pucuk di cinta ulam tiba, keinginan usaha sendiri datang tanpa terduga. Pada tahun 2012, Yoki mendapat kepercayaan membawa bahan tekstil dan membayarnya setelah laku.

Bersama istrinya, Yoki memanfaatkan bahan itu dengan membuat hijab bermerek “Yoya” alias Yoki dan Yani.

Tahap awal, Yoki hanya sanggup membuat 80 hijab yang kemudian dijual di lapak atau di emperan toko.

Yoki sadar, seperti halnya dulu ia memulai pekerjaan sebagai tukang kantau, perjalanan bisnis yang ia tekuni saat ini juga tidak mudah. Tapi, Yoki yakin bisnisnya akan berhasil bila dijalani sepenuh hati.

Kesulitan datang bertubi-tubi. Selain harus pindah-pindah lokasi, variasi barang yang ditawarkan sangat terbatas sehingga ia kalah bersaing.  

Wah, jangankan dibeli, dilirik pun tidak. Apalagi bahan yang saya jual itu jarang digunakan pedagang pada umumnya,” kata Yoki mengenang.  

Tapi, itu tak menyurutkan niatnya. Yoki terus berusaha tanpa lelah mengenalkan produknya ke pembeli. Jika ada modal, ia berupaya menambah variasi produk.

Salah satu toko Yoya Hijab di Tanah Abang
Salah satu toko Yoya Hijab di Tanah Abang

Perjuangannya tidak sia-sia. Pelan tapi pasti, produknya mulai dikenal. Beberapa kali ada pembeli yang langsung memborong lantaran hijab yang diproduksinya terbilang unik dan jarang dijual pedagang lain. Sejak itu, dua minggu sekali, Yoki mengeluarkan motif baru.

Bisnis hijabnya semakin berkembang. Permintaan pelanggan terus meningkat hingga beberapa kali Yoki kewalahan menerima permintaan. Tak pelak, Yoki harus meningkatkan produksi.

Untuk menambah modal produksi, Yoki menggadaikan motor ke bank. Akhirnya, permintaan yang membeludak itu lambat laun terpenuhi.

Yoki meraih omzet hingga Rp70 juta setiap bulan. Lalu, agar omzet meningkat, Yoki menyewa lapak di Pasar Tasik Thamrin City.

Meski bisnis yang dijalankannya terbilang muda, Yoki telah berhasil meluluhkan hati konsumen lokal dan mancanegara.

Lebih dari 20% pelanggannya berasal dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, dan Brunei Darussalam. Kini, omzet bisnisnya mencapai Rp1 miliar lebih setiap bulan.

Demi menggenjot penjualan, Yoya Hijab juga merambah dunia digital. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat akun Facebook dan website www.yoyahijab.com.

Lewat dunia digital itu, Yoki mencoba mengenalkan produknya lebih jauh lagi, di samping menggaet pelanggan baru.

Bukan itu saja, melalui media sosial dan website, Yoki berharap bisa memberikan edukasi terhadap muslim dan muslimah yang ada di Indonesia.

“Media digital Yoya Hijab berisi artikel-artikel renyah yang bersifat informatif,” jelas Yoki.

Meski baru beberapa bulan aktif di media sosial, saat ini akun Facebook Yoya Hijab sudah menembus angka lebih dari 54.933 like.

Tentunya angka tersebut sangat fantastis bagi pemain baru di dunia maya. Yoki menuturkan, dari online saja omzet yang didapatkan bisa mencapai Rp100 juta setiap bulan.

Memang, omzet dari online yang diperolehnya masih jauh dibandingkan dengan penjualan secara offline. Namun, dia menargetkan ke depannya omzet online dan offline bisa sama atau bahkan lebih.

“Kami optimistis nantinya penjualan secara online bisa melebihi penjualan offline, setidaknya bisa sama dengan omzet dari penjualan offline. Maka dari itu kami akan lebih serius lagi menggarap pasar online,” tandas Yoki.

Sejauh ini, Yoya Hijab sudah memiliki tiga gerai yang berlokasi di Thamrin City. Yoki dan Yani ingin sekali memiliki gerai di luar negeri.

Tapi, saat ini mereka lebih memilih fokus menggarap pasar dalam negeri dan hanya me-maintain re-seller mereka di luar negeri.

Nasib hanya bisa diubah oleh orang itu sendiri dengan tekad kuat, kemauan, dan kerja keras. (CS/YM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.