Portal Lengkap Dunia Marketing

                                                                                                               
Marketing

Ubah Haluan dari Generik ke Consumer Healthcare

Beda pemimpin, beda pula gaya kepemimpinannya. Itulah yang dilakukan Michael Wanandi sebagai generasi kedua yang menakhodai PT Combiphar. Seperti apa strategi yang diusungnya?

consumer healthcare

Michael Wanandi, Presiden Direktur PT Combhipar

Gaya kepemimpinan atau leadership dari seseorang yang berada di puncak tertinggi sebuah perusahaan sudah pasti menjadi penentu baik buruknya kinerja perusahaan tersebut. Apabila berbicara mengenai perusahaan keluarga, sudah barang tentu ada generasi pertama sebagai perintis dan generasi selanjutnya yang meneruskan kiprah pendahulu. Akan tetapi, meski dalam satu garis keturunan bukan berarti setiap pemimpin memiliki gaya yang serupa. Langkah atau strategi dari tiap generasi berbeda mengikuti perkembangan zaman.

Begitu pula yang dialami Michael Wanandi, Presiden Direktur PT Combiphar. Meskipun menjadi putra dari Biantoro Wanandi, Pendiri PT Combiphar, tidak lantas dirinya instan menggantikan sang ayah. Baru di tahun 2011 Michael menempati posisinya saat ini. Sebelumnya ayah tiga anak ini bekerja di salah satu perusahaan asing, UBS Investment Bank.

Selang dua tahun—tepatnya pada pertengahan tahun 1999, Michael mulai bergabung dengan salah satu perusahaan keluarga, PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL) sampai tahun 2005. Selanjutnya, pada tahun 2005–2008, dia membantu induk perusahaan, Anugerah Corporation. Bergabung di Combiphar sendiri baru dilakukan pada tahun 2008 dengan menjabat sebagai salah satu direktur. Barulah pada tahun 2011, Michael secara resmi menerima tawaran untuk menakhodai Combiphar dengan ditunjuk sebagai presiden direktur.

“Alasan penolakannya sederhana, saya belum siap dan belum mengenal industri farmasi secara mendalam, karena latar belakang pendidikan saya sendiri IT dan finance,” ujar peraih gelar Master of Science in Industrial Administration (MSIA) Concentration in Management Information System, Carnegie Mellon University, Pittsburg, AS, yang sebenarnya sudah lama ditawari untuk memimpin Combiphar.

Menyadari bahwa industri kesehatan mulai mengalami perubahan tren yang signifikan, Michael melihat celah untuk membawa laju perusahaan Combiphar ke arah yang lebih tepat. “Saya mulai me-review posisi dan strategi perusahaan, membuat proyeksi tantangan dan peluangnya ke depan, dan apa saja yang harus dilakukan untuk menjaga bisnis berkembang,” terangnya.

Segera transformasi bisnis pun dilakukan dari sebuah perusahaan farmasi lokal generik menjadi perusahaan consumer healthcare. Bagi Michael, keputusan ini tentunya tidak mudah dilakukan dan konsekuensi yang dihadapi sangat kompleks. Namun, berbekal kepercayaan yang diberikan oleh para pemegang saham dan tentunya dukungan dari seluruh karyawan, Michael optimistis meneruskan perjalanan Combiphar menuju era baru, mulai akhir tahun 2012. “Sebuah transformasi yang besar dalam perjalanan bisnis Combiphar, dari yang semula fokus ke farmasi, menjadi consumer healthcare yang modern,” ujar dia.

Wujud nyata strategi ini adalah mengembangkan banyak produk baru dan membidik target pasar usia produktif. Dari sisi pengembangan merek, Michael dan timnya juga gencar memperkenalkan merek korporat Combiphar yang menurut dia belum terlalu tinggi awareness-nya. Selain itu, dia juga merangkul basis komunitas sebagai target dari campaign hidup sehatnya.

Komunitas-komunitas yang terbagi menjadi dua lini yakni pendidikan dan kesehatan ini dibuatkan program berkala misalnya Combi Run, Combi Mom, dan Combi Health Forum serta Combi Hope. Dari sisi internal perusahaan, pada tahun 2012 Michael pun melakukan perubahan logo sebagai bagian dari branding. Bekerja sama dengan konsultan branding terkemuka, logo perusahaan yang semula berwarna hijau didesain menjadi warna ungu yang berkesan lebih segar, dinamis, dan modern.

Tidak ketinggalan dari segi SDM, kesiapan dan transformasi mindset dari perusahaan generik ke consumer healthcare pun gencar dilakukan melalui training kepada 1.400 karyawan. “Yang semula memfokuskan pada membangun hubungan dengan dokter, menjadi komunikasi yang strategis kepada konsumen langsung. Sumber daya manusia adalah aset terpenting dalam transformasi yang dilakukan Combiphar. Untuk itu, kami banyak melakukan koordinasi dan diskusi untuk menyamakan persepsi terhadap misi, visi, dan value baru perusahaan. Kami mengalokasikan investasi yang cukup besar untuk pengembangan diri karyawan baik yang dilakukan internal maupun eksternal,” ungkapnya.

Transformasi perusahaan ke consumer health ini juga tidak mengesampingkan perspektif konsumen. Untuk itu ia membangun manajemen layanan konsumen dengan mendirikan Combi Care Center sebagai salah satu touch point dengan pelanggan yang langsung dan interaktif. Sedangkan untuk relasi dengan apotek yang menjadi mitra combiphar, Michael memiliki program My Apotik. Melalui program ini, apotek-apotek mitra akan mendapat keistimewaan layanan khusus yang disesuaikan seperti prioritas order, eksklusif product launching, serta eksklusif merchandise.

“Saya ingin Combiphar diakui sebagai perusahaan consumer healthcare terkemuka dengan pertumbuhan tinggi setiap tahunnya, di atas rata-rata pertumbuhan industri. Namun, yang lebih penting adalah saya ingin Combiphar dikenal sebagai perusahaan lokal yang konsisten mengajak masyarakat untuk hidup sehat, dan berkomitmen tinggi membangun bangsa dan generasi penerus Indonesia yang lebih sehat,” selorohnya.

Meski demikian, di tengah seabrek perencanaan dan program, pria berusia 48 tahun ini enggan merasa penat. Ia kerap menjadikan pekerjaannya sebagai challenge. Bahkan, tak jarang Michael turun langsung berdialog dengan para karyawannya melalui program employee engagement, Combi Coffee Break yang rutin diadakan setiap bulan. Selanjutnya, ia lebih menyukai mengajak anak-anaknya menikmati golf yang menjadi hobinya.

Angelina Merlyana ladjar

MM072016/W

Michael Wanandi, Presiden Direktur PT Combiphar

  • Memegang tampuk pimpinan di PT Combiphar sejak tahun 2011

Strategi yang diusung:

  • Melakukan transformasi bisnis. Dari yang semula fokus ke farmasi, menjadi consumer healthcare yang modern.
  • Mengembangkan banyak produk baru dan membidik target pasar usia produktif.
  • Gencar memperkenalkan merek korporat Combiphar.
  • Merangkul basis komunitas sebagai target dari campaign hidup sehat.
  • Melakukan perubahan logo perusahaan sebagai bagian dari branding.
  • Mendirikan Combi Care Center dan program My Combi World.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

To Top